Kabupaten Lumajang | Gunung Semeru mengalami erupsi berulang pada Senin malam. Gunung api yang memiliki ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut tersebut tercatat meletus sebanyak lima kali dalam rangkaian aktivitas erupsi pada malam itu. Peristiwa ini menandai kembali tingginya aktivitas vulkanik Semeru, yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Dari lima kali erupsi yang tercatat, letusan dengan kolom abu paling tinggi mencapai sekitar 1 kilometer di atas puncak gunung. Kolom abu tersebut menjadi bagian paling menonjol dari rangkaian erupsi karena menunjukkan material vulkanik terdorong cukup tinggi dari kawah. Aktivitas berulang itu berlangsung pada malam hari, dengan setiap erupsi menjadi catatan tersendiri dalam pemantauan kondisi Gunung Semeru.
Gunung Semeru merupakan salah satu gunung api aktif di Indonesia dan terletak di kawasan perbatasan dua wilayah administratif, yakni Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang. Posisi tersebut membuat aktivitas erupsi Semeru menjadi perhatian, terutama bagi masyarakat yang berada di sekitar kawasan gunung. Lima kali letusan pada Senin malam, termasuk erupsi dengan kolom abu setinggi 1 kilometer di atas puncak, menunjukkan adanya aktivitas vulkanik yang perlu terus dipantau. Informasi mengenai perkembangan erupsi menjadi penting sebagai acuan bagi masyarakat dan pihak terkait dalam menyikapi kondisi di sekitar gunung tersebut.
Gunung Semeru tercatat mengalami lima kali erupsi dalam rangkaian pengamatan tersebut. Letusan pertama berlangsung pada pukul 18.35 WIB. Saat itu, kolom abu teramati mencapai sekitar 700 meter di atas puncak. Beberapa menit kemudian, erupsi berikutnya terjadi pada pukul 18.41 WIB, dengan kolom abu setinggi kurang lebih 600 meter di atas puncak.
Aktivitas erupsi kembali tercatat pada pukul 19.44 WIB. Kolom abu yang dihasilkan pada kejadian ini naik sekitar 700 meter di atas puncak. Selanjutnya, pada pukul 19.55 WIB, Gunung Semeru kembali meletus dengan kolom abu yang lebih tinggi, yakni sekitar 800 meter di atas puncak. Erupsi kelima terjadi pada pukul 20.08 WIB dan menjadi letusan dengan kolom abu tertinggi dalam rangkaian tersebut, mencapai 1 kilometer di atas puncak.
Selama rangkaian erupsi itu, kolom abu umumnya tampak berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang. Pada awal pengamatan, sebaran abu teramati mengarah ke barat daya. Arah sebaran kemudian berubah menuju barat. Perubahan arah tersebut dicatat berdasarkan pengamatan terhadap pergerakan kolom abu selama aktivitas berlangsung.
Laporan pengamatan juga menyebutkan bahwa erupsi Gunung Semeru masih berlangsung ketika laporan dibuat. Dengan demikian, lima letusan yang tercatat hingga pukul 20.08 WIB merupakan bagian dari aktivitas yang masih berlanjut pada saat pemantauan dilakukan. Ketinggian kolom abu dalam setiap erupsi tercatat sekitar 600 meter hingga 1 kilometer di atas puncak, dengan letusan terakhir menghasilkan kolom tertinggi.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Liswanto, menyampaikan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Semeru berada pada Status Level III atau Siaga. Keterangan tersebut menjadi dasar informasi mengenai kondisi erupsi yang tercatat dalam laporan tertulis petugas. Status ini disebutkan secara langsung dalam laporan dan tidak disertai tambahan penjelasan mengenai perubahan status maupun faktor penyebab erupsi.
Berdasarkan laporan tertulis Liswanto, Gunung Semeru mengalami erupsi sebanyak lima kali. Salah satu unsur yang dicatat adalah ketinggian kolom abu vulkanik, yang mencapai sekitar 1 kilometer. Rincian tersebut menggambarkan pengamatan petugas terhadap aktivitas gunung pada periode pelaporan, tanpa mengubah isi keterangan yang disampaikan oleh narasumber.
Laporan itu juga memuat informasi mengenai waktu terjadinya erupsi, warna kolom abu, serta arah sebarannya. Seluruh keterangan tersebut berasal dari catatan pengamatan Pos Pengamatan Gunung Semeru dan disampaikan oleh Liswanto. Karena itu, informasi mengenai waktu, tampilan abu, dan arah sebaran perlu dipahami sebagai bagian dari laporan tertulis petugas, bukan sebagai penafsiran tambahan.
Penyebutan Status Level III atau Siaga menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik Semeru dalam laporan tersebut berada pada tingkat yang telah ditetapkan oleh pihak berwenang. Keterangan ini disampaikan bersamaan dengan catatan mengenai lima kali erupsi dan kolom abu yang mencapai ketinggian 1 kilometer. Tidak terdapat tambahan informasi lain mengenai dampak, penyebab, atau kondisi di luar hal-hal yang tercantum dalam bahan keterangan.
Dengan demikian, informasi mengenai aktivitas Gunung Semeru bersumber dari laporan tertulis petugas Pos Pengamatan, Liswanto. Laporan tersebut mencatat status aktivitas pada Level III atau Siaga, jumlah erupsi, ketinggian kolom abu, serta unsur pengamatan lain berupa waktu, warna, dan arah sebaran abu. Keterangan itu menjadi acuan utama dalam menjelaskan kondisi erupsi yang dilaporkan.
Dengan status Gunung Semeru berada pada level Siaga, masyarakat perlu membatasi kegiatan di luar ruangan dan mematuhi seluruh arahan petugas. Aktivitas di kawasan rawan bencana sebaiknya dihindari, khususnya ketika terjadi erupsi, hujan abu, atau perubahan cuaca yang dapat mengganggu jarak pandang. Warga juga disarankan mengikuti informasi resmi dari pemerintah daerah, pos pengamatan, serta lembaga kebencanaan sebelum bepergian atau melakukan kegiatan di sekitar lereng gunung.
Larangan utama berlaku di sektor tenggara, sepanjang Besuk Kobokan, hingga jarak 13 kilometer dari puncak Semeru yang menjadi pusat erupsi. Masyarakat tidak disarankan memasuki atau melakukan aktivitas di wilayah tersebut karena berpotensi terdampak awan panas, guguran lava, maupun material erupsi lainnya. Di luar batas 13 kilometer itu, warga tetap dilarang beraktivitas dalam radius 500 meter dari tepi sungai atau sempadan sungai di sepanjang Besuk Kobokan.
Pembatasan pada area sungai diperlukan karena terdapat kemungkinan perluasan awan panas dan aliran lahar hingga 17 kilometer dari puncak. Aliran material vulkanik dapat bergerak cepat, terutama saat hujan turun di kawasan hulu, sehingga jarak aman perlu dipertahankan meskipun kondisi di sekitar permukiman tampak normal. Warga yang tinggal atau beraktivitas dekat alur sungai hendaknya segera menjauh apabila menerima peringatan resmi.
Aktivitas juga dilarang dalam radius 5 kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru karena kawasan tersebut rawan lontaran batu pijar. Masyarakat perlu mewaspadai awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang sungai atau lembah yang berhulu di puncak, terutama Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat. Kewaspadaan serupa berlaku di sungai-sungai kecil yang menjadi anak sungai Besuk Kobokan.
Baca juga: TNI Perkuat Pemantauan Aktivitas Gunung Anak Krakatau dan Pencarian Lima Jurnalis di Selat Sunda

