Surabaya | Empat suporter PSS Sleman meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan lalu lintas dalam perjalanan menuju Surabaya. Peristiwa tersebut terjadi di Tol Madiun KM 616 arah Surabaya. Mereka tengah menuju kota itu untuk menyaksikan pertandingan PSS melawan Persebaya di Stadion Gelora Bung Tomo.
Laga yang hendak mereka saksikan merupakan pertandingan matchday kelima Super League, yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu (18/10). Perjalanan para suporter itu berkaitan dengan rencana mendukung PSS dalam pertandingan tandang tersebut. Informasi yang tersedia menyebut lokasi kecelakaan dan tujuan perjalanan mereka, tanpa merinci penyebab insiden maupun keadaan lainnya.
Kabar meninggalnya empat suporter ini menjadi duka bagi keluarga, sesama pendukung PSS, dan komunitas sepak bola. Kepergian mereka terjadi saat sedang menempuh perjalanan untuk hadir langsung di stadion dan memberikan dukungan kepada tim yang mereka ikuti. Peristiwa tersebut juga membawa perhatian pada suasana pertandingan yang semestinya menjadi momen dukungan bagi kedua kesebelasan.
Hingga informasi yang disampaikan dalam laporan ini, hal yang dapat dipastikan adalah empat suporter PSS meninggal setelah kecelakaan di Tol Madiun KM 616 arah Surabaya, ketika mereka dalam perjalanan menyaksikan pertandingan melawan Persebaya. Tidak ada keterangan lebih lanjut yang dapat digunakan untuk menjelaskan bagaimana kecelakaan berlangsung. Karena itu, penyebab maupun detail lain mengenai insiden tidak dapat dipastikan dari informasi yang tersedia.
Pertandingan PSS dan Persebaya di Stadion Gelora Bung Tomo tetap menjadi latar perjalanan para suporter tersebut, dengan jadwal pada Minggu (18/10) sebagai bagian dari matchday kelima Super League. Namun, kabar duka ini menempatkan keselamatan dan kehilangan para pendukung sebagai perhatian utama. Empat orang yang berangkat untuk mengikuti laga itu tidak kembali, dan kabar tersebut menyisakan kesedihan bagi lingkungan suporter PSS.
PSS Sleman dan Persebaya Surabaya sama-sama menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya empat suporter PSS dalam perjalanan menuju Surabaya. Kabar duka tersebut menjadi perhatian kedua klub, yang menyampaikan simpati kepada para korban dan keluarga yang ditinggalkan. Di tengah persiapan dan kegiatan sepak bola, kehilangan ini mengingatkan bahwa keselamatan dan kemanusiaan tetap menjadi hal utama.
Pelatih PSS, Peter Huistra, mengaku sedih setelah mendengar kabar meninggalnya para suporter. Ia menyampaikan rasa simpati kepada keluarga korban yang kini harus menghadapi kehilangan. Pernyataan tersebut mewakili duka atas peristiwa yang menimpa para pendukung PSS saat melakukan perjalanan untuk mendukung tim. Bagi Huistra, kabar itu merupakan hal yang menyedihkan dan patut mendapat perhatian.
Huistra juga berharap kejadian serupa tidak terulang. Harapan itu disampaikan sebagai ungkapan kepedulian terhadap keselamatan suporter, baik ketika bepergian untuk menyaksikan pertandingan maupun saat mendukung klub di berbagai kesempatan. Perjalanan menuju stadion semestinya dapat berlangsung dengan aman, sehingga dukungan kepada tim tidak berujung pada kehilangan nyawa dan duka mendalam bagi keluarga.
Belasungkawa dari PSS dan Persebaya menunjukkan bahwa kabar tersebut dirasakan sebagai duka bersama. Persaingan di lapangan tidak menghapus empati ketika tragedi menimpa suporter. Dalam situasi seperti ini, perhatian terhadap korban dan keluarga menjadi lebih penting daripada perbedaan klub. Simpati yang disampaikan kedua tim memberi ruang bagi keluarga untuk menjalani masa berduka dengan dukungan moral.
Ucapan duka itu juga menegaskan harapan agar keselamatan suporter senantiasa menjadi perhatian dalam perjalanan menuju pertandingan. Pesan Huistra tetap berpusat pada rasa sedih, simpati kepada keluarga korban, dan keinginan agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi. Bagi keluarga yang ditinggalkan, kehilangan empat orang terkasih merupakan duka besar. PSS dan Persebaya menyampaikan penghormatan kepada para korban serta kepedulian kepada keluarga mereka, sementara harapan agar kejadian serupa tidak terulang menjadi pesan yang menyertai belasungkawa tersebut.
Kiper Persebaya Surabaya, Ernando Ari Sutaryadi, turut menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya empat suporter PSS Sleman dalam perjalanan menuju Surabaya. Kepergian para pendukung tersebut menjadi kabar duka bagi keluarga, komunitas suporter, dan insan sepak bola Indonesia. Ernando menyampaikan rasa prihatin serta berharap keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan menghadapi kehilangan. Peristiwa ini juga menjadi pengingat bahwa perjalanan menuju pertandingan dapat membawa risiko yang harus diperhatikan oleh semua pihak, baik suporter maupun penyelenggara. Antusiasme untuk mendukung klub kesayangan, menurut pesan yang disampaikannya, tidak seharusnya membuat keselamatan diri dan orang lain terabaikan.
Ernando mengimbau seluruh suporter Indonesia agar berhati-hati saat bepergian menuju stadion, termasuk pendukung PSS, Bonek, dan Bonita. Ia mengingatkan agar setiap orang menjaga kondisi tubuh, mematuhi aturan lalu lintas, serta tidak memaksakan perjalanan apabila merasa lelah atau kendaraan tidak dalam keadaan layak. Suporter yang bepergian bersama rombongan juga perlu saling mengawasi dan memastikan seluruh anggota dapat melanjutkan perjalanan dengan aman. Perjalanan mendukung tim sebaiknya direncanakan secara matang, dengan memperhatikan waktu istirahat dan keselamatan di jalan. Pesan tersebut ditujukan kepada semua kalangan, tanpa membedakan klub yang didukung atau tujuan pertandingan.
Dalam suasana duka, peringatan Ernando menegaskan bahwa keselamatan jiwa harus ditempatkan di atas keinginan untuk menyaksikan pertandingan secara langsung. Sepak bola dan dukungan suporter memang memiliki arti penting bagi klub, tetapi tidak ada pertandingan yang lebih berharga daripada nyawa seseorang. Karena itu, ia mengajak para pendukung untuk tetap menunjukkan kecintaan kepada tim dengan cara yang aman dan bertanggung jawab. Jika kondisi perjalanan tidak memungkinkan, menunda atau membatalkan keberangkatan merupakan pilihan yang patut dipertimbangkan. Harapannya, tidak ada lagi korban dalam perjalanan menuju stadion dan setiap suporter dapat pulang dengan selamat setelah mendukung timnya. Duka bagi keluarga korban semoga mendorong seluruh komunitas sepak bola untuk lebih mengutamakan keselamatan bersama.
Di tengah kabar duka atas meninggalnya empat suporter PSS dalam perjalanan menuju Surabaya, pertandingan Persebaya melawan PSS berakhir dengan skor imbang 2-2. Hasil tersebut menjadi bagian dari konteks laga yang mempertemukan kedua tim, sementara perhatian juga tertuju pada kehilangan yang dialami keluarga korban dan komunitas suporter. Di lapangan, kedua kesebelasan saling membalas gol hingga pertandingan memasuki menit-menit terakhir.
PSS lebih dahulu membuka keunggulan melalui Melvyn Lorenzen pada menit ke-9. Persebaya kemudian menyamakan kedudukan pada menit ke-36 lewat gol Miguel Pereira. Setelah turun minum, PSS kembali memimpin ketika Hiromu Tanaka mencetak gol pada menit ke-61. Keunggulan tim tamu itu bertahan hingga penghujung laga, sebelum Pereira mencetak gol keduanya pada menit ke-90+1 dan memastikan Persebaya membawa pulang satu poin.
Skor akhir tersebut berarti kedua tim gagal mengamankan kemenangan. Bagi Persebaya, gol pada masa tambahan waktu menyelamatkan mereka dari kekalahan, tetapi hasil imbang tetap tidak memenuhi harapan tim. Pelatih Bernardo Tavares mengaku kecewa dengan hasil pertandingan itu. Ia menilai para pemain telah menunjukkan sikap yang baik selama laga, namun frustrasi karena Persebaya kebobolan dua gol dan tidak berhasil meraih tiga poin.
Tavares juga menyoroti dukungan suporter Persebaya, Bonek dan Bonita. Menurutnya, mereka layak mendapatkan hasil yang lebih baik, yakni kemenangan dan tiga poin. Pernyataan tersebut menggambarkan kekecewaan pelatih terhadap hasil akhir, meski ia mengapresiasi upaya para pemain. Dengan gol Pereira yang datang pada menit-menit penutup, Persebaya terhindar dari kekalahan, sementara PSS harus puas berbagi poin. Laga pun berakhir 2-2, setelah kedua tim bergantian unggul dan mencetak gol sepanjang pertandingan.
Baca juga: ISTDengan demikian, dalam rentang waktu kurang dari dua pekan, dua PMI asal Jembrana meninggal dunia di negara penempatan berbeda | Yuda Nabella Prameswari meninggal dunia karena dugaan bullying





