Kabupaten Jepara | Tiga ahli ukir dari Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, dilibatkan dalam upaya merestorasi ornamen kayu Masjid Istiqlal di Sarajevo, Bosnia dan Herzegovina. Mereka adalah Sutrisno, Jawawi Firnandes, dan Widodo, para perajin yang memiliki keahlian dalam pengerjaan ukiran kayu. Keterlibatan mereka membawa keterampilan khas Jepara ke sebuah masjid penting di ibu kota Bosnia dan Herzegovina, sekaligus mendukung pemeliharaan unsur artistik bangunan tersebut. Restorasi ini berfokus pada ornamen kayu yang menjadi bagian dari tampilan interior masjid.
Ketiganya berangkat menuju Sarajevo pada Selasa (13/10), dalam rombongan yang dipimpin Ikhwan Syaefulloh. Ikhwan merupakan tenaga ahli Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat. Dalam penugasan tersebut, ia mendapat mandat untuk mengoordinasikan pekerjaan restorasi bersama pengurus masjid serta pihak-pihak terkait di Sarajevo. Koordinasi itu menjadi bagian penting dari pelaksanaan pekerjaan, mengingat proses perawatan harus dilakukan dengan memperhatikan kondisi ornamen dan kebutuhan masjid. Kehadiran para perajin Jepara diharapkan dapat membantu pekerjaan berlangsung melalui keahlian yang sesuai dengan karakter material dan ukiran yang ditangani.
Masjid Istiqlal di Sarajevo memiliki arti lebih luas daripada sekadar tempat ibadah. Bangunan tersebut menjadi salah satu simbol persahabatan Indonesia dan Bosnia dan Herzegovina. Karena itu, keterlibatan tenaga ahli dari Indonesia dalam merawat ornamen masjid turut mencerminkan hubungan yang terjalin kedua negara. Pengiriman perajin Jepara juga memperlihatkan kontribusi keterampilan daerah Indonesia dalam kegiatan pemeliharaan bangunan di luar negeri. Bagi para perajin, penugasan ini berarti menerapkan keahlian ukir dalam lingkungan dan konteks yang berbeda, sementara bagi masjid, pekerjaan restorasi mendukung upaya menjaga ornamen kayu tetap terawat. Dengan bekerja bersama pengurus masjid dan pihak setempat, tim dapat menjalankan tugasnya sebagai bagian dari perawatan sebuah bangunan yang memiliki nilai budaya serta makna diplomatik bagi Indonesia dan Bosnia dan Herzegovina.
Ornamen Masjid Istiqlal di Sarajevo yang kini akan direstorasi bukan sekadar unsur penghias ruang ibadah. Karya tersebut dibuat oleh pengukir Jepara puluhan tahun lalu dan menjadi bagian dari hadiah Presiden ke-3 Republik Indonesia, B.J. Habibie, kepada Bosnia dan Herzegovina. Latar belakang ini menempatkan pekerjaan restorasi dalam konteks hubungan Indonesia dengan Bosnia dan Herzegovina, sekaligus memperlihatkan bagaimana keterampilan seni ukir Jepara hadir dalam sebuah bangunan penting di Sarajevo. Karena itu, upaya pemulihan ornamen turut berkaitan dengan pemeliharaan jejak hubungan tersebut, bukan hanya dengan perbaikan fisik benda seni.
Meski asal karya dan kaitannya dengan hadiah Indonesia diketahui, identitas para pengukir yang membuat ornamen itu belum berhasil ditelusuri. Informasi yang tersedia belum memastikan siapa perajinnya maupun kapan tepatnya karya tersebut dibuat. Oleh sebab itu, restorasi perlu berpijak pada keterangan yang dapat dipastikan, tanpa mengaitkan ornamen dengan nama tertentu atau menetapkan tahun pembuatan yang belum terverifikasi. Sikap hati-hati ini penting agar narasi sejarah yang menyertai pemulihan tetap akurat, serta tidak mengubah ketidakpastian arsip menjadi klaim yang seolah-olah telah terbukti.
Jejak hadiah B.J. Habibie memberi makna tambahan bagi pekerjaan para pemulih saat ini. Ornamen tersebut merepresentasikan pertemuan keterampilan pengukir Jepara dan hubungan persahabatan Indonesia–Bosnia dan Herzegovina, sebagaimana tercermin dalam pemberian kepada negara itu. Dengan merestorasinya, tim berupaya menjaga karya lama agar tetap terawat dan dapat dikenali sebagai bagian dari sejarah masjid. Pada saat yang sama, keterbatasan informasi mengenai pembuatnya mengingatkan bahwa dokumentasi sejarah seni perlu terus dilengkapi. Pemulihan yang dilakukan dengan cermat dapat melindungi benda tersebut, sambil mempertahankan batas yang jelas fakta tentang asal-usulnya dan hal-hal yang masih belum diketahui.
Misi pemulihan ornamen Masjid Istiqlal di Sarajevo bermula dari kunjungan Lestari Moerdijat ke Bosnia pada Februari 2026. Dalam kunjungan tersebut, perempuan yang akrab disapa Rerie itu melihat langsung kondisi sejumlah bagian masjid yang mengalami kerusakan. Temuan itu mencakup ornamen kayu yang menjadi unsur penting dalam tampilan ruang ibadah. Kerusakan yang tampak mendorong perhatian pada kebutuhan perawatan, sekaligus membuka pembicaraan mengenai bentuk bantuan yang dapat diberikan. Bagi Rerie, kondisi tersebut bukan sekadar persoalan penampilan, melainkan pekerjaan yang perlu ditangani agar bagian-bagian masjid yang terdampak dapat kembali tertata dan berfungsi dengan baik.
Bagian yang paling membutuhkan penanganan adalah enam pilar ukir berbahan kayu jati. Kondisinya dinilai sudah tidak memungkinkan untuk dipulihkan dengan cara menambal bagian yang rusak, sehingga penggantian secara menyeluruh diperlukan. Keputusan itu membedakan pekerjaan ini dari perbaikan ringan: pilar-pilar tersebut perlu dibuat kembali, bukan sekadar diperbaiki pada titik tertentu. Selain enam pilar, lingkup restorasi juga mencakup bagian tangga dan hiasan dinding. Dengan demikian, misi tersebut dirancang untuk menjangkau beberapa unsur interior masjid yang mengalami kerusakan, bukan hanya satu jenis ornamen. Penanganan pada tiap bagian perlu mengikuti kebutuhan kondisi masing-masing, dengan perhatian pada bentuk ukiran dan bahan yang digunakan.
Setelah melihat kerusakan itu, Rerie menawarkan bantuan kepada pengelola Masjid Istiqlal. Tawaran tersebut disambut baik, sehingga gagasan untuk melakukan restorasi berlanjut menjadi komitmen. Perjalanan dari temuan awal menuju pelaksanaan tidak berlangsung seketika; para pengukir berangkat delapan bulan setelah kunjungan Rerie ke Bosnia. Jeda tersebut menandai proses yang menghubungkan kebutuhan masjid dengan keterampilan para perajin yang akan mengerjakan ornamen. Pengukir dari Jepara kemudian menjadi bagian penting dalam upaya pemulihan, terutama untuk membuat pengganti pilar jati dan menangani bagian lain yang masuk dalam lingkup pekerjaan. Berangkat dari pengamatan atas kerusakan, misi ini pun memiliki tujuan yang jelas: mengembalikan kondisi ornamen yang terdampak melalui pengerjaan yang sesuai kebutuhan, dengan dukungan pengelola masjid dan keahlian ukir Jepara.
Lestari Moerdijat memandang pemulihan ornamen Masjid Istiqlal di Sarajevo sebagai tindak lanjut dari inisiatif yang lebih luas untuk memperkuat diplomasi budaya Indonesia. Melalui kerja para pengukir Jepara, keahlian tradisional dari Tanah Air dapat diperkenalkan kepada masyarakat internasional dalam bentuk karya yang nyata dan bermakna. Restorasi ini bukan sekadar upaya memperbaiki unsur bangunan, tetapi juga kesempatan untuk menunjukkan ketelitian, pengetahuan bahan, serta nilai artistik yang membentuk tradisi ukir Jepara. Kehadiran para perajin dan hasil kerja mereka di Sarajevo membuka ruang perjumpaan kebudayaan Indonesia dan masyarakat setempat, sekaligus memperkaya hubungan yang dibangun melalui seni dan warisan bersama.
Misi tersebut berkaitan dengan rangkaian diplomasi yang mendukung pengajuan seni ukir Jepara sebagai warisan budaya takbenda UNESCO. Upaya pengakuan ini membutuhkan pemahaman luas mengenai nilai tradisi, proses pewarisan, dan peran para pelakunya. Diplomasi budaya dapat membantu menyampaikan unsur-unsur tersebut kepada khalayak lintas negara, sementara proyek restorasi menyediakan contoh konkret tentang bagaimana keterampilan lokal berkontribusi pada kebutuhan di luar Indonesia. Dengan demikian, pekerjaan di Sarajevo ikut memperlihatkan bahwa seni ukir Jepara memiliki relevansi internasional, tanpa melepaskan akar sosial dan sejarahnya. Pengajuan kepada UNESCO menjadi bagian dari usaha menjaga keberlanjutan tradisi, bukan hanya memperoleh pengakuan formal.
Menurut Rerie, kehadiran karya Jepara di Sarajevo menegaskan jangkauan internasional keterampilan tradisional Indonesia. Pengalaman ini juga mengingatkan bahwa warisan budaya perlu dirawat melalui praktik nyata, dukungan terhadap para pengukir, dan kesempatan agar pengetahuan mereka terus digunakan. Tradisi ukir bukan semata peninggalan masa lalu yang disimpan sebagai simbol; tradisi tersebut hidup dalam keterampilan yang diwariskan antargenerasi, dipelajari melalui kerja, dan diterapkan untuk menjawab kebutuhan masa kini.






