Jakarta | Meningkatnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia memunculkan pertanyaan di kalangan masyarakat mengenai kondisi kualitas udara Jakarta. Kekhawatiran itu terlihat dalam sejumlah percakapan pengguna media sosial Threads yang membahas perubahan suasana udara di ibu kota. Warga mempertanyakan apakah asap dari kebakaran di daerah lain berpotensi terbawa angin dan memengaruhi wilayah Jakarta.
Beberapa pengguna menyebut udara terasa lebih berpolusi dibandingkan biasanya. Ada pula yang menggambarkan suasana langit sebagai agak mendung, meskipun kondisi tersebut tidak selalu disertai hujan. Jarak pandang yang dirasakan berkurang turut menjadi perhatian, terutama bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan atau melihat perubahan kejernihan langit dari kawasan tempat tinggalnya.
Rasa gerah juga disebut dalam percakapan tersebut. Sebagian warga menghubungkan kombinasi udara yang terasa panas, langit yang tidak sepenuhnya cerah, serta pandangan yang tampak lebih terbatas dengan kemungkinan adanya asap karhutla di sekitar ibu kota. Pertanyaan mengenai arah pergerakan asap pun ikut muncul, termasuk apakah kondisi angin dapat membawa partikel dari wilayah terdampak kebakaran menuju Jakarta.
Unggahan dan tanggapan itu mencerminkan perhatian masyarakat terhadap hubungan kebakaran hutan dan lahan di berbagai daerah dengan kualitas udara perkotaan. Namun, kekhawatiran yang disampaikan pengguna Threads tersebut masih berupa pertanyaan dan pengamatan terhadap kondisi yang mereka rasakan. Karena itu, isu mengenai kemungkinan masuknya asap karhutla ke Jakarta menjadi hal yang terus ditanyakan masyarakat di tengah pemberitaan tentang kebakaran di sejumlah wilayah Indonesia.
Sekretaris Utama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Guswanto, menjelaskan bahwa Jakarta dan wilayah Jabodetabek tidak termasuk dalam area sebaran asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berdasarkan peta pemantauan BMKG. Keterangan tersebut disampaikan untuk menjelaskan posisi wilayah ibu kota terhadap pergerakan asap yang terpantau dari sejumlah titik karhutla.
Dalam peta BMKG, area sebaran asap ditandai menggunakan garis putus-putus berwarna merah muda. Penanda visual itu digunakan untuk memperlihatkan wilayah yang terindikasi berada dalam jalur sebaran asap berdasarkan hasil pemantauan dan analisis meteorologi. Dengan melihat batas yang ditampilkan pada peta, Jakarta serta kawasan Jabodetabek tidak terlihat berada di dalam area yang diberi penanda tersebut.
Guswanto menegaskan bahwa asap karhutla belum terpantau mengarah ke Jakarta. Pernyataan ini merujuk secara khusus pada pola sebaran asap yang terlihat dalam peta BMKG, bukan merupakan penilaian menyeluruh terhadap kondisi kualitas udara di setiap wilayah. Kualitas udara dapat dipengaruhi berbagai faktor lain, termasuk emisi kendaraan, aktivitas industri, kondisi cuaca, dan konsentrasi polutan lokal.
Karena itu, informasi mengenai posisi Jakarta dan Jabodetabek perlu dipahami sesuai konteks pemantauan sebaran asap karhutla. Tidak masuknya kedua wilayah tersebut dalam area bertanda pada peta menunjukkan bahwa, berdasarkan pengamatan BMKG saat keterangan itu disampaikan, asap dari karhutla belum terpantau bergerak menuju Jakarta. Perkembangan arah angin, cuaca, dan sumber kebakaran tetap dapat dipantau melalui pembaruan resmi BMKG.
BMKG masih mendeteksi keberadaan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia berdasarkan citra sebaran asap pada 14 Oktober. Pemantauan tersebut menunjukkan bahwa asap belum hanya menjadi perhatian di satu kawasan, melainkan teramati di beberapa wilayah Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Data citra digunakan untuk melihat pola sebaran asap serta arah pergerakannya berdasarkan kondisi atmosfer pada saat pengamatan.
Wilayah yang disebutkan dalam pemantauan BMKG meliputi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Kepulauan Riau, Bengkulu, Kepulauan Bangka Belitung, dan Sumatera Selatan. Sebaran asap juga terdeteksi di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Di kawasan Sulawesi, asap terpantau di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Gorontalo, serta Sulawesi Utara. Pemantauan serupa mencakup Maluku, Maluku Utara, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, dan Papua Selatan.
Secara umum, angin di Indonesia pada periode tersebut bergerak dari arah timur hingga tenggara menuju barat laut hingga utara. Namun, berdasarkan citra sebaran asap, pergerakan asap di sejumlah wilayah terpantau menuju arah barat laut hingga timur laut. Perbedaan pola angin umum dan arah sebaran pada tiap lokasi dapat dipengaruhi kondisi atmosfer setempat serta posisi sumber asap. BMKG terus memantau perkembangan sebaran tersebut melalui data pengamatan dan citra satelit untuk memberikan gambaran terbaru mengenai wilayah yang terdampak asap.
Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa pemantauan atmosfer juga mencatat adanya pergerakan asap lintas batas atau transboundary haze. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa asap dari kebakaran hutan dan lahan di suatu wilayah dapat terbawa angin menuju negara atau kawasan lain. Berdasarkan hasil pengamatan, sebagian asap terpantau bergerak dari wilayah Sumatera menuju Semenanjung Malaysia dan Singapura. Pergerakan ini mengikuti pola angin pada lapisan atmosfer dan tidak secara otomatis menunjukkan bahwa seluruh wilayah Indonesia terdampak dengan tingkat yang sama.
Selain dari Sumatera, asap juga terpantau bergerak dari Kalimantan menuju Sarawak, Malaysia. Di kawasan timur Indonesia, pergerakan asap dari Papua Nugini terpantau mengarah ke sejumlah wilayah di Indonesia, yakni Papua Selatan, Papua Pegunungan, dan Papua. Informasi tersebut menjadi bagian dari pemantauan regional yang dilakukan BMKG untuk mengetahui arah sebaran aerosol, termasuk asap akibat kebakaran hutan dan lahan, melalui citra satelit serta analisis kondisi angin.
Guswanto menegaskan bahwa temuan mengenai sebaran asap di sejumlah wilayah Indonesia perlu dibedakan dari kondisi Jakarta. Hingga pemantauan dilakukan, BMKG belum mendeteksi adanya pergerakan asap karhutla yang mengarah ke Ibu Kota. Dengan demikian, informasi tentang asap yang bergerak melintasi batas wilayah di Sumatera, Kalimantan, dan Papua tidak dapat langsung diartikan sebagai indikasi bahwa asap tersebut menuju Jakarta. BMKG tetap memantau perubahan arah angin, kondisi atmosfer, serta perkembangan titik panas untuk memperbarui informasi mengenai potensi sebaran asap secara berkala.
Baca juga: Pastikan Sumber Air Karhutla Tetap Andal, Personel Lanud Sjamsudin Noor Siaga 24 Jam Dukung Kesiapan dan Operasi Penanganan Karhutla | Gelap Malam Tak Jadi Penghalang, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Kembali Berjibaku Hadang Karhutla Hingga Dini Hari | Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas
