Jakarta | Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meresmikan Embung Bambu Hitam dan Embung Batu Bangkong di Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, pada Senin (19/10). Peresmian ini menandai pemanfaatan dua fasilitas penampungan air yang dirancang untuk mendukung pengelolaan air di wilayah tersebut. Kedua embung memiliki kapasitas tampungan gabungan sebesar 36.550 meter kubik. Kapasitas itu menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah untuk menampung air hujan dan memperkuat pengendalian banjir, khususnya melalui penyediaan ruang tampung tambahan.
Embung bekerja dengan menahan dan menyimpan air, sehingga aliran air hujan dapat dikelola sebelum bergerak ke saluran dan kawasan di sekitarnya. Kehadiran fasilitas ini juga mendukung konservasi sumber daya air dengan menyediakan tampungan yang dapat membantu menjaga keseimbangan pengelolaan air. Pengoperasian Embung Bambu Hitam dan Embung Batu Bangkong melengkapi berbagai langkah yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta dalam menghadapi risiko genangan dan banjir. Upaya tersebut tetap memerlukan dukungan infrastruktur lain, pemeliharaan rutin, serta pengelolaan saluran yang terintegrasi.
Peresmian dua embung ini tidak berarti persoalan banjir di Jakarta telah teratasi. Kapasitas tampungan gabungan 36.550 meter kubik merupakan salah satu unsur dalam sistem pengendalian air, sementara dampak hujan bergantung pula pada intensitas dan durasi curah hujan, kondisi drainase, serta kesiapan fasilitas. Karena itu, embung perlu dikelola dan dipantau secara berkelanjutan agar dapat berfungsi sesuai tujuan. Dengan menambah sarana penampungan air hujan sekaligus mendukung konservasi, Pemprov DKI berupaya memperkuat kesiapan wilayah Cipayung dalam mengelola air. Langkah ini menjadi bagian dari penanganan banjir yang bertahap, bukan jaminan bahwa risiko banjir hilang sepenuhnya.
Embung Batu Bangkong dan Embung Bambu Hitam memiliki luasan lahan, badan air, serta kapasitas tampungan yang berbeda. Rincian tersebut menunjukkan karakter masing-masing fasilitas penampung air hujan di Cipayung. Keduanya dibangun oleh Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta pada 2025, tetapi angka luas dan daya tampungnya perlu dibaca sesuai nama embung agar tidak tertukar.
Embung Batu Bangkong berdiri di atas lahan seluas 1,3 hektare. Dari keseluruhan lahan itu, badan airnya mencakup 0,58 hektare, dengan kapasitas tampungan mencapai 20.300 meter kubik. Dengan demikian, kapasitas Batu Bangkong lebih besar dibandingkan Bambu Hitam, meskipun luas lahan keseluruhannya lebih kecil. Angka badan air dan kapasitas ini menggambarkan ruang yang disediakan untuk menampung air, sementara luas lahan menunjukkan cakupan area fasilitas secara keseluruhan.
Sementara itu, Embung Bambu Hitam memiliki luas lahan sekitar 2,1 hektare. Badan airnya seluas 0,50 hektare dan kapasitas tampungannya mencapai 16.250 meter kubik. Luas lahan Bambu Hitam lebih besar daripada Batu Bangkong, tetapi badan air dan kapasitas tampungnya lebih kecil. Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa luas keseluruhan area tidak selalu sebanding langsung dengan volume air yang dapat ditampung.
Kedua embung itu menjadi bagian dari upaya penyediaan infrastruktur pengelolaan air di kawasan Cipayung. Dengan kapasitas puluhan ribu meter kubik, fasilitas ini dapat menampung air hujan dan membantu mengelola aliran air di sekitarnya. Keberadaannya juga menambah ruang yang dapat dimanfaatkan warga, sejalan dengan tujuan menjadikan embung tidak hanya berfungsi sebagai prasarana air. Data luas dan kapasitas masing-masing memberi gambaran konkret mengenai skala fasilitas yang diresmikan, sekaligus menegaskan perbedaan Batu Bangkong dan Bambu Hitam. Batu Bangkong menonjol dari sisi kapasitas tampungan, sedangkan Bambu Hitam memiliki cakupan lahan lebih luas. Keduanya dibangun pada tahun yang sama oleh instansi yang sama, yakni Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta pada 2025.
Embung Cipayung dirancang untuk menahan dan menampung air hujan sebelum air tersebut mengalir ke saluran drainase maupun sungai. Pramono menjelaskan bahwa penampungan ini penting agar hujan tidak langsung menambah beban pada sistem drainase dan aliran sungai. Dengan demikian, embung berperan sebagai bagian dari upaya mengelola air sejak berada di kawasan, bukan hanya meneruskan limpasan ke lokasi lain.
Air yang tertampung diharapkan dapat meresap di kawasan embung. Harapan tersebut menempatkan fungsi embung tidak sebatas sebagai tempat singgah sementara bagi air hujan, tetapi juga sebagai bagian dari konservasi air. Pendekatan ini menekankan pengelolaan yang menjaga air tetap berada di lingkungan setempat dan memberi kesempatan untuk meresap, alih-alih semata-mata mengalirkannya ke tempat lain. Keterangan tersebut menggambarkan tujuan pengelolaan air yang disampaikan Pramono tanpa mengubah peran embung sebagai penampung.
Dalam pembangunannya, embung menggunakan pendekatan infrastruktur biru-hijau dan solusi berbasis alam. Pendekatan tersebut menjadi landasan untuk memadukan pengelolaan air dengan lingkungan kawasan. Penerapannya diarahkan agar fasilitas penampungan air hujan dapat berfungsi sejalan dengan upaya konservasi, sekaligus mendukung pengelolaan sumber daya air. Pernyataan itu menempatkan embung sebagai infrastruktur yang memiliki fungsi terkait air dan lingkungan, bukan hanya bangunan untuk menampung limpasan.
Pramono juga menyebut embung sebagai sarana pengendali sumber daya air dan sumber air baku. Kedua fungsi tersebut melengkapi peran penampungan air hujan dan konservasi yang diharapkan berlangsung di kawasan. Sebagai sarana pengendali, embung menjadi bagian dari pengelolaan air; sementara penyebutan sumber air baku menunjukkan fungsi yang lebih luas dalam konteks pemanfaatan sumber daya air. Penjelasan ini menegaskan bahwa pembangunan embung Cipayung diarahkan untuk mengelola air hujan, mendukung peresapan, dan menjalankan fungsi pengendalian serta penyediaan air baku, sebagaimana diterangkan Pramono.
Pengembangan dua embung di Cipayung tidak hanya diarahkan untuk menampung air hujan, tetapi juga untuk menyediakan ruang interaksi publik bagi warga. Kawasan di sekitar embung dirancang agar tetap memiliki fungsi sosial dan rekreasi, sehingga dapat dimanfaatkan masyarakat dalam kegiatan sehari-hari. Pendekatan ini membuat fasilitas pengendali air menjadi bagian dari lingkungan permukiman, bukan sekadar infrastruktur yang digunakan ketika hujan atau saat ancaman banjir meningkat.
Fasilitas yang disediakan mencakup instalasi pengolahan air limbah, jalur joging, taman bermain anak, balai warga, lapangan multifungsi, dan sunken plaza. Keberadaan berbagai sarana tersebut memberi pilihan kegiatan bagi warga dengan kebutuhan berbeda. Jalur joging dan taman bermain mendukung aktivitas luar ruang, sementara balai warga dan lapangan multifungsi dapat digunakan untuk pertemuan serta kegiatan bersama. Sunken plaza melengkapi area publik dengan ruang yang dirancang menyatu dengan kawasan embung.
Pemanfaatan kawasan menyesuaikan kondisi cuaca. Ketika cuaca kering, area tersebut dapat digunakan warga untuk berolahraga, bermain, berkumpul, dan menjalankan kegiatan komunitas. Saat hujan, ruang tertentu turut berperan sebagai tampungan tambahan, membantu menahan aliran air di kawasan tersebut. Dengan demikian, fungsi publik dan fungsi pengelolaan air dapat berjalan berdampingan. Pengaturan serta perawatan fasilitas diperlukan agar area tetap aman, bersih, dan nyaman digunakan, sekaligus tetap siap mendukung kapasitas tampungan ketika curah hujan meningkat.
Pramono menekankan bahwa penanganan banjir perlu mengutamakan pencegahan yang berkelanjutan, bukan hanya tindakan setelah genangan terjadi. Upaya tersebut mencakup pengembangan embung dan waduk serta normalisasi sungai, sebagai bagian dari pengelolaan air yang lebih menyeluruh. Infrastruktur yang telah dibangun juga perlu dirawat secara konsisten agar manfaatnya bertahan dalam jangka panjang. Perawatan mencakup kondisi tampungan dan fasilitas publik di sekitarnya, sehingga keduanya dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Embung beserta sarana penunjangnya dapat digunakan warga secara gratis, sehingga pemeliharaan kawasan menjadi penting untuk menjaga akses publik sekaligus mendukung upaya pengurangan risiko banjir.
Baca juga: Forkopimda dan Warga Bersatu dalam Doa, Gelar Sholat Istisqa Memohon Turunnya Hujan

