Kabupaten Kotawaringin Barat | Kementerian Kehutanan mengintensifkan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Upaya tersebut dilakukan untuk memperkuat respons terhadap titik-titik kebakaran yang hingga kini belum sepenuhnya terkendali. Selain pengerahan personel dan peralatan di lapangan, pemerintah memastikan dukungan pemadaman dari udara melalui pengiriman helikopter pemadam.
Helikopter tersebut diharapkan dapat membantu menjangkau area yang sulit diakses oleh tim darat serta mempercepat pembasahan lahan yang terbakar. Penggunaan armada udara menjadi bagian penting dalam operasi, terutama di kawasan taman nasional yang memiliki bentang alam luas dan sejumlah lokasi dengan akses terbatas. Intensifikasi ini juga diarahkan untuk mencegah meluasnya kebakaran dan mengurangi dampaknya terhadap ekosistem serta masyarakat di sekitar kawasan.
Namun, pelaksanaan pemadaman udara menghadapi kendala kabut asap yang cukup mengganggu jarak pandang. Kondisi tersebut berpengaruh langsung terhadap pengaturan penerbangan karena setiap manuver helikopter harus mempertimbangkan aspek keselamatan awak, penerbang, dan tim yang berada di lapangan. Jarak pandang yang terbatas dapat memengaruhi waktu keberangkatan, jalur penerbangan, maupun pemilihan lokasi untuk menjatuhkan air.
Karena itu, pengerahan helikopter akan disesuaikan dengan perkembangan kondisi di lokasi dan hasil pemantauan cuaca serta jarak pandang. Tim penanganan tetap melanjutkan upaya pemadaman secara terpadu melalui koordinasi unsur kementerian, pengelola taman nasional, dan pihak terkait lainnya. Pemerintah juga perlu memastikan bahwa operasi berlangsung secara hati-hati, mengingat karhutla di Tanjung Puting belum sepenuhnya tertangani dan kabut asap masih menjadi faktor yang membatasi efektivitas pemadaman dari udara.
Upaya memperkuat pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Taman Nasional Tanjung Puting dilakukan melalui dukungan operasi udara. Langkah tersebut ditempuh karena kondisi kebakaran di sejumlah lokasi memerlukan penanganan terpadu, termasuk pemadaman dari udara untuk menjangkau area yang sulit diakses oleh tim darat. Balai Taman Nasional Tanjung Puting mengajukan permohonan dukungan pemadaman udara kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Tengah pada 9 September 2026.
Permohonan itu kemudian ditindaklanjuti melalui pelaksanaan operasi water bombing pada 20 hingga 22 September 2026. Dalam operasi tersebut, helikopter digunakan untuk menjatuhkan air ke titik-titik yang terdampak kebakaran. Dukungan ini menjadi bagian dari langkah penanganan karhutla yang menggabungkan kemampuan pemadaman udara dengan upaya pengendalian di lapangan. Pelaksanaan misi disesuaikan dengan kondisi lokasi serta faktor operasional yang memengaruhi keselamatan dan efektivitas penerbangan.
Karena kebakaran masih belum sepenuhnya terkendali, Balai Taman Nasional Tanjung Puting kembali menyampaikan permintaan dukungan pada 2 Oktober 2026. Permintaan lanjutan tersebut ditujukan untuk penanganan wilayah di Kabupaten Kotawaringin Barat dan Kabupaten Seruyan. Pengajuan kembali dilakukan sebagai bagian dari penyesuaian respons terhadap perkembangan titik kebakaran serta kebutuhan pemadaman yang masih berlangsung di kawasan taman nasional.
Selanjutnya, pada 9 Oktober 2026, surat susulan dikirim untuk menambahkan sasaran operasi, yakni Pos Tanjung Harapan di Resor Pesalat. Penambahan lokasi ini menunjukkan bahwa penanganan dilakukan secara dinamis berdasarkan pemantauan dan perkembangan kondisi di lapangan. Koordinasi dengan instansi terkait terus dilakukan agar operasi helikopter dapat berlangsung sesuai kondisi operasional yang memungkinkan. Melalui koordinasi tersebut, penentuan sasaran, kesiapan dukungan, serta pelaksanaan pemadaman udara diupayakan tetap berjalan secara terukur dan responsif.
Kementerian Kehutanan memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan di Taman Nasional Tanjung Puting melalui dukungan yang mencakup personel, anggaran, serta sarana dan prasarana pemadaman. Langkah ini ditempuh untuk memastikan respons terhadap kebakaran dapat berjalan secara terpadu, terutama ketika kondisi kabut asap menyulitkan pengamatan dan mobilisasi di lapangan. Penguatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjaga kawasan konservasi dan mengurangi dampak kebakaran terhadap ekosistem serta masyarakat di sekitar taman nasional.
Dari sisi sumber daya manusia, kementerian mengerahkan personel bantuan kendali operasi atau BKO dari unit pelaksana teknis di lingkungan Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem. Kehadiran personel tambahan diharapkan memperkuat koordinasi, mempercepat pengambilan keputusan, dan mendukung tim yang telah bekerja di lokasi. Dukungan lintas unit ini memungkinkan pengendalian operasi dilakukan dengan pembagian tugas yang lebih jelas, baik untuk pemadaman, pemantauan titik api, maupun penanganan situasi yang berkembang.
Kementerian juga menyiapkan penambahan anggaran dan pengadaan sarana-prasarana pemadaman. Dukungan pembiayaan diperlukan agar kebutuhan operasional, mobilisasi personel, dan pelaksanaan tindakan pengendalian dapat dipenuhi secara berkelanjutan. Sementara itu, ketersediaan peralatan pemadaman membantu tim menyesuaikan metode kerja dengan kondisi medan Tanjung Puting yang memiliki tantangan akses dan karakteristik lahan yang beragam.
Respons tersebut tidak hanya mengandalkan pemadaman dari udara. Operasi udara perlu dilengkapi dukungan personel dan peralatan di darat agar titik-titik kebakaran dapat ditangani secara lebih terarah. Kementerian Kehutanan turut melakukan pemantauan intensif serta evaluasi terhadap upaya pengendalian yang berlangsung. Melalui pengawasan berkelanjutan, perkembangan kebakaran dapat ditinjau, kebutuhan tambahan dapat diidentifikasi, dan strategi lapangan dapat disesuaikan berdasarkan hasil operasi serta kondisi terbaru.
Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menyatakan bahwa penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Taman Nasional Tanjung Puting dilakukan melalui kolaborasi berbagai pihak. Upaya pemadaman tidak hanya melibatkan jajaran Kemenhut, tetapi juga instansi pemerintah terkait, TNI dan Polri, pemerintah daerah, masyarakat sekitar kawasan, sektor swasta, lembaga swadaya masyarakat, serta pelaku wisata yang beraktivitas di sekitar taman nasional.
Kerja sama tersebut diperlukan untuk mempercepat penanganan di lapangan, terutama ketika kebakaran terjadi pada wilayah yang luas dan memiliki kondisi medan yang beragam. Setiap unsur berperan sesuai kapasitasnya, mulai dari pengerahan personel dan peralatan, pemantauan titik api, dukungan logistik, hingga penyampaian informasi mengenai kondisi kawasan. Keterlibatan masyarakat dan pelaku wisata juga membantu memperkuat pengawasan serta respons terhadap potensi penyebaran api.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut, Ristianto Pribadi, menyampaikan apresiasi kepada para petugas, relawan, masyarakat, dan seluruh pihak lain yang terus bekerja menangani kebakaran. Penghargaan tersebut ditujukan kepada mereka yang tetap menjalankan tugas di tengah kabut asap dan tantangan operasional selama proses pemadaman berlangsung.
Tim di lapangan menghadapi sejumlah kendala serius. Luas wilayah terdampak membuat penanganan memerlukan pembagian personel dan strategi yang cermat. Akses menuju titik api juga tidak selalu mudah, sehingga mobilisasi petugas, peralatan, dan kebutuhan pemadaman dapat berlangsung lebih lambat. Selain itu, karakteristik lahan gambut menyebabkan api berpotensi menyebar di bawah permukaan dan sulit dipadamkan secara tuntas, meskipun kobaran di permukaan telah berkurang.
Dalam pelaksanaan penanganan, Kemenhut menempatkan keselamatan personel sebagai prioritas. Langkah berikutnya adalah mengendalikan kebakaran agar tidak meluas, sekaligus melindungi kawasan konservasi dan habitat satwa liar. Perhatian khusus diberikan kepada habitat orang utan yang berada di Taman Nasional Tanjung Puting, sehingga setiap tindakan pemadaman diarahkan untuk membatasi dampak kebakaran terhadap ekosistem dan keberlangsungan satwa di dalamnya.
Baca juga: Perkuat Kesadaran Warga, Tim Penyuluh Karhutla Sesko TNI Bersama Pasis Sesko TNI Sosialisasikan Pencegahan Karhutla | Pemadaman dan Pembasahan Lahan Gambut Diperkuat, Satgas Darat Lanud Sjamsudin Noor Berjibaku di Tengah Asap Tekan Dampak Karhutla di Kalsel | Cegah Karhutla Sejak Dini, TNI Intensifkan Patroli Udara di Taman Nasional Way Kambas

