Jakarta | Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres menyampaikan kekagumannya terhadap batik Indonesia dalam acara Foreign Policy Circle Talks yang diselenggarakan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia pada Senin, 19 Oktober. Dalam kesempatan tersebut, ia menyoroti batik sebagai salah satu wujud kekayaan budaya Indonesia yang memiliki daya tarik dan makna mendalam. Pujian itu menempatkan batik bukan hanya sebagai karya seni yang indah, tetapi juga sebagai bagian penting dari identitas bangsa yang dikenal luas di dunia.
Menurut Guterres, kekayaan budaya Indonesia yang tercermin melalui batik merupakan sesuatu yang nyata, bukan sekadar kiasan untuk menggambarkan keberagaman negara ini. Ragam motif, teknik pembuatan, serta nilai yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya menunjukkan hubungan erat seni, kehidupan masyarakat, dan tradisi. Setiap corak dapat membawa kisah dan makna tersendiri, sementara proses pembuatannya mencerminkan keterampilan yang dibangun melalui pengetahuan lokal. Karena itu, batik menjadi contoh konkret bagaimana warisan budaya hidup dan berkembang dalam keseharian masyarakat.
Pengakuan internasional turut memperkuat arti penting batik. UNESCO telah menetapkan batik Indonesia sebagai warisan budaya tak benda umat manusia, sebuah pengakuan atas nilai tradisi dan pengetahuan yang terkandung di dalamnya. Status tersebut juga menegaskan bahwa pelestarian batik perlu melibatkan masyarakat yang menjaga dan meneruskan praktiknya, termasuk para perajin dan komunitas lokal. Apresiasi Guterres dalam forum diplomatik itu memperlihatkan bagaimana budaya dapat menjadi jembatan untuk memperkenalkan Indonesia kepada dunia. Batik hadir sebagai simbol yang mudah dikenali, sekaligus penanda keberagaman dan kreativitas yang membentuk kehidupan bangsa. Dengan demikian, perhatian terhadap batik tidak berhenti pada keindahan motif, tetapi juga mencakup penghormatan terhadap warisan, para pelaku budaya, dan upaya menjaga tradisi agar tetap relevan bagi generasi mendatang.
António Guterres menyoroti batik sebagai tradisi yang tumbuh melalui perjumpaan berbagai budaya, bukan sebagai warisan yang terbentuk dalam ruang terpisah. Perjalanan sejarah dan hubungan antarmasyarakat turut memperkaya ragam motif, teknik, serta makna yang hadir pada kain batik. Pengaruh dari luar diserap dan diolah dalam proses panjang, sehingga menghasilkan corak yang beragam tanpa menghapus akar lokalnya. Dalam pandangan tersebut, batik memperlihatkan bagaimana pertukaran budaya dapat menjadi sumber kreativitas sekaligus membentuk identitas yang khas.
Jejak pertemuan itu tampak pada pola-pola yang berhubungan dengan budaya Arab, China, Jepang, Asia Selatan, dan Eropa. Hubungan perdagangan, migrasi, dan interaksi sosial membuka ruang bagi gagasan serta unsur visual untuk bergerak melintasi wilayah. Sebagian motif memperlihatkan kemiripan atau inspirasi dari tradisi lain, tetapi pengrajin di Nusantara menafsirkannya sesuai lingkungan, nilai, dan selera setempat. Karena itu, batik bukan sekadar kumpulan corak yang dipinjam, melainkan hasil dialog kreatif yang berlangsung antargenerasi. Keragaman tersebut membantu menjelaskan mengapa batik hadir dalam bentuk dan gaya yang berbeda di berbagai daerah Indonesia.
Meski menerima beragam pengaruh, batik tetap terjalin erat dengan identitas budaya Indonesia. Masyarakat setempat memberi makna pada motif, mengembangkan teknik, dan menggunakan kain itu dalam kehidupan sehari-hari maupun berbagai upacara. Proses pengolahan lokal inilah yang membuat unsur dari luar berpadu dengan tradisi Indonesia, bukan menggantikannya. Guterres mengaitkan pelajaran dari sejarah batik tersebut dengan pentingnya multilateralisme: kerja sama lintas negara dapat mempertemukan perbedaan dan menghasilkan manfaat bersama, asalkan setiap pihak dihormati. Seperti batik yang menyatukan banyak pengaruh dalam satu karya, hubungan internasional yang inklusif dapat membangun kesepahaman tanpa menuntut semua pihak kehilangan jati diri. Pesan itu menempatkan kebudayaan sebagai pengingat bahwa keterbukaan dan penghargaan terhadap identitas dapat berjalan beriringan dalam kerja sama global.
Antonio Guterres menempatkan Indonesia sebagai salah satu pilar penting multilateralisme, yakni kerja sama antarnegara untuk menghadapi persoalan bersama melalui dialog dan lembaga internasional. Penilaian tersebut mencerminkan peran Indonesia yang aktif dalam berbagai forum serta komitmennya terhadap tata hubungan global yang bertumpu pada kerja sama. Bagi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), keterlibatan negara-negara yang mampu membangun jembatan diplomatik menjadi penting ketika perbedaan kepentingan berpotensi menghambat kesepakatan. Dalam konteks itu, Indonesia dinilai memiliki pengalaman dan posisi yang mendukung upaya mempertemukan beragam pandangan.
Guterres juga mengakui kepemimpinan Indonesia dalam menjalin sekaligus memperkuat hubungan ASEAN dan PBB. Kemitraan kedua organisasi tersebut mencakup sejumlah agenda yang saling berkaitan, mulai dari perdamaian dan keamanan hingga pembangunan dan hak asasi manusia. Kerja bersama di bidang perdamaian dapat membantu mendorong pencegahan konflik serta stabilitas kawasan, sementara agenda pembangunan membuka ruang bagi upaya meningkatkan kesejahteraan dan mencapai tujuan bersama. Perlindungan hak asasi manusia turut menjadi bagian penting dari kerja sama, karena penghormatan terhadap martabat manusia merupakan unsur mendasar dalam perdamaian yang berkelanjutan.
Penguatan hubungan ASEAN-PBB juga memberi kesempatan untuk menyelaraskan prioritas kawasan dengan pembahasan di tingkat global. ASEAN memiliki pemahaman langsung mengenai dinamika Asia Tenggara, sedangkan PBB menyediakan jaringan dan kerangka kerja internasional yang lebih luas. Indonesia, sebagai anggota aktif kedua lingkungan kerja sama itu, dapat berperan menyampaikan perspektif kawasan sekaligus mendorong dukungan internasional bagi agenda yang disepakati. Kepemimpinan dalam kemitraan tersebut, menurut penilaian Guterres, menunjukkan kemampuan Indonesia untuk ikut menghubungkan berbagai pihak dan menjaga saluran dialog tetap terbuka.
Di PBB maupun di luar organisasi itu, Indonesia dikenal dan dihormati sebagai penghubung diplomatik. Reputasi tersebut berkaitan dengan kemampuannya membangun komunikasi lintas negara dan menjajaki titik temu tanpa mengabaikan perbedaan. Peran sebagai penghubung bukan sekadar menyampaikan pesan, melainkan juga membantu menciptakan kepercayaan, mendorong perundingan, dan membuka peluang kerja sama. Pengakuan Guterres menegaskan bahwa kontribusi diplomatik Indonesia dipandang relevan bagi multilateralisme. Dengan memperkuat kemitraan ASEAN-PBB dan terus terlibat dalam dialog global, Indonesia dapat mendukung upaya kolektif untuk menangani tantangan bersama melalui pendekatan yang inklusif, damai, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa António Guterres menyampaikan apresiasi atas kontribusi Indonesia yang terus berlanjut dalam berbagai misi penjaga perdamaian PBB. Partisipasi tersebut, menurutnya, mencerminkan komitmen nyata Indonesia terhadap upaya menjaga perdamaian dan keamanan internasional. Personel Indonesia bekerja bersama pasukan dari berbagai negara dalam lingkungan yang sering kali penuh tantangan, mendukung perlindungan masyarakat sipil, membantu pelaksanaan mandat PBB, dan membangun kondisi yang lebih stabil di wilayah penugasan. Keterlibatan yang konsisten ini juga menunjukkan bahwa Indonesia bersedia berbagi tanggung jawab dalam menghadapi persoalan global yang memerlukan kerja sama lintas negara.
Sekitar 2.000 personel Indonesia, baik laki-laki maupun perempuan, saat ini bertugas dalam pasukan penjaga perdamaian PBB. Guterres menyoroti kehadiran mereka sebagai bagian penting dari kontribusi Indonesia, sekaligus mengakui dedikasi para personel yang menjalankan tugas di lapangan. Peran tersebut tidak hanya menuntut kesiapan dan disiplin militer, tetapi juga kemampuan bekerja dengan masyarakat setempat serta mitra internasional. Keterwakilan perempuan dan laki-laki dalam kontingen Indonesia memperlihatkan luasnya tenaga dan keahlian yang disumbangkan. Apresiasi Guterres menjadi pengakuan atas upaya personel tersebut serta dukungan Indonesia terhadap misi multilateral yang dijalankan di berbagai kawasan.
Guterres juga menyampaikan terima kasih kepada Indonesia karena akan menjadi tuan rumah bersama pertemuan menteri penjaga perdamaian PBB tahun depan di Jakarta. Pertemuan itu akan menjadi kesempatan bagi negara-negara anggota untuk membahas kebutuhan, tantangan, dan arah penguatan operasi penjaga perdamaian.






