Jakarta | CEO Danantara Indonesia Rosan Perkasa Roeslani melaporkan realisasi investasi sepanjang 2026 mencapai Rp1.539,2 triliun. Nilai tersebut setara dengan 75,4% dari target investasi tahun ini. Capaian itu menggambarkan jumlah investasi yang telah tercatat hingga periode pelaporan, sementara angka target menjadi tolok ukur untuk membaca tingkat realisasinya. Dalam laporan yang sama, nilai investasi pada kuartal III-2026 tercatat sebesar Rp528,7 triliun. Angka kuartalan tersebut menjadi bagian dari gambaran perkembangan investasi selama tahun berjalan.
Komposisi investasi berdasarkan sumber modal menunjukkan porsi penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp761,4 triliun, atau 49,5% dari total realisasi. Sementara itu, penanaman modal asing (PMA) tercatat Rp777,8 triliun, setara dengan 50,5%. Dengan demikian, kontribusi PMA sedikit lebih besar dibandingkan PMDN dalam komposisi realisasi yang dilaporkan. Kedua kategori tersebut bersama-sama membentuk total investasi sebesar Rp1.539,2 triliun. Persentase masing-masing sumber modal menunjukkan pembagian investasi pelaku dalam negeri dan penanam modal asing pada periode tersebut.
Selain nilai investasi, laporan juga mencatat penyerapan tenaga kerja. Untuk periode Januari hingga September 2026, investasi menyerap 2.194.496 orang. Data ini merangkum jumlah tenaga kerja yang terserap dalam rentang sembilan bulan pertama tahun tersebut. Angka penyerapan tenaga kerja disampaikan bersama catatan realisasi investasi dan komposisi sumber modal, sehingga memberikan ukuran tambahan untuk membaca capaian investasi. Secara keseluruhan, laporan mencakup tiga indikator utama: realisasi investasi tahunan sebesar Rp1.539,2 triliun atau 75,4% dari target, investasi kuartal III sebesar Rp528,7 triliun, serta penyerapan tenaga kerja Januari–September sebanyak 2.194.496 orang. Pada sisi pendanaan, rinciannya terdiri atas PMDN Rp761,4 triliun dan PMA Rp777,8 triliun.
Realisasi investasi pada 2026 tersebar cukup seimbang Jawa dan luar Jawa. Wilayah Jawa menerima Rp759,8 triliun, setara 49,4% dari total investasi. Sementara itu, investasi di luar Jawa mencapai Rp779,4 triliun atau 50,6%. Dengan demikian, porsi luar Jawa sedikit lebih besar, meskipun nilai investasi di kedua kelompok wilayah tersebut relatif berdekatan. Pembagian ini menunjukkan bahwa arus modal tidak hanya terkonsentrasi di pusat-pusat ekonomi utama di Jawa, tetapi juga menjangkau berbagai daerah lain. Angka agregat tersebut mencakup penanaman modal dalam negeri (PMDN) dan penanaman modal asing (PMA); daftar daerah penerima terbesar untuk masing-masing kategori memiliki urutan tersendiri.
Untuk PMDN, DKI Jakarta menjadi lokasi dengan realisasi tertinggi, yakni Rp160,1 triliun. Posisi berikutnya ditempati Jawa Barat dengan Rp89,9 triliun atau 11,8%. Jawa Timur berada di peringkat ketiga dengan Rp74,3 triliun, disusul Banten sebesar Rp61,1 triliun. Kalimantan Timur melengkapi lima lokasi teratas PMDN, mencatat Rp42,6 triliun atau 5,6%. Urutan ini memperlihatkan bahwa tiga dari lima lokasi utama berada di wilayah Jawa, sementara Kalimantan Timur menjadi salah satu penerima besar di luar pulau tersebut. Angka dan peringkat ini merujuk khusus pada investasi domestik, bukan gabungan seluruh sumber modal.
Pada kategori PMA, Jawa Barat memimpin dengan nilai Rp139,2 triliun atau 17,9%. Sulawesi Tengah berada di urutan kedua, menerima Rp110 triliun atau 14,1%; kontribusi terhadap angka tersebut disebut berasal dari industri hilirisasi. Berikutnya adalah Maluku Utara dengan Rp91,9 triliun atau 11,8%, kemudian DKI Jakarta sebesar Rp89,1 triliun atau 11,5%. Kalimantan Barat menempati posisi kelima dengan Rp42,7 triliun atau 5,5%. Susunan PMA ini berbeda dari daftar PMDN: Jawa Barat memimpin investasi asing, sementara Sulawesi Tengah dan Maluku Utara juga mencatat nilai besar. Karena itu, perbandingan wilayah perlu mempertahankan pemisahan kategori, agar nilai serta peringkat PMDN tidak tertukar dengan PMA.
Komposisi investasi pada 2026 memperlihatkan sektor unggulan yang berbeda penanaman modal asing (PMA) dan penanaman modal dalam negeri (PMDN). Pada kategori PMA, industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya mencatat nilai tertinggi, yakni Rp246,6 triliun atau 31,7%. Angka ini menempatkan industri tersebut sebagai sektor utama dalam realisasi PMA yang disampaikan untuk periode tersebut.
Sementara itu, pada kategori PMDN, sektor transportasi, gudang, dan telekomunikasi menjadi penyumbang investasi terbesar. Nilainya mencapai Rp117,8 triliun atau 15,5%. Perbedaan sektor terbesar pada kedua kategori itu menunjukkan bahwa sumber modal asing dan domestik memiliki distribusi sektoral yang tidak sama, dengan industri logam dasar menonjol pada PMA dan layanan transportasi serta komunikasi memimpin PMDN.
Rosan juga menyampaikan angka gabungan sebesar Rp269,2 triliun atau 17,5%. Keterangan tersebut disampaikan sebagaimana adanya dan menjadi bagian dari paparan mengenai sektor investasi, tanpa menambahkan penafsiran mengenai hubungan angka itu dengan rincian kategori PMA maupun PMDN.
Berdasarkan negara asal investasi, Singapura berada di urutan pertama dengan nilai US$14 miliar atau 29,6%. Berikutnya adalah Hong Kong sebesar US$12,8 miliar atau 27,2%, China sebesar US$5 miliar atau 10,5%, Amerika Serikat sebesar US$3,4 miliar atau 7,1%, serta Jepang sebesar US$2,6 miliar atau 5,6%. Urutan ini menggambarkan lima negara atau wilayah dengan nilai investasi terbesar dalam daftar yang dipaparkan.
Rosan menyatakan bahwa jika Hong Kong dan China digabung, nilainya mencapai US$17,8 miliar. Jumlah tersebut lebih besar daripada investasi Singapura yang tercatat sebesar US$14 miliar. Pernyataan itu menyajikan perbandingan nilai gabungan tersebut dengan Singapura, tanpa menyimpulkan adanya hubungan atau kesamaan identitas Hong Kong dan China. Rincian sektor serta asal modal ini memberikan gambaran tentang sebaran investasi berdasarkan kategori penanaman modal dan sumber geografisnya.
Investasi hilirisasi tercatat sebesar Rp480 triliun, atau 31,2% dari target, dengan pertumbuhan 11,3%, menurut Rosan. Angka tersebut menjadi bagian dari realisasi investasi yang dilaporkan untuk 2026. Rincian sektoral menunjukkan bahwa kelompok mineral merupakan kontributor terbesar. Kelompok ini mencakup nikel, bauksit, besi baja, tembaga, pasir silika, dan komoditas mineral lainnya, dengan nilai investasi sebesar Rp335,1 triliun. Data tersebut menggambarkan pembagian investasi hilirisasi berdasarkan kelompok sektor yang disebutkan.
Di luar kelompok mineral, investasi hilirisasi pada perkebunan dan kehutanan mencapai Rp83,6 triliun. Sektor minyak dan gas bumi mencatat nilai sebesar Rp54 triliun, sedangkan perikanan dan kelautan menyumbang Rp7,3 triliun. Keempat rincian tersebut merupakan kontributor sektoral yang disebutkan dalam laporan. Nilai-nilai itu melengkapi gambaran realisasi investasi hilirisasi, dengan kelompok mineral tercatat memiliki nilai terbesar dibandingkan sektor perkebunan dan kehutanan, minyak dan gas bumi, serta perikanan dan kelautan.
Dari sisi wilayah, investasi hilirisasi tersebar Jawa dan luar Jawa. Wilayah luar Jawa menyumbang 78% dari total investasi tersebut, setara dengan sekitar Rp373,1 triliun. Sementara itu, wilayah Jawa mencatat porsi 22%, atau sekitar Rp106,9 triliun. Angka persentase dan nilai nominal tersebut menunjukkan distribusi geografis yang dilaporkan untuk realisasi investasi hilirisasi. Dengan demikian, bagian terbesar dari nilai investasi yang tercatat berada di luar Jawa, sedangkan sisanya teralokasi di Jawa.
Secara keseluruhan, data yang disampaikan mencatat investasi hilirisasi sebesar Rp480 triliun dan pertumbuhan 11,3%.
