Denpasar | World Resources Institute (WRI) Indonesia memilih Bali sebagai lokasi rapat tahunan dewan pengurus global yang akan berlangsung pada Juli 2027. Penetapan tersebut menempatkan Bali sebagai titik pertemuan penting bagi jaringan internasional yang bergerak dalam isu perubahan iklim, pengelolaan sumber daya, dan pembangunan berkelanjutan. Agenda ini juga mencerminkan perhatian terhadap peran Indonesia dalam mendorong kerja sama global untuk mencapai emisi nol bersih.
Informasi mengenai rencana tersebut disampaikan oleh anggota Dewan Pembina WRI Indonesia sekaligus Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Mari Elka Pangestu, di Denpasar pada Minggu malam. Pernyataan itu menjadi penanda awal bagi persiapan pertemuan yang akan mempertemukan unsur-unsur penting dalam tata kelola organisasi WRI secara internasional. Bali dipandang memiliki relevansi kuat dengan pembahasan mengenai keberlanjutan, mengingat provinsi tersebut kerap menjadi lokasi berbagai forum yang membahas lingkungan, ekonomi hijau, dan aksi iklim.
Rapat tahunan itu akan dihadiri jajaran dewan pembina dari seluruh global board WRI. Kehadiran para pengurus tersebut menunjukkan bahwa pertemuan bukan sekadar agenda internal, melainkan forum yang berpotensi memperkuat arah strategis lembaga dalam menghadapi tantangan iklim dan keberlanjutan. WRI merupakan lembaga swadaya masyarakat internasional yang berfokus pada isu-isu tersebut, termasuk hubungan perlindungan lingkungan, ketahanan ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat.
Dengan menjadi tuan rumah, Bali akan menjadi ruang bagi para pemimpin WRI dari berbagai kawasan untuk bertukar pandangan dan membahas prioritas organisasi. Penyelenggaraan rapat ini sekaligus menggarisbawahi posisi WRI Indonesia dalam jaringan global serta pentingnya pengalaman dan kebijakan di tingkat nasional bagi diskusi internasional. Rencana pertemuan pada Juli 2027 diharapkan membuka peluang bagi penguatan kolaborasi lintas negara terkait transisi menuju pembangunan rendah karbon dan pencapaian target emisi nol bersih.
Pemilihan Bali sebagai tuan rumah rapat global World Resources Institute (WRI) tidak terlepas dari penilaian terhadap komitmen daerah ini dalam menurunkan emisi karbon. Bali dinilai memiliki arah kebijakan yang sejalan dengan upaya mencapai emisi nol bersih pada 2045, sekaligus menunjukkan keseriusan untuk menerjemahkan target tersebut ke dalam program pembangunan. Komitmen itu menjadi pertimbangan penting karena forum global membutuhkan lokasi yang tidak hanya mampu menyelenggarakan pertemuan, tetapi juga dapat memperlihatkan praktik keberlanjutan secara nyata.
WRI memandang Bali sebagai etalase daerah dengan rencana aksi yang relatif jelas untuk merespons perubahan iklim. Pemerintah daerah telah didorong untuk menyelaraskan perencanaan pembangunan, pengelolaan energi, transportasi, tata ruang, serta perlindungan lingkungan dengan sasaran pengurangan emisi. Kerangka tersebut memberikan gambaran mengenai bagaimana target jangka panjang dapat diterapkan melalui kebijakan daerah dan kegiatan yang berhubungan langsung dengan kehidupan masyarakat.
Sejumlah program transisi juga telah berjalan di Pulau Dewata, termasuk pengembangan kawasan rendah emisi. Inisiatif ini dirintis dari Sanur dan diperluas ke lima titik lainnya sebagai bagian dari upaya membangun wilayah yang lebih ramah lingkungan. Pengembangan kawasan rendah emisi mencakup penguatan mobilitas berkelanjutan, efisiensi penggunaan energi, pengurangan polusi, serta pengelolaan sampah dan ruang publik yang lebih baik. Langkah tersebut menunjukkan bahwa transisi menuju pembangunan rendah karbon dapat dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan karakter setiap kawasan.
Sanur secara khusus dinilai memiliki potensi untuk menjadi zona rendah emisi yang mendukung pelaksanaan pertemuan tingkat tinggi. Kawasan ini memiliki pengalaman sebagai destinasi pariwisata, jaringan fasilitas yang memadai, dan peluang untuk mengintegrasikan transportasi bersih, pengelolaan limbah, serta penggunaan energi yang lebih efisien. Penerapan berbagai langkah tersebut dapat menjadi contoh langsung bagi peserta pertemuan mengenai hubungan kebijakan iklim, kegiatan ekonomi, dan kualitas lingkungan. Dengan demikian, Bali dipilih bukan semata karena daya tariknya, melainkan karena kapasitasnya memperlihatkan proses menuju pembangunan berkelanjutan.
Pertemuan global World Resources Institute (WRI) di Bali akan mempertemukan jajaran pengurus dan pemimpin operasional dari berbagai kawasan. Sekitar 15 hingga 20 anggota dewan global WRI dijadwalkan hadir dalam agenda tersebut. Para anggota dewan ini berkedudukan di Washington DC dan memiliki latar belakang multinasional, sehingga membawa perspektif yang beragam mengenai tantangan pembangunan, perubahan iklim, tata kelola sumber daya, serta upaya mencapai emisi nol bersih.
Komposisi peserta mencerminkan luasnya pengalaman yang diperlukan untuk membahas isu pembangunan berkelanjutan secara menyeluruh. Sebagian anggota berasal dari kalangan profesional sektor bisnis yang memahami dinamika investasi, inovasi, dan transformasi industri. Peserta lainnya merupakan tokoh yang memiliki pengalaman sebagai pembuat kebijakan publik. Kehadiran kedua kelompok tersebut diharapkan memperkaya pembahasan dengan menghubungkan kebutuhan dunia usaha, kepentingan masyarakat, dan arah kebijakan pemerintah.
Selain dewan global, agenda ini juga akan menghadirkan direktur negara dari 12 wilayah tempat WRI menjalankan program operasional. Para direktur tersebut dapat menyampaikan pengalaman lapangan, perkembangan program, serta tantangan yang dihadapi dalam menerapkan pendekatan pembangunan berkelanjutan di konteks nasional dan regional yang berbeda. Pertukaran pengalaman antarkawasan menjadi salah satu nilai penting dari pertemuan yang berlangsung di Bali.
Mari Elka Pangestu berharap kehadiran perwakilan dari negara-negara berpengaruh, termasuk Tiongkok, Brasil, dan India, dapat memperluas gaung praktik pembangunan berkelanjutan yang diterapkan di Bali. Menurut harapan tersebut, pengalaman Indonesia tidak berhenti sebagai contoh lokal, tetapi dapat menjadi bahan pembelajaran bagi negara lain. Dialog bersama peserta dengan latar belakang geografis dan profesional yang beragam juga berpotensi mendorong kerja sama, memperkuat pertukaran pengetahuan, serta meningkatkan penerapan solusi berkelanjutan di berbagai wilayah.
Gubernur Bali Wayan Koster menyampaikan bahwa Pemerintah Provinsi Bali siap memberikan dukungan penuh bagi penyelenggaraan rapat global World Resources Institute (WRI). Kesiapan tersebut mencakup koordinasi antarlembaga, penyediaan dukungan teknis, serta penguatan berbagai aspek yang diperlukan agar pertemuan berjalan lancar. Menurut Koster, forum internasional ini memiliki arti penting karena mempertemukan peneliti, pembuat kebijakan, pelaku usaha, dan tokoh lingkungan dari berbagai negara untuk membahas tantangan pembangunan berkelanjutan.
Dukungan pemerintah provinsi sejalan dengan kebijakan daerah yang menempatkan kelestarian lingkungan sebagai bagian penting dari pembangunan Bali. Pemerintah berupaya menjaga kebersihan, melindungi sumber daya alam, dan mendorong pola pembangunan yang tidak mengorbankan keseimbangan ekologis. Penyelenggaraan rapat WRI di Bali diharapkan dapat memperkuat komitmen tersebut, sekaligus menjadi ruang untuk bertukar pengalaman mengenai kebijakan lingkungan yang dapat diterapkan secara efektif di tingkat daerah.
Kehadiran lembaga riset dunia itu juga hendak dimanfaatkan untuk memperluas kampanye pembangunan ramah lingkungan. Agenda yang didorong meliputi perluasan penggunaan energi bersih, percepatan peralihan menuju transportasi hijau, serta pengoptimalan pertanian organik yang mengurangi ketergantungan pada bahan kimia. Di sektor pengelolaan limbah, pemerintah ingin memperketat pengendalian sampah plastik melalui pengurangan penggunaannya, peningkatan pemilahan, dan penguatan sistem daur ulang. Langkah-langkah tersebut dipandang penting untuk menjaga kualitas lingkungan sekaligus mendukung target emisi nol bersih.
Koster berpandangan bahwa kehadiran tokoh-tokoh lingkungan global di Bali dapat memberikan manfaat yang lebih luas daripada sekadar penyelenggaraan pertemuan. Interaksi tersebut berpotensi memperkenalkan berbagai inisiatif daerah kepada masyarakat internasional dan mendorong kerja sama baru dalam bidang iklim serta konservasi. Pada saat yang sama, perhatian dunia terhadap agenda lingkungan Bali dapat membantu mempromosikan pulau ini secara internasional dan memperkuat posisinya sebagai destinasi pariwisata dunia yang bersih, berkelanjutan, dan bertanggung jawab.
Baca juga: Latihan Kemampuan Penembakan Target Drone Menjadi Wawasan dalam SGS 2026 | Wakili Panglima TNI, Kaster TNI Tegaskan Komitmen Indonesia Bagi Perdamaian Indo-Pasifik | Darurat Air Bersih: IJTI, Kodim 0813 dan BPBD Bojonegoro Pasok 21 Ribu Liter Air Bersih di Tlogohaji

