Jakarta | Sebuah survei besar yang melibatkan puluhan pakar kesehatan dunia memetakan 17 ancaman utama yang berpotensi dihadapi manusia sepanjang abad ke-21. Hasil penelitian tersebut dilaporkan dalam jurnal The Lancet dan dipimpin oleh Profesor Christopher JL Murray dari Universitas Washington. Pemetaan ini memberikan gambaran mengenai beragam risiko yang dapat memengaruhi keberlangsungan kehidupan manusia, sekaligus membantu menempatkan setiap ancaman dalam konteks yang lebih terukur.
Penelitian itu tidak hanya menilai seberapa mungkin suatu ancaman terjadi. Para peneliti juga mempertimbangkan besarnya dampak yang dapat ditimbulkan apabila risiko tersebut benar-benar terwujud. Perbedaan ini menjadi penting karena ancaman dengan peluang kejadian yang relatif kecil belum tentu dapat diabaikan. Sebuah risiko mungkin dinilai tidak sering terjadi, tetapi konsekuensinya dapat meluas, berat, dan mengganggu kehidupan manusia dalam skala yang sangat besar.
Dengan demikian, tingkat kemungkinan dan tingkat dampak merupakan dua ukuran yang berbeda dalam memahami risiko ekstrem. Ancaman yang peluangnya rendah tetap dapat menjadi perhatian utama apabila akibatnya berpotensi sangat dahsyat. Pendekatan tersebut memungkinkan para pakar melihat ancaman bukan hanya berdasarkan frekuensi atau probabilitas, melainkan juga berdasarkan kerusakan yang mungkin muncul terhadap manusia dan peradaban.
Temuan yang dilaporkan pada Selasa, 13 Oktober 2026, menegaskan pentingnya kewaspadaan terhadap seluruh kategori ancaman yang dipetakan. Fokusnya bukan untuk menyatakan bahwa setiap risiko pasti terjadi, melainkan untuk menunjukkan bahwa persiapan tidak semestinya hanya diarahkan pada ancaman yang paling mungkin muncul. Risiko dengan kemungkinan terbatas tetap membutuhkan perhatian apabila dampaknya dapat mengubah kehidupan manusia secara ekstrem. Survei ini menjadi dasar untuk memahami mengapa penilaian terhadap ancaman abad ke-21 perlu mempertimbangkan peluang dan konsekuensi secara bersamaan.
Salah satu risiko ekstrem yang dibahas para peneliti adalah kemungkinan kecerdasan buatan berkembang atau beroperasi di luar kendali manusia. Kekhawatiran ini masih bersifat teoretis, bukan laporan bahwa peristiwa tersebut telah terjadi. Fokusnya terletak pada skenario ketika sistem AI mencapai kemampuan yang membuat arahan, batasan, atau mekanisme pengawasan manusia tidak lagi cukup untuk mengendalikan tindakannya. Dalam keadaan seperti itu, tujuan yang ditetapkan sistem dapat dijalankan dengan cara yang tidak sesuai dengan kepentingan keselamatan manusia.
Risiko tersebut dinilai sangat serius karena kecerdasan buatan yang lepas kendali secara teori dapat memperbesar dampak dari keputusan atau tindakan berbahaya. Salah satu skenario yang disebut adalah munculnya senjata biologis yang dibuat atau didorong oleh AI, kemudian menyebar dengan cepat. Para peneliti mengkhawatirkan bahwa kombinasi kemampuan AI dan ancaman biologis dapat menciptakan konsekuensi luas, terutama apabila manusia tidak mampu mengenali, menghentikan, atau membatasi proses tersebut sebelum dampaknya membesar. Skenario ini menggambarkan potensi bahaya, bukan kejadian yang telah dikonfirmasi.
Karena itu, penelitian mengenai risiko AI tidak hanya menilai manfaat atau kesalahan teknis yang dapat diperbaiki, tetapi juga mempertimbangkan kemungkinan dampak ekstrem terhadap kelangsungan manusia. Perhatian utama diarahkan pada cara mencegah kecerdasan buatan menjadi tidak terkendali, menjaga agar sistem tetap berada dalam pengawasan manusia, serta memahami batas keselamatan yang diperlukan. Penilaian tersebut tidak menyatakan bahwa kepunahan manusia pasti terjadi. Sebaliknya, para peneliti berusaha mengidentifikasi kemungkinan terburuk sejak dini agar ancaman yang secara teori dapat memusnahkan umat manusia tidak diabaikan.
Konflik nuklir dinilai sebagai risiko ekstrem kedua yang dapat mengancam kelangsungan peradaban manusia. Kekhawatiran para ahli tidak hanya berpusat pada kehancuran langsung akibat penggunaan senjata nuklir, tetapi juga pada kemungkinan perang berskala luas yang menimbulkan gangguan berantai terhadap sistem kehidupan modern. Dalam skenario tersebut, dampaknya dapat melampaui kawasan tempat konflik berlangsung dan memengaruhi kestabilan global.
Salah satu konsekuensi paling serius adalah krisis pangan dunia. Gangguan terhadap produksi pertanian, distribusi, perdagangan, dan akses energi dapat mengurangi ketersediaan bahan makanan secara luas. Ketidakstabilan lingkungan serta terganggunya kerja sama antarnegara juga berpotensi memperburuk keadaan. Karena pangan merupakan fondasi bagi kesehatan, ekonomi, dan ketertiban sosial, kelangkaan berkepanjangan dapat meningkatkan tekanan terhadap masyarakat dan lembaga pemerintahan.
Penelitian mengenai risiko eksistensial menempatkan perang nuklir sebagai ancaman yang perlu diperhatikan karena dampaknya berpotensi mengganggu prasyarat dasar bagi keberlangsungan peradaban. Penilaian tersebut tidak semata-mata didasarkan pada kehancuran fisik, melainkan juga pada kemungkinan runtuhnya sistem sosial, ekonomi, dan politik yang menopang kehidupan manusia. Besarnya ketidakpastian tidak menghapus risikonya; justru hal itu memperkuat kebutuhan untuk memahami konsekuensi tidak langsung dan mencegah eskalasi.
Secara teori, umat manusia juga dapat menghadapi kepunahan akibat tabrakan asteroid atau letusan gunung berapi super. Kedua peristiwa tersebut memiliki kapasitas untuk mengganggu lingkungan dan rantai pangan dalam skala sangat besar. Namun, keduanya tidak ditempatkan sebagai prioritas utama dalam penilaian ini karena peluang terjadinya dinilai terlalu kecil pada abad ini. Konflik nuklir berbeda karena bergantung pada keputusan manusia dan dinamika politik, sehingga pencegahannya dapat dipengaruhi oleh kebijakan, komunikasi, serta mekanisme pengurangan ketegangan.
Selain dua ancaman yang dinilai memiliki dampak paling ekstrem terhadap keberlangsungan peradaban, penelitian tersebut mencatat 15 risiko besar lainnya. Meskipun tidak dipaparkan secara rinci dalam sumber, seluruh risiko itu dipandang serius karena masing-masing berpotensi menghilangkan lebih dari 1 miliar tahun kehidupan sehat manusia hingga 2100. Ukuran tersebut menunjukkan bahwa dampaknya tidak hanya berkaitan dengan jumlah korban dalam waktu singkat, tetapi juga dengan hilangnya kesempatan hidup sehat, produktif, dan bermakna bagi generasi yang belum lahir.
Besarnya potensi kerugian itu disebut setara dengan sekitar dua kali dampak pandemi COVID-19. Perbandingan tersebut membantu menggambarkan skala ancaman yang sedang dibahas. Pandemi telah memperlihatkan bagaimana sebuah krisis dapat memengaruhi kesehatan, perekonomian, pendidikan, dan hubungan sosial di berbagai negara secara bersamaan. Risiko-risiko besar yang dibahas dalam penelitian berpotensi menimbulkan konsekuensi yang lebih luas dan berlangsung lebih lama apabila tidak dikelola dengan serius.
Namun, pesan penelitian ini tidak dimaksudkan untuk menumbuhkan ketakutan atau anggapan bahwa masa depan manusia telah ditentukan. Profesor Murray menekankan bahwa kajian tersebut terutama berkaitan dengan kesadaran. Dengan memahami besarnya ancaman, masyarakat dan pemimpin dapat melihat bahwa masih terdapat ruang untuk mencegah, mengurangi, atau mengendalikan kemungkinan terjadinya bencana. Pengetahuan menjadi dasar penting agar keputusan tidak dibuat hanya setelah krisis muncul.
Karena itu, keputusan para pemimpin saat ini akan turut menentukan nasib generasi mendatang. Kebijakan yang diambil hari ini dapat memperkuat perlindungan jangka panjang, atau sebaliknya memperbesar kerentanan dunia terhadap risiko yang belum sepenuhnya dipahami. Para ahli disebut menyarankan tiga langkah mendesak, tetapi rincian langkah tersebut tidak dijelaskan dalam sumber yang tersedia. Hal yang paling jelas ialah perlunya perhatian, tanggung jawab, dan kemauan untuk bertindak sebelum pilihan pencegahan menjadi semakin terbatas.
Baca juga: Tim Gabungan Berjuang Padamkan Karhutla di Tengah Cuaca Ekstrem
