Jakarta | Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi, menegaskan bahwa pembenahan pasar modal Indonesia akan tetap dilanjutkan. Agenda reformasi tidak berhenti karena munculnya sorotan dari lembaga internasional maupun pembahasan mengenai posisi Indonesia dalam klasifikasi pasar global. Penegasan tersebut menunjukkan bahwa otoritas memandang penguatan pasar sebagai pekerjaan berkelanjutan yang perlu dijalankan secara konsisten. Fokusnya bukan semata-mata merespons penilaian jangka pendek, melainkan memastikan fondasi dan tata kelola pasar semakin kuat sehingga investor dapat berpartisipasi dengan kepercayaan yang lebih baik.
Pernyataan Friderica disampaikan setelah Presiden Prabowo Subianto menyatakan Indonesia tidak gentar menghadapi potensi penurunan klasifikasi pasar modal menjadi standalone market. Sikap tersebut menempatkan perubahan klasifikasi sebagai isu yang perlu dihadapi dengan kesiapan, bukan alasan untuk mengendurkan pembenahan. OJK menegaskan reformasi tetap berjalan, sekaligus mencermati perkembangan yang menjadi sorotan. Dengan demikian, arah kebijakan tidak ditentukan oleh kekhawatiran terhadap label pasar, tetapi oleh kebutuhan memperbaiki kualitas dan daya tahan ekosistem pasar modal. Kejelasan sikap pemerintah dan regulator juga penting agar pelaku pasar memahami bahwa agenda penguatan tetap menjadi prioritas.
Reformasi yang berjalan sejak awal tahun lalu diarahkan untuk membangun pasar modal yang lebih kredibel, likuid, dan transparan. Ketiga aspek tersebut saling berkaitan: kredibilitas mendukung kepercayaan, likuiditas memberi ruang bagi transaksi, sementara transparansi membantu investor memperoleh informasi yang memadai. Pembenahan juga ditujukan agar pasar modal dapat berfungsi sebagai sarana investasi jangka panjang bagi masyarakat Indonesia, bukan hanya sebagai tempat transaksi jangka pendek. Bagi masyarakat, pasar yang tertata dan terbuka dapat memperluas pilihan untuk mengelola dana serta berpartisipasi dalam pertumbuhan ekonomi. Karena itu, konsistensi pelaksanaan reformasi menjadi bagian penting dalam membangun manfaat yang berkelanjutan bagi investor dan perekonomian.
Friderica Widyasari Dewi, yang akrab disapa Kiki, menegaskan bahwa pembenahan pasar modal oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama self-regulatory organization (SRO) tidak semata-mata dilakukan sebagai respons terhadap sikap atau penilaian satu penyedia indeks global, termasuk MSCI. Sorotan dari lembaga tersebut menjadi perhatian, tetapi bukan satu-satunya alasan di balik agenda perbaikan. Menurut Kiki, langkah pembenahan memiliki dasar yang lebih luas, yakni kebutuhan untuk menata dan memperkuat pasar modal Indonesia secara berkelanjutan. Karena itu, proses tersebut perlu dipahami sebagai pekerjaan yang tetap berjalan, bukan tindakan sesaat yang bergantung pada perubahan pandangan pihak eksternal.
Kiki menjelaskan bahwa OJK dan SRO berupaya mengidentifikasi serta memperbaiki berbagai kekurangan yang masih terdapat di pasar modal. Upaya ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo untuk melakukan pembenahan, sekaligus mendorong tata kelola dan kualitas pasar yang lebih baik. Arahan tersebut menjadi bagian dari landasan kerja, sementara evaluasi atas kondisi pasar tetap diperlukan untuk menentukan aspek yang perlu diperkuat. Dalam konteks ini, perhatian terhadap transparansi, keterbukaan informasi, dan mekanisme pasar dapat menjadi bagian dari pembahasan perbaikan, tanpa menganggap bahwa semua persoalan telah selesai. Pembenahan dijalankan melalui proses yang memerlukan koordinasi dan tindak lanjut.
Penekanan tersebut juga menunjukkan bahwa agenda OJK tidak seharusnya berhenti ketika sorotan terhadap pasar mereda atau ketika penilaian penyedia indeks berubah. Perbaikan diarahkan untuk menjawab kebutuhan pasar domestik dan meningkatkan kepercayaan para pelaku serta investor, bukan hanya memenuhi ekspektasi satu institusi. Pada saat yang sama, proses ini tidak berarti bahwa seluruh kekurangan telah teratasi. Masih diperlukan evaluasi, penyempurnaan kebijakan, dan kerja sama OJK, SRO, serta pihak terkait lainnya. Dengan demikian, pernyataan Kiki menempatkan sorotan MSCI dalam konteks yang lebih luas: sebagai salah satu perhatian, sementara pembenahan tetap berlandaskan komitmen untuk memperbaiki pasar modal secara bertahap.
Kiki mengakui bahwa pasar modal Indonesia masih memiliki sejumlah kekurangan yang perlu mendapat perhatian. Sorotan tersebut terutama mencakup integritas, transparansi, dan likuiditas. Pengakuan ini menunjukkan bahwa pembenahan pasar tidak dapat berhenti pada satu aspek, melainkan perlu melihat bagaimana ketiga hal itu mendukung kepercayaan dan aktivitas di bursa. Dengan menyampaikan kekurangan tersebut secara terbuka, OJK menegaskan bahwa masih ada pekerjaan yang perlu dilanjutkan untuk memperkuat kualitas pasar modal nasional.
Integritas menjadi salah satu perhatian karena kredibilitas pasar bergantung pada keyakinan bahwa kegiatan dan informasi di dalamnya dapat dipercaya. Transparansi juga penting agar pelaku pasar memperoleh informasi yang memadai dan dapat memahami kondisi yang relevan dalam mengambil keputusan. Sementara itu, likuiditas berkaitan dengan kemampuan pasar menampung aktivitas transaksi. Ketiga isu itu menjadi sorotan dalam pembahasan mengenai kondisi pasar modal Indonesia, meskipun sumber pernyataan Kiki tidak merinci langkah tertentu atau ukuran untuk menilai masing-masing persoalan.
Namun, pengakuan atas kekurangan tersebut tidak berarti bahwa daya saing pasar modal Indonesia dinilai lemah secara keseluruhan. Kiki menilai daya saingnya masih cukup kuat dibandingkan bursa di negara lain. Penilaian ini memberikan konteks yang seimbang: masih terdapat aspek yang harus dibenahi, tetapi pasar modal Indonesia tetap memiliki daya saing yang dinilai cukup kuat. Tidak ada ukuran atau pemeringkatan khusus yang disampaikan dalam penilaian tersebut, sehingga perbandingan ini perlu dipahami sesuai batas informasi yang tersedia.
Dengan demikian, sorotan terhadap integritas, transparansi, dan likuiditas dapat dipandang sebagai bagian dari agenda pembenahan yang berjalan, bukan sebagai alasan untuk mengabaikan daya saing yang telah dimiliki. Pernyataan Kiki menggabungkan pengakuan atas tantangan dengan penilaian positif terhadap posisi pasar modal Indonesia di bursa negara lain. Pesan utamanya adalah bahwa penguatan kualitas pasar tetap dibutuhkan, sementara daya saingnya masih dinilai cukup kuat. Keduanya menjadi gambaran kondisi yang disampaikan OJK tanpa menambahkan ukuran, perbandingan, ataupun klaim lain di luar pernyataan tersebut.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menyampaikan perkembangan pasar modal Indonesia kepada Presiden Prabowo Subianto. Dalam penyampaian tersebut, OJK memaparkan perkembangan emiten pada kuartal II 2026 serta memberikan gambaran mengenai struktur pasar modal. Informasi itu menjadi bagian dari laporan yang disampaikan kepada Presiden di tengah perhatian terhadap kondisi dan pembenahan pasar modal. Kiki menyampaikan bahwa Presiden mendukung langkah-langkah yang ditempuh OJK. Dengan demikian, perkembangan pasar modal dan upaya pembenahannya telah dibahas langsung dalam komunikasi OJK dan kepala negara, termasuk informasi tentang emiten dan susunan pasar secara umum.
Pemaparan mengenai emiten pada kuartal II 2026 mencakup perkembangan perusahaan-perusahaan yang tercatat di pasar modal dalam periode tersebut. Sementara itu, gambaran struktur pasar modal disampaikan sebagai konteks untuk menjelaskan kondisi pasar kepada Presiden. Berdasarkan keterangan yang disampaikan Kiki, kedua hal itu menjadi bagian dari materi yang dilaporkan OJK. Tidak ada rincian tambahan mengenai angka, nama emiten, atau komponen struktur yang disampaikan dalam keterangan tersebut. Karena itu, laporan ini menegaskan ruang lingkup pokok paparan OJK tanpa menambahkan penilaian atas kondisi pasar ataupun kesimpulan lain yang tidak disebutkan. Presiden, menurut Kiki, mendukung langkah-langkah OJK dalam pembenahan pasar modal.
Pernyataan tersebut berlangsung dalam konteks perhatian terhadap sorotan MSCI. Dalam rapat kabinet paripurna di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, pada Rabu, 21 Oktober 2026, Prabowo menyebut ancaman MSCI sebagai upaya menakut-nakuti. Ia menegaskan bahwa Indonesia tidak takut dan tidak akan gentar menghadapi ancaman tersebut.
Baca juga: Pastikan Pasokan Air Tetap Siaga, Satgas Pam Irigasi Embung Jokowi Lanud Sjamsudin Noor Rawat Kesiapan Pompa Untuk Penanganan Karhutla | Pastikan Sumber Air Karhutla Tetap Andal, Personel Lanud Sjamsudin Noor Siaga 24 Jam Dukung Kesiapan dan Operasi Penanganan Karhutla | Aksi Cepat Tanggap! Babinsa Margomulyo Sisir Bekas Karhutla, Pastikan Api Benar-Benar Padam






