Kota Beograd | Gelombang unjuk rasa yang digerakkan mahasiswa memenuhi pusat Beograd pada Kamis malam, menghadirkan sekitar 150.000 orang menjelang pemilihan parlemen yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu. Jumlah peserta tersebut dilaporkan oleh Archive of Public Gatherings, kelompok pemantau independen yang mencatat kegiatan publik. Skala kehadiran itu menjadikan demonstrasi ini salah satu mobilisasi massa paling menonjol dalam suasana politik Serbia menjelang pemungutan suara. Sejak malam tiba, warga berkumpul di Alun-alun Slavija dan kawasan sekitarnya, membentuk lautan manusia di ruang kota utama. Banyak peserta datang dengan membawa bendera dan atribut yang menyuarakan dukungan terhadap gerakan mahasiswa serta tuntutan perubahan politik di tingkat nasional.
Di tengah kerumunan, bendera bertuliskan “Mahasiswa sedang menang” tampak diangkat oleh para peserta. Massa meneriakkan yel-yel, sementara para demonstran berkumpul di alun-alun dan memenuhi ruas-ruas di sekitarnya. Gambaran tersebut menunjukkan besarnya keterlibatan publik dalam aksi yang dipimpin mahasiswa, beberapa hari sebelum warga memberikan suara. Perkiraan sekitar 150.000 orang dari Archive of Public Gatherings memberikan ukuran tentang skala demonstrasi, meski angka itu merupakan catatan kelompok pemantau independen. Kehadiran massa dalam jumlah besar juga menempatkan aksi Beograd sebagai sorotan menjelang pemilu, ketika perhatian tertuju pada persaingan politik dan kekuatan gerakan yang berupaya menantang pemerintahan.
Demonstrasi ini menjadi tantangan terbuka bagi Presiden Aleksandar Vucic dan Partai Progresif Serbia (SNS), yang telah berkuasa sejak 2012. Waktu penyelenggaraannya, tepat menjelang pemilihan parlemen, memberi aksi tersebut bobot politik tersendiri. Mobilisasi mahasiswa dan besarnya jumlah peserta memperlihatkan bahwa ketidakpuasan terhadap kekuasaan dapat hadir di ruang publik dalam skala luas. Namun, unjuk rasa itu berlangsung sebagai tekanan politik menjelang pemungutan suara; hasil pemilu pada Minggu tetap akan menjadi penentu formal arah parlemen berikutnya. Bagi Vucic dan SNS, pemandangan massa di Slavija menjadi pengingat bahwa dominasi mereka menghadapi tantangan dari kelompok mahasiswa dan pendukungnya. Bagi para demonstran, aksi tersebut menjadi kesempatan untuk menyampaikan pesan secara terbuka, sebelum perhatian publik beralih ke proses pemilihan dan hasilnya.
Student List mengusung kandidat-kandidat yang mendapat dukungan mahasiswa, dengan tujuan mengakhiri dominasi SNS yang telah berlangsung selama lebih dari 14 tahun. Gerakan ini menawarkan pilihan politik yang bertumpu pada para kandidat tersebut dan dukungan mahasiswa terhadap mereka. Dengan demikian, gagasan perubahan yang dibawa Student List terkait langsung dengan upaya menghentikan dominasi partai penguasa Serbia dalam rentang waktu yang panjang itu. Gerakan ini tidak sekadar menghadirkan nama-nama kandidat, tetapi juga menjadi wadah bagi dukungan mahasiswa untuk mendorong perubahan politik. Sasaran yang dinyatakan adalah mengakhiri dominasi SNS, sementara kandidat yang diusung merupakan kandidat-kandidat yang didukung mahasiswa.
Harapan terhadap perubahan itu tampak dalam pengalaman Marija Nedeljkovic Radic, 47 tahun. Ia mengatakan bahwa dirinya datang untuk mendukung daftar mahasiswa. Alasan yang ia sampaikan berhubungan dengan kaum muda: mereka memberinya harapan bahwa kehidupan di negara yang normal mungkin terwujud. Pernyataan tersebut menunjukkan arti dukungan yang ia berikan kepada Student List. Bagi Marija, dukungan kepada daftar mahasiswa berkaitan dengan kemungkinan hidup di negara yang normal, sebuah kemungkinan yang ia hubungkan dengan kaum muda. Ia juga menyampaikan bahwa untuk pertama kalinya ia percaya perubahan itu mungkin terjadi.
Pengalaman Marija memperlihatkan bagaimana Student List dan kandidat-kandidat yang didukung mahasiswa dipandang sebagai jalan bagi perubahan politik oleh orang yang datang mendukungnya. Ia tidak hanya menyatakan dukungan, tetapi juga menjelaskan harapan yang mendasarinya: kaum muda membuat kehidupan di negara yang normal tampak mungkin. Baginya, keyakinan itu menandai sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, yakni kepercayaan bahwa perubahan dapat terwujud. Pernyataan bahwa untuk pertama kalinya ia percaya perubahan itu mungkin menegaskan arti dukungan tersebut baginya. Sementara itu, tujuan gerakan tetap jelas: mengakhiri dominasi SNS yang telah berlangsung lebih dari 14 tahun melalui kandidat-kandidat yang diusung dan didukung mahasiswa. Kisah Marija menyampaikan hubungan daftar mahasiswa, harapan yang diberikan kaum muda, dan keyakinan akan kemungkinan perubahan.
Gelombang protes mahasiswa di Serbia bermula setelah kanopi di stasiun kereta api Novi Sad runtuh pada 2024. Bagian bangunan yang baru direnovasi itu ambruk dan menewaskan 16 orang, sebuah tragedi yang segera memicu duka sekaligus kemarahan publik. Banyak warga mempertanyakan bagaimana kegagalan serius seperti itu dapat terjadi pada fasilitas yang baru menjalani pekerjaan renovasi, serta siapa yang harus bertanggung jawab atas pengawasan dan keselamatannya.
Seiring waktu, perhatian masyarakat meluas dari penyebab langsung keruntuhan menuju persoalan tata kelola. Tragedi tersebut secara luas dikaitkan dengan dugaan korupsi dan kurangnya akuntabilitas dalam proyek publik. Mahasiswa kemudian mengorganisasi aksi antikorupsi, menyuarakan tuntutan agar penyelidikan dilakukan secara transparan dan hasilnya disampaikan kepada publik. Mereka juga mendesak pemilihan umum lebih awal, menjadikan protes sebagai tantangan politik yang lebih besar terhadap partai penguasa. Aksi yang bermula dari tuntutan keadilan bagi para korban pun berkembang menjadi seruan untuk perubahan dan pertanggungjawaban pemerintah.
Dalam gerakan ini, Jugoslav Gasic, profesor universitas sekaligus salah satu dari 250 kandidat Student List, mengecam pemerintah karena, menurutnya, menempatkan kepentingan partai di atas kepentingan masyarakat. Pernyataannya mencerminkan kritik terhadap cara kekuasaan dijalankan dan tuntutan agar kebutuhan publik diprioritaskan. Gasic mengatakan, “Empat belas tahun penghinaan, kekacauan, dan pengkhianatan telah berakhir.” Pernyataan itu menegaskan penilaiannya terhadap periode yang ia kritik, tanpa mengubah tuntutan utama gerakan: penyelidikan yang terbuka, pertanggungjawaban atas tragedi Novi Sad, dan kesempatan bagi warga untuk menentukan arah politik negara melalui pemilihan lebih awal.
Presiden Serbia Aleksandar Vucic tetap menentang gerakan mahasiswa yang menggelar protes besar dan menantang dominasi partai penguasa. Saat berbicara kepada para pendukungnya pada Kamis, ia menuduh gerakan tersebut berupaya melakukan kudeta dengan dukungan pendanaan dari pihak asing. Vucic menyerukan agar pendukungnya maju menghadapi gerakan itu dan mengalahkannya dengan telak. Pernyataan tersebut memperlihatkan betapa tajamnya pertentangan politik menjelang pemungutan suara, ketika mahasiswa berusaha mengubah dukungan yang mereka rasakan di jalanan menjadi pengaruh politik. Sebelumnya, di tengah tekanan aksi protes, Vucic telah mengumumkan pemilihan lebih awal. Langkah itu menempatkan pemilihan sebagai titik penting bagi pemerintah dan gerakan mahasiswa, meski suasana menjelang hari pemungutan suara tetap dipenuhi ketegangan dan tudingan.
Kekhawatiran mengenai proses pemilihan juga disampaikan 24 organisasi masyarakat sipil, yang memperingatkan bahwa syarat bagi pemilihan bebas dan adil belum terpenuhi. Mereka menyoroti dugaan intimidasi terhadap warga, penangkapan, serangan, serta penyalahgunaan sumber daya publik. Organisasi-organisasi tersebut turut memperingatkan bahwa lingkungan media di Serbia tidak sehat, sehingga pemilih mungkin tidak memperoleh informasi dalam kondisi yang setara. Rangkaian persoalan itu menimbulkan pertanyaan tentang apakah persaingan berlangsung secara adil dan apakah seluruh pihak dapat berkampanye tanpa tekanan. Pada Rabu, jaksa di Beograd memeriksa enam orang yang telah ditangkap karena diduga merencanakan kekerasan dan kerusuhan pada hari pemilihan. Pemeriksaan tersebut menambah kekhawatiran akan keamanan dan ketertiban menjelang pemungutan suara, meski dugaan terhadap para tersangka belum menjadi putusan pengadilan.
Hasil pemilihan masih sulit diperkirakan. Serbia tidak memiliki lembaga jajak pendapat independen yang dapat diandalkan untuk mengukur dukungan publik secara akurat, sehingga sulit memastikan apakah gelombang aksi mahasiswa akan berujung pada perubahan suara yang sebanding.






