Kisah James A. Robinson tentang Ketimpangan Zimbabwe: Jalan ke Kediaman Presiden Tetap Terang

Kisah James A. Robinson tentang Ketimpangan Zimbabwe: Jalan ke Kediaman Presiden Tetap Terang

Jakarta | Peraih Nobel Ekonomi 2024, James A. Robinson, membagikan pengalaman penelitiannya ketika mengunjungi Zimbabwe sekitar sembilan tahun sebelumnya. Kisah tersebut disampaikan dalam diskusi yang diselenggarakan Dewan Ekonomi Nasional bersama Prasasti Center for Policy Studies pada Senin, 12 Oktober 2026. Dalam forum itu, Robinson menjelaskan bahwa perjalanannya ke Zimbabwe bukan sekadar kunjungan akademik, melainkan bagian dari upaya untuk memahami secara langsung dinamika politik dan kelembagaan yang membentuk kehidupan masyarakat negara tersebut.

Robinson datang untuk melakukan penelitian mengenai hubungan struktur politik, distribusi kekuasaan, dan perkembangan ekonomi Zimbabwe. Ia berusaha melihat bagaimana keputusan politik dibuat, siapa yang memperoleh manfaat dari kebijakan negara, serta bagaimana institusi memengaruhi kesempatan masyarakat. Pendekatan lapangan tersebut memungkinkan dirinya mengamati keadaan setempat melalui pertemuan, percakapan, dan pengamatan terhadap lingkungan sosial di luar gambaran yang biasanya disajikan dalam laporan statistik.

Dari pengalaman itu, Robinson menangkap gambaran ketimpangan sosial yang menurutnya tampak jelas. Perbedaan akses terhadap sumber daya, layanan, dan peluang terlihat berjalan beriringan dengan struktur kekuasaan yang tidak merata. Ia juga menyoroti keberadaan kelembagaan ekstraktif, yakni institusi yang cenderung mengonsentrasikan manfaat ekonomi dan politik pada kelompok tertentu, sementara sebagian besar masyarakat memiliki ruang terbatas untuk memengaruhi arah kebijakan.

Salah satu kesan yang paling kuat dalam kisah Robinson berkaitan dengan kontras kondisi masyarakat dan akses menuju pusat kekuasaan. Jalan menuju kediaman presiden, katanya, tetap terang, sementara keadaan di wilayah lain memperlihatkan keterbatasan dan kesenjangan yang lebih nyata. Gambaran tersebut menjadi ilustrasi mengenai bagaimana prioritas negara dapat tercermin dalam infrastruktur dan fasilitas yang tersedia. Bagi Robinson, pengalaman di Zimbabwe memperlihatkan bahwa ketimpangan tidak hanya hadir dalam pendapatan, tetapi juga dalam kualitas institusi, keamanan akses, serta kemampuan warga untuk memperoleh perhatian pemerintah.

Pengamatan James A. Robinson bermula setelah ia selesai makan malam di sebuah restoran. Pada malam hari, ia kemudian menaiki taksi untuk kembali ke tempat tinggalnya. Perjalanan itu pada awalnya berlangsung seperti perjalanan biasa, tanpa sesuatu yang secara khusus menarik perhatiannya. Namun, suasana berubah ketika taksi yang ditumpanginya berbelok di sebuah tikungan. Dari dalam kendaraan, Robinson melihat pemandangan yang tidak biasa dan memerlukan beberapa detik untuk memahami perbedaan yang ada di hadapannya.

Jalan-jalan di Harare tampak gelap karena minim penerangan. Kegelapan tersebut menjadi bagian yang langsung terlihat sepanjang perjalanan malam itu. Lampu jalan tidak cukup menerangi ruas-ruas yang dilewati, sehingga suasana di sekitar jalan tampak redup. Robinson tidak segera menangkap apa yang membuat pemandangan itu terasa ganjil. Setelah memperhatikannya selama beberapa saat, ia menyadari bahwa terdapat satu bagian jalan yang memiliki keadaan berbeda secara mencolok.

Ruas jalan menuju kawasan kediaman presiden justru diterangi lampu. Perbedaannya terlihat jelas dibandingkan jalan-jalan lain di Harare yang sebelumnya tampak gelap. Di satu sisi, jalan yang dilewati Robinson memperlihatkan minimnya penerangan; di sisi lain, jalur menuju kediaman presiden tampil terang. Kontras itu bukan sekadar perbedaan suasana malam, melainkan pengalaman langsung yang memperlihatkan bagaimana penerangan dapat berubah ketika jalan mengarah ke kawasan tersebut. Beberapa detik setelah taksi berbelok, Robinson memahami bahwa cahaya yang terlihat itu menandai perbedaan mencolok ruas jalan biasa dan jalan menuju kediaman presiden. Pengamatan singkat selama perjalanan taksi tersebut menjadi pusat kisahnya tentang ketimpangan di Zimbabwe.

Setelah mengamati perbedaan penerangan di Harare, James A. Robinson membicarakan kejanggalan tersebut dengan sopir taksi yang mengantarnya. Pengamatan Robinson berangkat dari kondisi jalan yang sebagian besar tampak gelap, sementara beberapa ruas tertentu terlihat memiliki penerangan yang jauh lebih baik. Perbedaan itu menimbulkan pertanyaan mengenai alasan dan pola pembangunan fasilitas umum di kota tersebut. Bagi Robinson, kontras cahaya itu bukan sekadar persoalan teknis, melainkan petunjuk tentang siapa yang memperoleh perhatian dan perlindungan lebih besar dari penyelenggara negara.

Sopir taksi kemudian menjelaskan bahwa lampu-lampu yang terlihat terang berada di jalan menuju kediaman Presiden Zimbabwe, Robert Mugabe. Penjelasan tersebut memberikan konteks langsung terhadap pemandangan yang sebelumnya tampak tidak masuk akal. Penerangan yang tersedia bukan tersebar secara merata untuk memenuhi kebutuhan warga Harare, melainkan terkonsentrasi di kawasan yang berkaitan dengan kediaman kepala negara. Dengan demikian, jawaban sopir membantu Robinson memahami bahwa perbedaan pencahayaan itu mencerminkan prioritas politik dalam penyediaan fasilitas, bukan semata-mata perbedaan kondisi geografis atau kebetulan.

Pengalaman tersebut menjadi ilustrasi konkret mengenai ketimpangan akses di dalam satu kota. Ketika jalan menuju kediaman penguasa tetap terang, lingkungan lain dapat dibiarkan menghadapi kegelapan dan keterbatasan layanan dasar. Perbandingan sederhana jalan yang diterangi dan jalan yang tidak memperoleh fasilitas serupa memperlihatkan bagaimana sumber daya publik dapat diarahkan untuk melayani kepentingan kelompok tertentu. Percakapan Robinson dengan sopir taksi karena itu penting bukan hanya sebagai anekdot perjalanan, tetapi juga sebagai gambaran nyata tentang jarak pengalaman penguasa dan kehidupan masyarakat biasa di Zimbabwe.

Pengalaman James A. Robinson saat mengamati penerangan jalan menuju kediaman presiden menjadi gambaran yang ia hubungkan dengan kondisi ekonomi Zimbabwe. Jalan tersebut tetap terang, sementara bagian-bagian lain dalam kehidupan masyarakat menghadapi persoalan yang jauh lebih berat. Bagi Robinson, perbedaan itu memperlihatkan adanya ketimpangan sosial yang sangat tinggi. Penerangan di kawasan tertentu tidak dapat dipisahkan dari keadaan ketika manfaat dan fasilitas negara tidak dirasakan secara merata oleh seluruh masyarakat.

Robinson menilai ketimpangan sosial yang tinggi merupakan salah satu gambaran utama dari keadaan Zimbabwe sekaligus alasan yang membuat ekonominya semakin memburuk. Zimbabwe meraih kemerdekaan pada 1980. Namun, 46 tahun kemudian, kondisi ekonominya disebut jauh lebih buruk dibandingkan ketika negara tersebut merdeka. Perubahan itu menunjukkan besarnya kemunduran yang berlangsung dalam jangka panjang, terutama apabila keadaan ekonomi masyarakat dibandingkan dengan harapan yang muncul setelah kemerdekaan.

Dalam penilaiannya, Robinson menyebut bahwa pendapatan per kapita Zimbabwe kini kurang lebih berada pada tingkat yang pernah dicapai pada dekade 1960-an. Dengan demikian, ukuran pendapatan rata-rata tersebut menggambarkan bahwa perekonomian negara itu telah kembali ke tingkat yang sangat rendah dibandingkan perjalanan sejarahnya. Keadaan tersebut berlangsung bersamaan dengan ketimpangan sosial yang tajam dan perbedaan mencolok dalam akses terhadap fasilitas. Robinson menilai situasi itu sebagai sebuah tragedi besar.

Baca juga: Tembus Kegelapan Malam, Prajurit Lanud Sjamsudin Noor Tetap Sigap dan Semangat Jaga Pompa Bantuan Presiden RI Untuk Suplai Air Pembahasan Gambut | Menembus Langit Banua, Hercules TNI AU Bawa Bantuan Presiden RI untuk Penanganan Karhutla di Kalimantan Selatan | Wapang TNI Hadiri Peresmian PLTS 100 GWp Tahap Pertama Oleh Presiden RI