Wisata Urban sebagai Penggerak Ekonomi dan Daya Tarik Kota Indonesia

Wisata Urban sebagai Penggerak Ekonomi dan Daya Tarik Kota Indonesia

Kota Bandar Lampung | Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Chusnunia Chalim mendorong kota-kota di Indonesia untuk terus mengembangkan wisata urban sebagai salah satu pilihan dalam memperkuat daya tarik daerah. Menurutnya, peluang pengembangan pariwisata tidak semestinya hanya bertumpu pada keindahan bentang alam. Kondisi setiap wilayah berbeda, sehingga strategi yang dipilih perlu menyesuaikan karakter dan potensi yang tersedia.

Ia menjelaskan, tidak semua daerah memiliki keunggulan berupa pegunungan, pantai, danau, atau lanskap alam lain yang dapat menjadi tujuan utama wisatawan. Dalam keadaan tersebut, kawasan perkotaan dapat menawarkan pengalaman berbeda melalui ruang publik, kekayaan sejarah, kehidupan budaya, kuliner, kegiatan kreatif, serta fasilitas yang dibangun di tengah kota. Potensi-potensi itu dapat dirangkai menjadi daya tarik yang relevan bagi pengunjung sekaligus mencerminkan identitas lokal.

Wisata perkotaan juga dapat menjadi alternatif bagi daerah yang memiliki keterbatasan potensi alam. Pengembangan yang terencana memungkinkan aset kota dimanfaatkan secara lebih produktif dan mendorong pergerakan ekonomi. Kunjungan wisatawan dapat membuka peluang bagi pelaku usaha, termasuk sektor kuliner, transportasi, akomodasi, perdagangan, dan ekonomi kreatif. Dampaknya berpotensi dirasakan lebih luas ketika warga setempat dilibatkan dalam penyediaan layanan dan pengelolaan atraksi.

Karena itu, pemerintah daerah dapat memetakan keunikan kota, memperbaiki akses dan fasilitas, serta menyusun agenda yang membuat pengalaman berkunjung lebih menarik. Upaya tersebut perlu disertai perhatian terhadap kebersihan, kenyamanan, keamanan, dan kelestarian kawasan. Wisata urban tidak cukup dikembangkan melalui promosi semata; kualitas ruang kota dan keterhubungan antaratraksi juga menentukan kesan pengunjung. Perencanaan yang memperhatikan kebutuhan warga dapat membantu menjaga agar kegiatan wisata selaras dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Chusnunia menyampaikan pandangan tersebut dalam keterangan di Jakarta pada Jumat. Dorongan itu menegaskan bahwa kota dengan bentang alam yang tidak menonjol tetap dapat membangun sektor pariwisata melalui kekuatan perkotaan. Dengan mengenali potensi setempat dan mengelolanya secara konsisten, wisata urban dapat menjadi pilihan sekaligus motor ekonomi, tanpa mengharuskan setiap daerah meniru destinasi yang mengandalkan keindahan alam.

Menurut Chusnunia, wisata urban mencakup beragam pengalaman yang berakar pada kehidupan dan karakter sebuah kota. Cakupannya tidak terbatas pada kunjungan ke bangunan bersejarah atau monumen, tetapi juga meliputi sejarah lokal, tradisi, budaya, seni, belanja, dan kuliner. Wisatawan dapat mengenal perjalanan suatu kota melalui museum, kawasan heritage, arsitektur, maupun cerita yang hidup di tengah masyarakat. Pada saat yang sama, mereka bisa menikmati pertunjukan seni, menjelajahi pasar dan pusat perbelanjaan, serta mencicipi hidangan khas yang mencerminkan identitas setempat.

Ruang kota juga memungkinkan terselenggaranya kegiatan MICE, yakni meetings, incentives, conferences, and exhibitions. Pertemuan bisnis, perjalanan insentif, konferensi, dan pameran dapat menarik pengunjung yang datang dengan tujuan profesional, sekaligus membuka kesempatan bagi mereka untuk menjelajahi destinasi. Kehadiran agenda semacam ini memperluas pasar wisata perkotaan: pengalaman yang ditawarkan dapat dinikmati wisatawan rekreasi, pelaku usaha, komunitas kreatif, maupun peserta acara. Dengan demikian, kota tidak hanya menjadi tempat singgah, melainkan ruang yang menyediakan kegiatan beragam dalam satu perjalanan.

Ragam tersebut membedakan wisata urban dari wisata yang terutama bertumpu pada alam, seperti pantai, gunung, atau taman nasional. Daya tarik kota terbentuk melalui perpaduan warisan, aktivitas kontemporer, fasilitas, dan interaksi sosial. Pengalaman ini dapat berubah sesuai lingkungan yang dikunjungi, agenda perjalanan, dan hubungan wisatawan dengan warga setempat. Perbedaan itu bukan berarti kedua jenis wisata saling menggantikan; keduanya dapat saling melengkapi dalam portofolio pariwisata Indonesia.

Chusnunia berpandangan bahwa pengembangan wisata urban berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Kunjungan wisatawan dapat meningkatkan permintaan terhadap layanan akomodasi, transportasi, restoran, toko, pemandu, pekerja seni, dan penyelenggara acara. Manfaat ekonomi dapat menjangkau usaha kecil serta komunitas lokal apabila pengelolaan destinasi melibatkan mereka dan menjaga karakter kota. Selain memberi nilai tambah bagi daerah, kota yang memiliki pengalaman beragam dan berkualitas dapat memperkuat daya saing pariwisata nasional. Karena itu, pengembangan perlu dilakukan secara terencana, dengan memperhatikan pelestarian budaya, mutu layanan, aksesibilitas, dan kenyamanan warga maupun pengunjung.

Penguatan wisata urban memerlukan perencanaan terpadu agar kebijakan dan langkah pengembangan dapat berjalan searah. Perencanaan tersebut perlu melihat wisata perkotaan sebagai bagian dari pembangunan kota, sekaligus memperhatikan hubungan antarwilayah. Dalam hal ini, dukungan pemerintah pusat dibutuhkan untuk menyusun kebijakan yang dapat menjadi acuan bagi daerah. Kebijakan yang tersusun dengan baik dapat membantu pemerintah daerah memahami arah pengembangan dan menentukan langkah sesuai potensi yang dimiliki. Pendekatan terpadu juga penting agar pengembangan wisata tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan terhubung melalui sinergi antardaerah. Dengan begitu, upaya memperkuat daya tarik kota dapat dirancang secara lebih selaras dan memiliki tujuan yang jelas.

Sinergi antar daerah menjadi unsur penting karena wisata perkotaan dapat dikembangkan dengan mempertimbangkan keterkaitan kota-kota di sekitarnya. Pemerintah pusat dapat mendorong kerja sama tersebut melalui kebijakan dan koordinasi, sementara pemerintah daerah berperan mengenali serta mengelola potensi masing-masing. Perencanaan bersama dapat membuka ruang untuk menyelaraskan arah pengembangan, tanpa mengabaikan ciri khas setiap kota. Hal ini juga membantu agar potensi yang berbeda dapat dibaca sebagai bagian dari kekayaan wisata yang lebih luas. Dalam prosesnya, penyusunan kebijakan perlu memberi perhatian pada kebutuhan daerah dan mendukung kerja sama yang nyata. Tujuannya bukan menyamakan semua kota, melainkan membangun hubungan yang saling menguatkan dalam pengembangan wisata urban.

Contoh potensi tersebut disampaikan Chusnunia dari Lampung. Ia menyebut Bandar Lampung dan Metro memiliki potensi wisata perkotaan melalui sejarah, warisan budaya, dan kuliner. Ketiga unsur ini dapat menjadi dasar untuk mengenali karakter masing-masing kota serta menyusun arah pengembangan yang sesuai. Penyebutan potensi itu menunjukkan bahwa wisata urban tidak hanya bertumpu pada satu jenis daya tarik, tetapi juga dapat mencakup pengalaman yang berkaitan dengan sejarah, kebudayaan, dan makanan. Dalam konteks perencanaan terpadu, potensi Bandar Lampung dan Metro dapat menjadi bahan pertimbangan bagi kebijakan serta sinergi antar daerah. Pengembangannya tetap perlu bertolak dari potensi yang telah disebutkan, dengan koordinasi yang mendukung penguatan daya tarik perkotaan di Lampung.

Chusnunia mengajak kota-kota di Indonesia mempelajari cara kota dunia mengembangkan wisata urban, tanpa sekadar menyalin bentuk atau strateginya. New York, London, Tokyo, Paris, dan Dubai memperlihatkan bahwa daya tarik perkotaan dapat dibangun melalui perpaduan sejarah, kegiatan ekonomi, seni, dan hiburan. Pengalaman kota-kota tersebut dapat menjadi bahan pembelajaran untuk merancang pariwisata yang sesuai dengan karakter, kebutuhan, serta potensi lokal. Dengan pendekatan demikian, pengembangan wisata tidak berhenti pada upaya mendatangkan pengunjung, tetapi juga mendorong kehidupan kota yang lebih dinamis.

Ragam daya tarik yang disebut mencakup bangunan bersejarah yang memberi gambaran mengenai perjalanan dan identitas suatu kota. Pusat perbelanjaan dan perdagangan menjadi tujuan sekaligus ruang aktivitas ekonomi, sementara wisata bisnis menarik pengunjung melalui pertemuan, kegiatan profesional, dan agenda perusahaan. Kuliner juga berperan penting karena menghadirkan pengalaman yang dekat dengan kehidupan sehari-hari serta memperkenalkan tradisi setempat. Di sisi lain, konser, pameran seni berskala global, dan pusat hiburan menyediakan pilihan kegiatan bagi berbagai kelompok pengunjung. Kombinasi tersebut membuat kunjungan ke kota dapat mencakup lebih dari satu tujuan, mulai dari urusan pekerjaan hingga rekreasi dan apresiasi budaya.

Namun, ukuran keberhasilan wisata urban tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya objek wisata atau jumlah pengunjung.