Kabupaten Kulon Progo | Wefi Yuliani, 42 tahun, kini memiliki penghasilan tetap setelah bergabung sebagai relawan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) 01 Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Ia menjadi bagian dari pelaksana program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyediakan makanan bergizi bagi penerima manfaat. Bagi Yuliani, keterlibatan dalam program tersebut tidak hanya menghadirkan kesempatan untuk bekerja, tetapi juga memberikan kepastian pendapatan yang sebelumnya sulit ia dapatkan.
Sebelum menjadi relawan SPPG, Yuliani bekerja serabutan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarganya. Pekerjaan yang dijalani bergantung pada adanya panggilan atau kesempatan, sehingga pemasukan yang diterima tidak menentu dari waktu ke waktu. Kondisi tersebut membuat pengaturan keuangan rumah tangga menjadi tantangan. Ia harus menyesuaikan kebutuhan sehari-hari dengan pendapatan yang berubah-ubah, termasuk ketika harus membayar berbagai keperluan anak.
Penghasilan tetap dari program MBG mengubah keseharian Yuliani. Pendapatan itu dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga secara lebih teratur, mulai dari keperluan makan hingga kebutuhan lain yang harus dipenuhi setiap bulan. Kepastian pemasukan juga membuatnya lebih mampu merencanakan pengeluaran dan mengurangi kekhawatiran ketika menghadapi kebutuhan mendesak.
Dampak tersebut terutama dirasakan dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan anak-anaknya. Biaya sekolah, perlengkapan belajar, dan kebutuhan pendukung lainnya dapat dipersiapkan dengan lebih baik karena tersedia penghasilan yang diterima secara rutin. Yuliani menyampaikan bahwa gaji tetap tersebut dapat dibagi untuk memenuhi kebutuhan anak dan kebutuhan rumah. Pernyataan itu menggambarkan bagaimana pekerjaan sebagai relawan SPPG memberi ruang bagi dirinya untuk mengelola pendapatan secara lebih terarah.
Perubahan yang dialami Yuliani menunjukkan bahwa program MBG tidak hanya berkaitan dengan penyediaan makanan bergizi. Di tingkat pelaksana, program ini juga membuka peluang kerja bagi warga setempat. Bagi pekerja yang sebelumnya mengandalkan pekerjaan serabutan, penghasilan yang lebih pasti dapat memperkuat ketahanan ekonomi keluarga serta membantu memastikan kebutuhan rumah tangga dan pendidikan anak tetap terpenuhi.
Selama hampir setahun menjadi relawan di dapur MBG, Yuliani menjalani rutinitas yang dimulai ketika sebagian besar warga Samigaluh telah beristirahat. Ia tinggal di kawasan perbukitan dan harus berangkat menuju SPPG setiap malam dengan sepeda motor. Jarak yang ditempuh sekitar lima kilometer, tetapi perjalanan tersebut tidak berlangsung melalui jalur yang datar dan mudah. Kondisi wilayah perbukitan membuat rute yang dilaluinya memiliki banyak tikungan serta bagian jalan yang menurun.
Biasanya, Yuliani mulai berangkat pada pukul 22.00 hingga 23.00 WIB. Waktu keberangkatan itu disesuaikan dengan kebutuhan pekerjaan, karena ia harus mulai bekerja pada tengah malam. Perjalanan dari rumah menuju SPPG menjadi bagian tetap dari kesehariannya sebelum memasuki dapur dan menjalankan tugas sebagai relawan. Dalam suasana malam, jalan yang dilalui cenderung gelap, sementara bentuk jalurnya yang berliku menuntut perjalanan dilakukan mengikuti kondisi medan.
Tantangan perjalanan semakin terasa ketika hujan turun. Selain membuat suasana rute menjadi lebih sulit, hujan juga meningkatkan risiko longsor di kawasan perbukitan Samigaluh. Jalan yang menurun, tikungan yang berulang, dan kondisi gelap menjadi gambaran medan yang harus dihadapi Yuliani setiap kali berangkat malam. Dengan jarak sekitar lima kilometer, perjalanan tersebut mungkin terlihat singkat jika diukur dari panjang rute, tetapi keadaan lapangan menjadikannya bagian penting dari pengalaman Yuliani sebagai relawan MBG. Rutinitas itu berlangsung sebelum aktivitas dapur dimulai, ketika ia meninggalkan rumah pada larut malam untuk tiba di SPPG dan bekerja hingga tugasnya selesai.
Sebelum bergabung sebagai relawan Makan Bergizi Gratis (MBG), Wefi Yuliani mengandalkan pekerjaan serabutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Salah satu pekerjaan yang ia jalani adalah membantu usaha katering. Namun, penghasilan dari pekerjaan tersebut tidak tetap karena bergantung pada jumlah pesanan yang diterima pemilik usaha. Ketika pesanan sedikit, kesempatan bekerja dan pendapatan yang diperoleh Yuliani ikut berkurang.
Dalam satu pekan, ia terkadang hanya mendapatkan pekerjaan sekali. Situasi tersebut membuat pemasukan sulit diperkirakan dari waktu ke waktu. Yuliani tidak memiliki kepastian mengenai berapa kali ia akan bekerja atau berapa pendapatan yang dapat dibawa pulang setiap minggu. Kondisi ekonomi itu menjadi semakin berat setelah pandemi Covid-19. Penurunan aktivitas masyarakat pada masa tersebut turut berdampak pada usaha katering, sehingga jumlah pesanan yang masuk semakin berkurang.
Di tengah keadaan itu, Yuliani mengetahui informasi mengenai program MBG melalui televisi dan percakapan dengan tetangga. Informasi tersebut membuka peluang baginya untuk memperoleh pekerjaan dengan pola yang berbeda dari pekerjaan sebelumnya. Jika pekerjaan katering mengikuti banyak atau sedikitnya pesanan, kegiatan di dapur MBG menyediakan jadwal dan kebutuhan kerja yang lebih teratur. Karena itu, Yuliani mencoba mendaftarkan diri sebagai relawan.
Usahanya kemudian membuahkan hasil. Yuliani diterima sebagai relawan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) 01 Samigaluh. Perpindahan itu menandai perubahan dalam sumber penghasilannya: dari pekerjaan membantu katering yang tidak selalu tersedia menuju pekerjaan di dapur MBG dengan pendapatan yang lebih teratur. Bagi Yuliani, kesempatan tersebut memberikan ruang untuk bekerja secara lebih konsisten setelah sebelumnya menghadapi berkurangnya pesanan dan ketidakpastian jumlah pekerjaan setiap pekan.
Di dapur SPPG, Yuliani mengemban tugas mengolah lauk nabati yang akan dibagikan kepada para penerima manfaat pada pagi hari. Ia menangani bahan makanan seperti tahu dan tempe, mulai dari menyiapkan, membumbui, hingga menggorengnya dalam jumlah besar. Setiap tahap membutuhkan ketelitian agar rasa, tingkat kematangan, dan kebersihan makanan tetap terjaga sebelum hidangan didistribusikan.
Pekerjaan tersebut dimulai sejak dini hari dan biasanya baru selesai sekitar pukul 08.00 WIB. Setelah seluruh lauk siap serta proses pembagian berjalan, Yuliani pulang untuk melanjutkan aktivitasnya sebagai ibu rumah tangga. Waktu istirahat yang tersedia menjadi terbatas karena ia perlu menyesuaikan tenaga dan waktunya dengan kebutuhan keluarga di rumah.
Kesibukan itu juga menghadirkan tantangan tersendiri. Perjalanan pada malam hari, terutama ketika harus berangkat lebih awal atau pulang setelah menyelesaikan persiapan, dapat menimbulkan rasa khawatir. Selain kelelahan fisik, ia harus mengatur kondisi tubuh agar tetap mampu bekerja di dapur sekaligus menjalankan berbagai pekerjaan domestik.
Yuliani mengakui bahwa rasa jenuh dan takut terkadang muncul. Namun, kebutuhan keluarga membuatnya berusaha kembali membangun semangat setiap kali hendak bekerja. Baginya, pekerjaan di dapur SPPG memberikan kepastian pendapatan yang sebelumnya sulit ia dapatkan dari pekerjaan katering. Sebagai pekerja serabutan, penghasilan dari katering tidak selalu tersedia dan jumlahnya pun berubah-ubah.
Karena itu, meskipun pekerjaan di dapur menuntut tenaga, waktu, dan keberanian menghadapi perjalanan malam, Yuliani memilih tetap bertahan. Penghasilan yang lebih teratur membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga, sementara keterlibatannya dalam penyediaan makanan memberi makna lain pada rutinitas tersebut. Ia berharap dapat terus bekerja selama kondisi memungkinkan, sembari menjalankan perannya sebagai ibu dan menopang keluarganya.
Baca juga: Latihan Kemampuan Penembakan Target Drone Menjadi Wawasan dalam SGS 2026 | BABINSA BERSAMA BHABINKAMTIBMAS DAN RELAWAN PADAMKAN KARHUTLA DI BANTUAS | Dari Rival Menjadi Sekutu: Strategi Othello Prabowo

