Kota Milan | Polisi Italia menangkap 28 orang, termasuk 12 anak di bawah umur, setelah bentrokan terjadi dalam demonstrasi menentang tingginya biaya hidup pada Sabtu. Aksi berlangsung di sejumlah kota, sementara ketegangan masih terasa di pusat kota Milan pada Minggu. Peristiwa tersebut menandai meningkatnya gesekan di tengah keresahan masyarakat terhadap tekanan ekonomi yang terus membebani rumah tangga.
Demonstrasi itu diorganisasi oleh gerakan Italia in piazza. Para peserta mengangkat isu kenaikan biaya hidup, mahalnya harga bahan bakar, serta beban pajak yang dinilai semakin berat. Isu-isu tersebut menjadi pokok tuntutan dalam aksi, yang digelar di beberapa pusat perkotaan. Besarnya jumlah peserta menunjukkan bahwa keluhan mengenai pengeluaran sehari-hari meluas melampaui satu wilayah dan menarik perhatian warga di berbagai kota.
Menurut data kepolisian, sekitar 5.000 orang mengikuti demonstrasi di Milan. Turin mencatat sekitar 3.000 peserta, sementara sekitar 2.000 orang berkumpul di Bologna. Aksi yang lebih kecil berlangsung di Brescia dengan sekitar 600 peserta dan di Bergamo dengan sekitar 800 peserta. Angka tersebut menggambarkan sebaran demonstrasi di Italia, meskipun Milan menjadi lokasi dengan jumlah peserta terbesar.
Bentrokan setelah demonstrasi berujung pada penangkapan, termasuk terhadap sejumlah peserta yang masih berusia di bawah 18 tahun. Kehadiran anak di bawah umur dalam kelompok yang ditangkap menjadi salah satu unsur penting dalam laporan kepolisian mengenai kejadian itu. Di Milan, suasana yang tetap tegang hingga Minggu menunjukkan bahwa dampak aksi belum sepenuhnya mereda setelah demonstrasi Sabtu berakhir. Situasi di pusat kota masih menjadi perhatian setelah kerusuhan tersebut.
Rangkaian demonstrasi ini berlangsung ketika warga menyampaikan kekhawatiran tentang kemampuan mereka memenuhi kebutuhan sehari-hari di tengah harga yang meningkat. Kenaikan biaya hidup, harga bahan bakar, dan pajak menjadi tuntutan yang disuarakan oleh gerakan pengorganisasi. Namun, aksi yang bermula sebagai penyampaian keberatan itu berubah menjadi bentrokan di sejumlah lokasi, sehingga memicu respons aparat dan penangkapan. Perkembangan di Milan pada Minggu memperlihatkan bahwa ketegangan di sekitar isu tersebut masih berlanjut.
Di Milan, aksi unjuk rasa menentang tingginya biaya hidup berujung pada bentrokan sejumlah kelompok demonstran dan petugas keamanan. Kelompok-kelompok tersebut melempar batu, botol, dan petasan ke arah polisi, serta menggunakan barikade dalam konfrontasi. Petugas merespons dengan menembakkan gas air mata dan mengerahkan meriam air untuk membubarkan massa. Situasi tegang itu juga berdampak pada kawasan pusat kota, tempat sejumlah toko mengalami kerusakan dan penjarahan. Sebuah kendaraan milik Carabinieri, kepolisian militer Italia, turut dihancurkan. Polisi menangkap 17 orang di Milan terkait kerusuhan tersebut.
Dampak terhadap kegiatan usaha di Milan diperkirakan cukup besar. Confcommercio, asosiasi yang mewakili pelaku usaha dan perdagangan, memperkirakan kerugian yang dialami toko serta pengusaha melampaui 500.000 euro, atau setara sekitar 561.860 dolar AS. Kerusakan bangunan dan penjarahan menambah beban bagi pemilik usaha di pusat kota, sementara bentrokan membuat aparat harus melakukan pengamanan dan membubarkan kelompok yang terlibat. Perkiraan tersebut menggambarkan nilai kerugian ekonomi yang dilaporkan, bukan jumlah korban atau biaya penanganan kepolisian.
Kerusuhan dan penindakan juga dilaporkan di Turin serta Bologna. Di Turin, seorang pria dewasa ditangkap karena melawan petugas, sedangkan tiga anak di bawah umur diduga membawa bom molotov. Sebuah kelompok juga memasuki toko buku Feltrinelli di stasiun Porta Nuova dan menjatuhkan buku-buku ke lantai. Sementara itu, di Bologna, lima anak di bawah umur ditangkap setelah bentrokan di dekat stasiun kereta api. Para demonstran melempar botol, batu, dan barikade ke arah petugas, yang kemudian menggunakan gas air mata dan meriam air. Penangkapan di tiga kota tersebut menunjukkan bahwa aksi yang berkaitan dengan protes biaya hidup berkembang menjadi insiden keamanan di sejumlah lokasi, dengan kerusakan properti dan tindakan hukum terhadap mereka yang ditangkap.
Data yang disampaikan terkait rangkaian kerusuhan saat demonstrasi biaya hidup di Italia mencatat sejumlah tindakan kepolisian dan laporan mengenai anggota aparat yang terluka. Sebanyak 28 orang ditangkap. Angka tersebut merupakan jumlah penangkapan yang dilaporkan, sementara data lain memuat orang-orang yang diidentifikasi dan dibawa ke kantor polisi. Ketiga keterangan itu perlu dibedakan agar tiap angka tetap menunjukkan kategori tindakan yang disebutkan, tanpa menganggapnya sebagai jumlah yang saling menggantikan.
Selain mereka yang ditangkap, 197 orang telah diidentifikasi dan dibawa ke kantor polisi. Keterangan ini menjelaskan langkah yang dilakukan terhadap kelompok tersebut, tetapi tidak dengan sendirinya menyatakan bahwa seluruhnya ditangkap atau dikenai status hukum yang sama. Secara terpisah, 43 orang dilaporkan kepada otoritas peradilan. Data yang tersedia menyajikan jumlah masing-masing kategori, tanpa merinci identitas orang-orang yang tercatat atau hubungan kelompok-kelompok tersebut.
Dalam rangkaian kerusuhan yang sama, 141 anggota aparat penegak hukum dilaporkan terluka. Angka tersebut merujuk khusus pada anggota aparat, sebagaimana disebutkan dalam laporan, dan tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai kondisi maupun tingkat luka yang dialami. Karena informasi yang disampaikan terbatas pada jumlah dan kelompok yang terdampak, tidak tepat menambahkan keterangan mengenai keadaan individu atau bentuk kejadian tertentu yang tidak tercantum dalam data.
Dengan demikian, catatan yang tersedia memuat 28 orang ditangkap, 197 orang diidentifikasi dan dibawa ke kantor polisi, serta 43 orang dilaporkan kepada otoritas peradilan. Di sisi lain, 141 anggota aparat penegak hukum dilaporkan terluka. Angka-angka ini menggambarkan kategori yang berbeda dalam penanganan pascakerusuhan dan laporan kondisi aparat. Penyajiannya secara terpisah membantu pembaca memahami isi data tanpa mencampuradukkan penangkapan, identifikasi, pelaporan kepada otoritas peradilan, dan laporan anggota aparat yang terluka. Tidak ada keterangan tambahan dalam angka tersebut mengenai dampak lain di luar yang disebutkan.
Sejumlah pemimpin Italia menanggapi kerusuhan dengan mengecam kekerasan sekaligus mengakui bahwa banyak peserta menyampaikan keluhan secara damai. Perdana Menteri Giorgia Meloni menyatakan solidaritas kepada aparat yang bertugas menghadapi situasi tersebut. Ia juga meminta partai-partai oposisi mengecam tindakan kekerasan secara tegas. Namun, Meloni mengakui bahwa ribuan orang mengikuti demonstrasi tanpa melakukan kekerasan. Pernyataan itu membedakan aksi damai dari kerusuhan, serta menegaskan bahwa kecaman terhadap kekerasan tidak berarti mengabaikan hak masyarakat untuk menyuarakan keberatan.
Wakil Perdana Menteri Matteo Salvini mengangkat persoalan tanggung jawab penyelenggara demonstrasi. Ia mengatakan Partai Liga akan kembali mengajukan usulan di parlemen agar penyelenggara aksi yang dinilai berisiko diwajibkan menyediakan jaminan keuangan. Dana tersebut, menurut gagasan itu, dapat digunakan untuk menanggung potensi kerusakan yang terjadi selama demonstrasi. Usulan tersebut menempatkan tanggung jawab finansial sebagai salah satu langkah untuk menghadapi risiko kerusakan. Pernyataan Salvini belum mengubahnya menjadi ketentuan yang berlaku; ia menyampaikan rencana untuk mengajukan kembali usulan itu melalui proses parlemen.
Wali Kota Milan Giuseppe Sala menyampaikan pandangan yang mengakui adanya alasan di balik ketidakpuasan para demonstran. Ia menilai keluhan mereka dapat dipahami, tetapi menegaskan bahwa pemahaman terhadap tuntutan tersebut tidak membenarkan kekerasan terhadap petugas maupun kerusakan besar. Sikap itu mencerminkan upaya memisahkan isi aspirasi dari cara sebagian orang menyampaikannya. Bagi Sala, tuntutan masyarakat layak didengar, sementara tindakan yang membahayakan petugas atau merusak fasilitas tetap tidak dapat diterima.
Di Bologna, Wali Kota Matteo Lepore juga mengecam kerusuhan.
Baca juga: Wartawan tidak mewawancarai saksi anak dalam kasus yang pelaku kejahatannya belum ditangkap/ditahan




