Jakarta | PT Prudential Sharia Life Assurance (Prudential Syariah) memperkenalkan Prucare 360 Syariah sebagai produk asuransi jiwa syariah tradisional yang dirancang untuk memberikan perlindungan sekaligus membantu peserta menyiapkan dana bagi kebutuhan pada usia non-produktif. Peluncuran produk ini menjawab kebutuhan keluarga akan perlindungan jangka panjang, seiring persiapan finansial untuk tahap kehidupan ketika aktivitas produktif mungkin berkurang. Prucare 360 Syariah memadukan manfaat perlindungan jiwa dengan persiapan dana yang dapat dimanfaatkan pada masa mendatang. Dengan pendekatan tersebut, produk ini memperhatikan dua kebutuhan yang saling berkaitan: perlindungan keluarga dan perencanaan keuangan untuk menghadapi perubahan kebutuhan sepanjang kehidupan.
Dana yang disiapkan dapat digunakan secara fleksibel sesuai kebutuhan peserta, termasuk untuk mendukung biaya penunjang kesehatan. Fleksibilitas ini memberi ruang bagi peserta untuk menyesuaikan pemanfaatan dana dengan kondisi dan prioritas pada usia non-produktif. Misalnya, dana tersebut dapat membantu memenuhi pengeluaran terkait kesehatan yang dapat muncul seiring bertambahnya usia. Kehadiran komponen persiapan dana melengkapi perlindungan jiwa dalam satu produk, sehingga perencanaan tidak hanya berfokus pada risiko kehilangan pencari nafkah, tetapi juga pada kebutuhan peserta di kemudian hari. Peserta dapat mempertimbangkan tujuan keuangan serta kebutuhan keluarga ketika menyusun rencana, dengan tetap memahami ketentuan dan manfaat yang berlaku dalam polis.
Salah satu aspek penting Prucare 360 Syariah adalah rancangan perlindungan dalam satu polis yang dapat berlanjut tanpa jeda hingga peserta berusia 80 tahun. Rentang perlindungan tersebut memungkinkan peserta merencanakan kebutuhan jangka panjang dengan melihat kesinambungan perlindungan pada berbagai tahap kehidupan. Perlindungan yang berlanjut hingga usia lanjut juga relevan ketika kebutuhan finansial dan kesehatan dapat berubah dari waktu ke waktu. Dengan menggabungkan manfaat perlindungan jiwa, persiapan dana yang fleksibel, dan durasi perlindungan hingga usia 80 tahun, produk ini menawarkan pilihan perencanaan berbasis syariah untuk menghadapi masa non-produktif. Calon peserta sebaiknya menelaah rincian manfaat, persyaratan, dan ketentuan polis sebelum menentukan kesesuaian produk dengan rencana keuangan mereka.
Kebutuhan perlindungan tidak selalu sama sepanjang hidup. Pada usia produktif, seseorang umumnya berfokus pada pekerjaan, membangun penghasilan, dan memenuhi kebutuhan keluarga. Perlindungan kesehatan yang tersedia melalui perusahaan atau pekerjaan dapat menjadi penopang penting selama masa tersebut. Namun, manfaat itu sering melekat pada status kerja dan tidak otomatis berlanjut ketika seseorang berhenti bekerja, memasuki masa pensiun, atau mengalami perubahan karier. Karena itu, perlindungan yang hanya mengandalkan fasilitas kerja berpotensi meninggalkan celah ketika keadaan hidup berubah.
Saat penghasilan rutin berkurang atau berhenti, kebutuhan kesehatan justru dapat meningkat. Risiko penyakit dan kebutuhan perawatan dapat bertambah seiring bertambahnya usia, sementara kemampuan membiayai pengobatan dari pendapatan bulanan mungkin tidak lagi sama seperti sebelumnya. Kondisi ini membuat perencanaan perlindungan jangka panjang relevan, bukan hanya bagi mereka yang sedang bekerja, tetapi juga bagi orang yang ingin menjaga kesiapan finansial pada fase kehidupan berikutnya. Tanpa kesinambungan perlindungan, biaya perawatan yang datang pada waktu penghasilan terbatas dapat menjadi tekanan tersendiri.
Tantangan tersebut semakin penting jika melihat proyeksi biaya kesehatan. Inflasi medis di Indonesia diperkirakan mencapai 17,8 persen pada 2026, sedangkan inflasi umum diperkirakan sekitar 2,5 persen—selisih yang membuat kenaikan biaya kesehatan hampir tujuh kali lebih tinggi. Angka ini menunjukkan bahwa pengeluaran untuk layanan kesehatan dapat meningkat jauh lebih cepat daripada kenaikan harga barang dan jasa secara umum. Ketika biaya perawatan terus naik tanpa perlindungan berkelanjutan, tabungan yang dikumpulkan untuk kebutuhan lain berisiko terkikis. Keluarga pun dapat ikut menanggung beban, baik melalui bantuan langsung maupun pengalihan dana dari rencana keuangan mereka sendiri. Menyiapkan perlindungan yang dapat mengikuti perubahan fase kehidupan membantu mengurangi kesenjangan meningkatnya risiko kesehatan dan berkurangnya penghasilan atau manfaat kerja, sehingga keluarga memiliki dasar perencanaan yang lebih terjaga ketika kebutuhan medis muncul.
Kebutuhan perlindungan jangka panjang semakin relevan ketika banyak keluarga menghadapi tanggung jawab lintas generasi. Sebagian anak muda membantu membiayai kebutuhan orang tua, sementara pada saat yang sama mereka perlu menyiapkan pendidikan, tempat tinggal, kesehatan, dan masa pensiun sendiri. Situasi ini kerap disebut kondisi generasi sandwich: pendapatan dan perhatian harus dibagi untuk mendukung orang tua maupun membangun kestabilan masa depan pribadi. Beban tersebut tidak selalu muncul sebagai satu pengeluaran besar. Kebutuhan sehari-hari, biaya perawatan, serta ketidakpastian kondisi kesehatan dapat menjadi tanggung jawab yang berlangsung selama bertahun-tahun. Karena itu, pembicaraan tentang perencanaan finansial keluarga juga mencakup cara menghadapi risiko jangka panjang, bukan hanya memenuhi kebutuhan bulan ini.
Gambaran mengenai struktur keluarga di Indonesia turut menunjukkan pentingnya isu tersebut. Data BKKBN menyebut satu dari tiga keluarga di Indonesia, atau 33,98 persen, hidup bersama lansia. Tinggal bersama dapat memperkuat kedekatan dan dukungan antaranggota keluarga, tetapi juga dapat berarti kebutuhan lansia menjadi bagian dari perencanaan rumah tangga. Setiap keluarga memiliki keadaan berbeda, termasuk tingkat pendapatan, kesehatan, serta pembagian tanggung jawab di anggota keluarga. Angka itu tidak dengan sendirinya menjelaskan besarnya beban yang ditanggung masing-masing rumah tangga, namun memberikan konteks bahwa hidup bersama lansia merupakan pengalaman yang cukup luas. Bagi anak muda yang berada dalam posisi generasi sandwich, kondisi tersebut dapat mendorong pertimbangan lebih awal mengenai kemampuan keluarga menghadapi perubahan kebutuhan di masa depan.
Temuan Financial Mindset of Young Adults in Asia 2025 juga mencerminkan perhatian anak muda terhadap kemandirian finansial. Sebanyak 88 persen anak muda Indonesia berusia 20–35 tahun ingin memiliki perlindungan finansial agar tidak menjadi beban keluarga pada masa tua. Sementara itu, 77 persen anak muda di Asia menyebut keamanan finansial sebagai kecemasan utama. Data tersebut menunjukkan adanya kepedulian terhadap dampak kondisi keuangan pribadi bagi keluarga, sekaligus kekhawatiran mengenai masa depan. Mempersiapkan perlindungan sejak usia produktif dapat menjadi salah satu bagian dari upaya menjaga diri dan keluarga, berdampingan dengan menabung, mengatur pengeluaran, dan merencanakan kebutuhan jangka panjang. Namun, persiapan semacam ini bukan jaminan bahwa persoalan generasi sandwich akan hilang. Kebutuhan setiap orang berbeda, sehingga pilihan perlindungan perlu dipertimbangkan sesuai kemampuan, kondisi keluarga, dan tujuan keuangan masing-masing.
Chief Product and Health Officer Prudential Syariah Ika Meynita menjelaskan bahwa rancangan perlindungan Prucare 360 Syariah disusun agar manfaatnya dapat mengikuti perubahan fase kehidupan peserta. Kebutuhan seseorang saat masih aktif bekerja dan produktif tentu dapat berbeda dari kebutuhan ketika memasuki masa non-produktif. Karena itu, produk ini dirancang dengan manfaat yang menyesuaikan perjalanan hidup, sehingga perlindungan tidak hanya relevan pada satu tahap usia. Skema tersebut memberi peserta ruang untuk menghadapi kebutuhan yang berubah seiring bertambahnya usia.
Pada usia produktif, peserta memperoleh perlindungan jiwa. Untuk peserta yang memilih plan Prime, tersedia pula dukungan bagi kebutuhan rawat inap. Manfaat ini dapat membantu peserta menghadapi risiko kesehatan ketika masih menjalani kegiatan dan tanggung jawab sehari-hari. Ketika peserta memasuki usia non-produktif, rancangan manfaat beralih: peserta memiliki dana yang dapat digunakan secara fleksibel untuk kebutuhan perawatan kesehatan. Dengan demikian, manfaat pada tahap tersebut diarahkan untuk mendukung kebutuhan yang mungkin lebih berfokus pada pemeliharaan kesehatan dan perawatan.
Ika menyampaikan bahwa peralihan manfaat fase produktif dan non-produktif itu tidak mengharuskan peserta menjalani underwriting ulang.
Baca juga: Calo SIM Tawarkan Kemudahan, Warga Tulungagung Harus Bayar Berlipat dari Tarif Resmi | Bank Syariah Tak Lagi Ribet, Aladin Bawa Semua Layanan ke Genggaman | Api Belum Usai Perjuangan Berlanjut, Satgas Irigasi Lanud Sjamsudin Noor Terus Perkuat Upaya Padamkan Karhutla Kalsel Optimalkan Air Hingga Dinginkan Lahan Gambut





