Survei PPI: Prabowo Unggul dalam Dua Simulasi Pilpres, Anies dan AHY Menyusul

Survei PPI: Prabowo Unggul dalam Dua Simulasi Pilpres, Anies dan AHY Menyusul

Jakarta | Parameter Politik Indonesia (PPI) memaparkan hasil survei nasional bertajuk “Evaluasi 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran” dalam acara di Jakarta pada Minggu. Direktur Eksekutif PPI, Adi Prayitno, menjelaskan bahwa survei tersebut turut mengukur elektabilitas calon presiden melalui tiga skema simulasi. Pendekatan ini digunakan untuk melihat bagaimana pilihan responden terbentuk ketika daftar kandidat disajikan dengan cakupan yang berbeda.

Ketiga skema itu meliputi simulasi terbuka, simulasi dengan 17 nama kandidat, serta simulasi yang mengerucut pada lima kandidat capres. Dalam setiap skema, responden mendapat pertanyaan pokok yang sama: siapa yang akan mereka pilih apabila pemilihan presiden berlangsung saat ini. Kesamaan pertanyaan tersebut memungkinkan PPI membandingkan preferensi pemilih dalam beberapa susunan pilihan, meskipun hasil tiap simulasi perlu dibaca sesuai daftar kandidat yang digunakan.

Pada simulasi terbuka, responden tidak terlebih dahulu diarahkan kepada daftar nama kandidat tertentu. Mereka diminta menyebutkan pilihan secara langsung, dengan jumlah responden yang dicantumkan sebanyak 1.200 orang. Format ini memberi ruang bagi responden untuk menyampaikan nama yang muncul dalam benak mereka tanpa batasan daftar yang telah ditentukan. Karena itu, hasilnya dapat menggambarkan pilihan spontan pemilih dalam konteks pertanyaan survei.

Simulasi kedua menyodorkan 17 nama kandidat kepada responden. Berbeda dari pertanyaan terbuka, skema ini memberi pilihan yang lebih terstruktur dan memungkinkan responden menilai sejumlah nama dalam satu daftar. PPI juga menguji simulasi lima kandidat, yang membatasi pilihan pada susunan lebih ringkas. Namun, informasi hasil terperinci yang tersedia dalam pemaparan hanya mencakup simulasi terbuka dan simulasi 17 nama. Oleh sebab itu, hasil untuk skema lima kandidat tidak dapat dirinci berdasarkan keterangan tersebut.

Ketiga pendekatan itu perlu dipahami sebagai cara mengukur preferensi dalam kondisi pertanyaan yang serupa, tetapi susunan kandidat yang berlainan. Perbedaan format dapat memengaruhi pilihan yang dinyatakan responden, sehingga angka dari satu skema tidak serta-merta menggambarkan hasil skema lainnya. Dalam membaca temuan PPI, penting untuk memperhatikan jenis simulasi yang digunakan serta cakupan nama kandidat yang disodorkan, selain mempertimbangkan konteks survei nasional tersebut.

Dalam simulasi terbuka yang memuat 20 nama tokoh, kepala daerah, menteri, dan presiden, Prabowo Subianto menempati posisi teratas dengan elektabilitas 31,6 persen. Hasil tersebut menempatkannya jauh di depan nama-nama lain yang tercantum dalam jajak pendapat. Pada urutan berikutnya, Dedi Mulyadi memperoleh 11,4 persen, sedangkan Anies Baswedan meraih 10,1 persen. Selisih keduanya sebesar 1,3 poin persentase, sementara jarak elektabilitas Prabowo dengan Dedi mencapai 20,2 poin persentase.

Setelah tiga nama teratas, Gibran Rakabuming Raka berada di posisi keempat dengan 6,9 persen. Ganjar Pranowo menyusul dengan 4,4 persen. Pada kelompok berikutnya, Agus Harimurti Yudhoyono memperoleh 2,3 persen, disusul Mahfud MD dengan 1,7 persen. Sherly Tjoanda mencatat 1,1 persen, sementara Purbaya Yudhi Sadewa dan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok masing-masing meraih 0,8 persen. Angka-angka itu menunjukkan urutan sepuluh nama dengan elektabilitas tertinggi yang disebutkan dalam simulasi terbuka tersebut.

Komposisi simulasi ini mencakup beragam latar belakang, mulai dari tokoh politik nasional hingga kepala daerah dan pejabat pemerintahan. Namun, data yang tersedia untuk bagian ini hanya merinci nama dan persentase sepuluh tokoh teratas. Karena itu, enam nama lain dari total 20 nama tidak dapat diuraikan berdasarkan angka yang tercantum di sini. Hasil simulasi terbuka tersebut menggambarkan pilihan responden ketika berhadapan dengan daftar nama yang luas, bukan hanya pasangan atau kandidat tertentu. Perolehan Prabowo sebesar 31,6 persen menjadi angka tertinggi, sementara tokoh-tokoh di bawahnya memperoleh persentase yang lebih rendah. Dedi Mulyadi dan Anies Baswedan menjadi dua nama terdekat setelah Prabowo, masing-masing dengan capaian dua digit. Sementara itu, persentase mulai berada di bawah tujuh persen pada posisi Gibran, lalu menurun pada nama-nama berikutnya. Penyebutan angka secara berurutan membantu melihat sebaran elektabilitas tanpa mengubah identitas maupun nilai yang dilaporkan. Rincian ini menjadi salah satu bagian dari hasil survei PPI mengenai simulasi elektabilitas sejumlah tokoh dalam kontestasi presiden mendatang.

Simulasi kedua yang dilakukan PPI memperluas daftar pilihan dengan melibatkan 17 nama. Daftar tersebut tidak hanya mencakup tokoh yang berasal dari partai politik parlemen, tetapi juga ketua umum partai politik serta figur yang berpeluang diusung partai nonparlemen maupun partai baru. Dengan cakupan nama yang lebih beragam, hasil ini memperlihatkan posisi para tokoh dalam skenario persaingan yang melibatkan lebih banyak kandidat.

Dalam simulasi tersebut, Prabowo Subianto kembali mencatat angka tertinggi, yakni 34 persen. Posisi berikutnya ditempati Anies Baswedan dengan 19,4 persen. Agus Harimurti Yudhoyono berada di urutan ketiga dengan 11,1 persen, sementara Gibran Rakabuming Raka memperoleh 10,9 persen. Selisih suara AHY dan Gibran tercatat tipis, yaitu 0,2 poin persentase. Muhaimin Iskandar menyusul dengan perolehan 3 persen.

Di kelompok tokoh dengan angka lebih rendah, Yusril Ihza Mahendra meraih 1,7 persen dan Pramono Anung memperoleh 1,6 persen. Puan Maharani tercatat dengan 1,4 persen, diikuti Kaesang Pangarep sebesar 1,3 persen. Surya Paloh mendapatkan 1,1 persen, sedangkan Zulkifli Hasan berada pada angka 0,8 persen. Bahlil Lahadalia meraih 0,6 persen dan Muhammad Mardiono memperoleh 0,5 persen.

Selanjutnya, Al Muzzammil Yusuf mendapatkan 0,4 persen dan Anis Matta meraih 0,3 persen. Angela Tanoesoedibjo menutup daftar dengan perolehan 0,2 persen. Urutan ini menunjukkan bahwa dukungan dalam simulasi tersebar di para nama yang diuji, meskipun jarak perolehan Prabowo dan tokoh-tokoh berikutnya terlihat cukup lebar. Sementara itu, Anies menempati posisi kedua, diikuti AHY dan Gibran dengan angka yang relatif berdekatan.

Perlu dicatat, hasil simulasi menggambarkan pilihan responden dalam skenario yang disajikan, bukan hasil pemungutan suara resmi. Karena daftar kandidat diperluas hingga 17 nama, pembacaan angka sebaiknya mempertimbangkan konteks tersebut. Data ini juga memberi gambaran tentang posisi sejumlah ketua umum dan tokoh politik lain dalam simulasi PPI, termasuk figur dari partai nonparlemen dan partai baru yang berpotensi ikut dalam kontestasi.

Dalam dua simulasi pemilihan presiden yang hasilnya dijabarkan, Prabowo Subianto menempati peringkat pertama. Pada skema terbuka, ia memperoleh 31,6 persen, sementara pada simulasi dengan daftar 17 nama, angkanya mencapai 34 persen. Kedua angka tersebut menunjukkan posisi Prabowo dalam masing-masing daftar yang diuji. Namun, hasil dari satu skema tidak dapat langsung diperlakukan sebagai gambaran yang sama persis dengan hasil skema lainnya, karena daftar kandidat yang disebutkan berbeda.

Urutan kandidat setelah Prabowo juga tidak sama dalam kedua simulasi. Pada skema terbuka, Dedi Mulyadi berada di posisi kedua. Sementara itu, dalam simulasi 17 nama, Anies Baswedan menempati urutan kedua. Dengan demikian, laporan yang tersedia mencatat perbedaan nama pada posisi berikutnya, bergantung pada susunan kandidat dalam simulasi. Angka persentase untuk Dedi Mulyadi maupun Anies Baswedan tidak dicantumkan dalam informasi yang dijabarkan di sini, sehingga perbandingan kuantitatif keduanya tidak dapat dilakukan berdasarkan data tersebut.

Bahan sumber juga menyebut adanya simulasi lima kandidat, tetapi tidak mencantumkan angka hasilnya. Karena itu, hasil untuk skema tersebut tidak dapat diuraikan atau dibandingkan dengan dua simulasi yang memiliki angka dan urutan yang tersedia.

Baca juga: Dari Rival Menjadi Sekutu: Strategi Othello Prabowo | Panglima TNI Dampingi Presiden Prabowo Tinjau Penanganan Karhutla di Riau dan Sumatera Selatan