Jakarta | Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) meminta PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. mempercepat transformasi bisnis agar perubahan perusahaan berjalan lebih terarah dan memberi dampak pada kinerja. Dorongan tersebut menempatkan pembenahan Garuda sebagai upaya yang perlu mencakup kekuatan dasar perusahaan sekaligus cara perusahaan menjalankan kegiatan penerbangan. Bagi maskapai nasional itu, transformasi bukan sekadar penyesuaian organisasi, tetapi proses untuk memperbaiki fondasi usaha dan memastikan sumber daya dimanfaatkan secara lebih tepat. Permintaan ini juga menekankan perlunya sasaran perubahan yang jelas, sehingga langkah pembenahan dapat menjadi acuan bagi manajemen dalam menentukan prioritas dan menilai perkembangan perusahaan.
Dony Oskaria, COO BPI Danantara yang juga menjabat Kepala BP BUMN, menyampaikan dorongan tersebut pada Kamis, 15 Oktober 2026. Ia menyebut tiga sasaran utama yang perlu menjadi perhatian dalam percepatan perubahan Garuda: memperkuat fundamental perusahaan, meningkatkan efisiensi operasional, serta mengoptimalkan kapasitas dan layanan penerbangan. Ketiga sasaran itu saling berkaitan. Fundamental yang lebih kuat menjadi landasan bagi keberlanjutan usaha, sedangkan efisiensi dapat membantu perusahaan menggunakan aset dan biaya secara lebih cermat. Pada saat yang sama, pengelolaan kapasitas dan mutu layanan perlu mendukung kebutuhan penerbangan serta pengalaman penumpang. Dengan demikian, transformasi diarahkan pada pembenahan menyeluruh, bukan hanya satu aspek bisnis.
Penekanan pada sasaran pasar dan kapasitas juga membuat Garuda perlu memperjelas bagaimana jaringan penerbangan, armada, dan layanan dapat dikelola sesuai arah bisnis yang hendak dicapai. Keputusan operasional yang selaras dengan prioritas perusahaan dapat membantu menghindari pemanfaatan sumber daya yang tidak optimal. Namun, perubahan tersebut perlu diterjemahkan ke dalam langkah yang terukur dan dilaksanakan secara konsisten. Bagi Danantara, percepatan transformasi menjadi bagian dari upaya mendorong perusahaan memperbaiki kinerja dan memperkuat kesiapan menghadapi tantangan industri penerbangan. Garuda diharapkan mampu menjadikan tiga sasaran itu sebagai pedoman dalam menentukan prioritas, sehingga pembaruan bisnis dapat mendukung efisiensi sekaligus menjaga kualitas layanan kepada masyarakat.
Kejelasan target pasar menjadi landasan penting dalam strategi percepatan transformasi Garuda Indonesia. Danantara menekankan perlunya perusahaan memahami dengan tegas pasar yang hendak dilayani, sehingga keputusan bisnis dapat diarahkan pada tujuan yang konsisten. Tanpa batasan dan prioritas yang jelas, maskapai berisiko mudah terdistraksi oleh berbagai peluang di luar sasaran utama. Peluang baru tetap dapat dipertimbangkan, tetapi perlu dinilai berdasarkan kesesuaiannya dengan strategi, kemampuan perusahaan, dan kebutuhan pelanggan yang ingin dilayani. Dengan demikian, fokus pasar bukan sekadar pilihan pemasaran, melainkan acuan untuk menentukan penggunaan sumber daya, pengembangan layanan, dan langkah peningkatan daya saing. Arah yang terjaga juga membantu manajemen mengevaluasi keputusan secara lebih terukur, alih-alih merespons setiap kesempatan tanpa hubungan yang kuat dengan rencana jangka panjang.
Penguatan pasar domestik dipandang sebagai prioritas untuk membangun daya saing maskapai nasional. Fokus pada pasar dalam negeri dapat membantu Garuda Indonesia memperkokoh pijakan bisnisnya dan memastikan strategi transformasi bertumpu pada kebutuhan yang relevan. Prioritas ini bukan berarti mengabaikan peluang lain, melainkan menempatkan perhatian dan kapasitas perusahaan secara terarah. Ketika sasaran domestik dirumuskan dengan baik, perusahaan dapat menyelaraskan jaringan, mutu layanan, dan keputusan operasional dengan tujuan yang telah ditetapkan. Konsistensi tersebut penting agar transformasi menghasilkan manfaat yang nyata dan berkelanjutan. Garuda juga perlu menghindari perubahan arah yang terlalu sering, karena hal itu dapat mengaburkan prioritas serta menyulitkan pengukuran hasil. Penetapan fokus yang disiplin memberi dasar bagi perusahaan untuk menilai kemajuan secara berkala, sekaligus menjaga agar berbagai inisiatif tetap mendukung posisi dan daya saingnya di pasar domestik.
Selain memilih pasar yang menjadi prioritas, Garuda Indonesia perlu menentukan diferensiasi produk berdasarkan kebutuhan pelanggan. Penawaran dan pengalaman layanan sebaiknya dirancang agar memiliki nilai yang jelas dan relevan, bukan sekadar mengikuti kecenderungan sesaat. Pemahaman terhadap kebutuhan pelanggan dapat menjadi dasar untuk menetapkan aspek layanan yang perlu diperkuat, kemudian menyelaraskannya dengan kemampuan perusahaan. Pendekatan ini membantu membangun alasan yang kuat bagi pelanggan untuk memilih layanan Garuda, sekaligus menjaga agar pengembangan produk tidak menyimpang dari sasaran pasar. Diferensiasi yang terarah juga membutuhkan evaluasi berkala, sehingga perusahaan dapat menyesuaikan penawaran ketika kebutuhan berubah tanpa kehilangan fokus strategis. Dengan kejelasan target, prioritas domestik, serta produk yang dibedakan secara relevan, Garuda memiliki pijakan lebih kokoh untuk menjalankan transformasi dan memperkuat daya saingnya sebagai maskapai nasional.
Dony menilai daya saing Garuda Indonesia tidak cukup ditentukan oleh produk penerbangan, seperti jaringan rute atau layanan di dalam pesawat. Maskapai juga perlu memperhatikan keseluruhan nilai yang diterima pelanggan dan pengalaman yang mereka rasakan pada setiap tahap perjalanan. Dalam persaingan yang semakin ketat, kualitas interaksi dapat menjadi pembeda yang membuat pelanggan menilai layanan secara utuh, bukan hanya berdasarkan satu unsur perjalanan.
Pengalaman tersebut dimulai sebelum pelanggan tiba di bandara. Akses melalui situs web, misalnya, perlu dirancang agar informasi mudah ditemukan dan proses pemesanan berjalan jelas. Setelah itu, pengalaman berlanjut pada tahap check-in, ketika pelanggan mengharapkan proses yang tertib dan efisien. Bagi penumpang yang menggunakan lounge, kenyamanan ruang tunggu juga menjadi bagian dari persepsi terhadap layanan. Setiap titik interaksi ini membentuk rangkaian yang saling berkaitan dan turut memengaruhi penilaian pelanggan terhadap maskapai.
Rangkaian pengalaman berlanjut melalui proses boarding hingga layanan selama penerbangan. Karena itu, konsistensi menjadi penting: standar yang dijanjikan pada satu tahap perlu tercermin pada tahap berikutnya. Jika mutu layanan terasa berbeda-beda, pengalaman pelanggan dapat terputus dan nilai yang ditawarkan maskapai menjadi kurang kuat. Sebaliknya, perancangan yang selaras dengan standar layanan Garuda dapat membantu menghadirkan perjalanan yang lebih mudah, nyaman, dan dapat diandalkan.
Pendekatan menyeluruh ini diharapkan memberi nilai tambah bagi pelanggan sekaligus memperkuat posisi Garuda di pasar. Nilai tambah tidak hanya berarti fasilitas yang lebih banyak, tetapi juga kemudahan, kejelasan, dan perhatian yang konsisten sepanjang perjalanan. Ketika pengalaman tersebut memenuhi harapan, pelanggan memiliki alasan lebih kuat untuk memilih kembali layanan maskapai. Dalam jangka panjang, perhatian pada pengalaman pelanggan dapat mendukung keberlanjutan bisnis melalui hubungan yang lebih baik dengan pelanggan dan daya saing yang lebih kokoh.
Percepatan transformasi Garuda Indonesia perlu diarahkan agar perusahaan tidak hanya mengandalkan harga tiket sebagai cara bersaing. Harga tetap menjadi pertimbangan bagi penumpang, tetapi persaingan yang bertumpu semata-mata pada tarif dapat mengaburkan nilai lain yang ditawarkan maskapai. Karena itu, arah pembenahan perlu memperjelas siapa pasar yang hendak dilayani dan alasan pelanggan memilih Garuda, termasuk melalui kualitas layanan serta pengalaman perjalanan yang konsisten.
Penekanan pada kualitas bukan berarti mengabaikan kebutuhan akan harga yang sesuai. Sebaliknya, perusahaan perlu membangun penawaran yang dapat dipahami pelanggan: layanan yang bernilai, sesuai kebutuhan, dan sejalan dengan karakter pasar sasaran. Kejelasan tersebut dapat membantu Garuda menentukan prioritas transformasi, mulai dari cara menyusun produk hingga bagaimana manfaat layanan disampaikan. Dengan begitu, keputusan pelanggan tidak semata-mata ditentukan oleh perbandingan tarif, melainkan juga oleh pertimbangan atas keseluruhan nilai yang mereka terima.
Dony menilai Garuda telah menjalani proses turnaround dalam satu tahun terakhir. Menurutnya, jumlah penerbangan yang beroperasi dan pendapatan perusahaan meningkat signifikan. Penilaian ini menunjukkan adanya perkembangan dalam pemulihan, namun arah transformasi tetap perlu diperjelas agar momentum tersebut mendukung persaingan yang berkelanjutan.
Baca juga: Wujudkan Pembangunan Tepat Sasaran, Babinsa Turut Hadiri Musrenbangdes | Aduan Warga Menguak Dugaan Praktik Pinjaman Ilegal, PNS Dinsos Tuban Diminta Klarifikasi

