Serang | Generasi muda didorong untuk mengambil peran aktif dalam memperkenalkan Anyer-Panarukan kepada masyarakat luas. Ajakan tersebut disampaikan oleh Bupati Serang Ratu Rachmatuzakiyah dan Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo dalam acara kick off Anyer-Panarukan 3R: Road, Route, Roots pada Minggu, 11 Oktober. Keduanya menempatkan anak muda bukan hanya sebagai sasaran promosi, melainkan juga sebagai penggerak utama yang dapat memperluas gaung kawasan tersebut. Melalui keterlibatan generasi muda, promosi diharapkan tumbuh dari partisipasi yang lebih dekat dengan cara berkomunikasi dan perhatian masyarakat masa kini.
Ajakan itu menekankan pentingnya kolaborasi lintas generasi untuk membangun pengenalan yang lebih kuat terhadap Anyer-Panarukan. Anak muda memiliki ruang untuk menyampaikan cerita, memperkenalkan nilai, serta menghidupkan kembali perhatian terhadap jalur yang memiliki keterkaitan sejarah dan budaya. Peran tersebut tidak berhenti pada penyampaian informasi, tetapi juga mencakup kemampuan mengemas pesan secara relevan, kreatif, dan mudah diterima oleh berbagai kalangan. Dengan demikian, promosi dapat berkembang sebagai gerakan yang melibatkan masyarakat, bukan sekadar penyampaian pesan satu arah.
Kehadiran Ratu Rachmatuzakiyah dan Yusuf Rio Wahyu Prayogo dalam agenda tersebut memperlihatkan dorongan bersama agar generasi muda ikut mengambil tanggung jawab dalam mempromosikan Anyer-Panarukan. Partisipasi anak muda dapat menjadi penghubung potensi kawasan, cerita sejarah, dan minat publik yang terus berubah. Semangat 3R—Road, Route, Roots—menjadi pijakan untuk mengajak mereka memahami, mengenalkan, dan meneruskan makna Anyer-Panarukan melalui cara yang sesuai dengan perkembangan zaman. Dengan peran itu, generasi muda diharapkan menjadi wajah promosi yang aktif, komunikatif, dan berkelanjutan.
Ratu Rachmatuzakiyah memandang promosi Anyer-Panarukan dapat dikembangkan melalui beragam kegiatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat, terutama generasi muda. Menurutnya, promosi tidak harus disampaikan melalui cara yang bersifat formal, tetapi dapat diwujudkan lewat aktivitas yang memungkinkan anak muda terlibat secara langsung. Dengan demikian, Anyer-Panarukan tidak hanya dikenalkan sebagai bagian dari sejarah, tetapi juga hadir dalam ruang kreativitas yang mereka pahami dan minati.
Salah satu bentuk kegiatan yang dapat dikembangkan adalah aktivitas olahraga. Kegiatan tersebut menjadi sarana untuk memperkenalkan Anyer-Panarukan dengan pendekatan yang lebih dinamis dan partisipatif. Selain olahraga, promosi juga dapat dilakukan melalui seni dan budaya. Kedua bidang ini memberikan ruang bagi generasi muda untuk menampilkan gagasan serta kemampuan mereka dalam mengangkat nilai dan daya tarik Anyer-Panarukan.
Ratu menekankan bahwa generasi muda perlu diberi keleluasaan untuk menentukan bentuk kegiatan berdasarkan kreativitas masing-masing. Ruang partisipasi itu penting agar promosi tidak terasa sebagai program yang jauh dari keseharian mereka. Ketika anak muda dapat berkontribusi sesuai minat dan cara berekspresinya, pesan mengenai Anyer-Panarukan berpeluang disampaikan secara lebih alami. Keterlibatan tersebut juga membuat mereka menjadi bagian dari proses promosi, bukan sekadar sasaran informasi.
Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo menyampaikan optimisme bahwa program Anyer-Panarukan dapat menjangkau generasi muda, khususnya Gen Z dan Gen Alpha. Menurutnya, keberlanjutan promosi jalur bersejarah tersebut sangat dipengaruhi oleh kemampuan program dalam mengikuti cara berpikir, minat, dan kebiasaan generasi masa kini. Jika dikemas dengan pendekatan yang dekat dengan kehidupan anak muda, Anyer-Panarukan dinilai akan lebih mudah diterima, dipahami, serta dibicarakan di berbagai ruang digital maupun komunitas.
Rio menilai relevansi menjadi kunci agar sejarah tidak dipandang sebagai cerita masa lalu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Informasi mengenai Anyer-Panarukan perlu disajikan secara menarik, komunikatif, dan sesuai dengan karakter Gen Z serta Gen Alpha. Penyampaian tersebut dapat dilakukan melalui konten kreatif, kegiatan interaktif, maupun pengalaman langsung yang memungkinkan anak muda mengenali berbagai jejak sejarah di daerahnya. Dengan cara itu, mereka tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga dapat berperan sebagai penyampai pesan kepada masyarakat yang lebih luas.
Kebutuhan anak muda terhadap informasi sejarah, menurut Rio, hendak diwadahi melalui pelaksanaan berbagai aktivitas dan festival. Rangkaian kegiatan tersebut diharapkan menjadi ruang belajar sekaligus ruang ekspresi yang mempertemukan sejarah, budaya, ekonomi, dan kreativitas. Edukasi serta pelibatan generasi muda juga penting agar mereka memahami dan memiliki kepedulian terhadap peta sejarah, peta budaya, peta ekonomi, serta berbagai aspek lain yang berkaitan dengan Anyer-Panarukan. Keterlibatan itu dapat mendorong lahirnya generasi penggerak promosi yang mampu mengenalkan potensi kawasan secara lebih segar, relevan, dan berkelanjutan.
Acara kick off Anyer-Panarukan 3R menjadi momentum awal untuk mempertemukan berbagai pemangku kepentingan yang memiliki peran dalam pengembangan kawasan di sepanjang jalur bersejarah tersebut. Pertemuan ini melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, sektor perbankan, media, serta pihak-pihak lain yang berkepentingan terhadap penguatan potensi daerah. Kehadiran berbagai unsur tersebut diharapkan dapat membuka ruang komunikasi, pertukaran gagasan, dan penyelarasan langkah dalam melihat peluang pengembangan Anyer-Panarukan secara lebih terpadu.
Melalui pertemuan tersebut, diharapkan terbentuk titik awal bagi sinergi yang berkelanjutan antardaerah di sepanjang jalur Anyer-Panarukan. Setiap daerah memiliki karakter, sumber daya, dan potensi yang berbeda, sehingga kerja sama lintas wilayah diperlukan agar pengembangannya dapat dilakukan dengan mempertimbangkan kekuatan serta kebutuhan masing-masing. Sinergi itu juga menjadi bagian penting dalam mendorong pemangku kepentingan untuk bersama-sama mengenali, mengelola, dan mengembangkan potensi yang dimiliki kawasan secara bertahap.
Program Anyer-Panarukan 3R dibangun melalui tiga perspektif utama, yaitu Road, Route, dan Roots. Road merepresentasikan konektivitas dan pembangunan, termasuk hubungan antardaerah serta infrastruktur yang mendukung pergerakan masyarakat dan kegiatan ekonomi. Route berkaitan dengan penguatan pariwisata melalui pengembangan jalur, destinasi, dan pengalaman perjalanan yang memiliki daya tarik bagi masyarakat. Sementara itu, Roots menekankan penghidupan sejarah dan budaya masyarakat, sehingga nilai-nilai lokal serta warisan yang tumbuh di sepanjang jalur tersebut tetap menjadi bagian penting dari pengembangannya.
Dengan demikian, kick off Anyer-Panarukan 3R diposisikan sebagai langkah awal untuk mempertemukan gagasan dan membangun kesepahaman di para pihak. Momentum ini diharapkan menjadi dasar bagi sinergi berkelanjutan bagi daerah-daerah di sepanjang jalur Anyer-Panarukan dalam mengembangkan potensinya, dengan tetap memperhatikan konektivitas, pariwisata, sejarah, dan budaya masyarakat setempat.
Baca juga: Bentuk Generasi Berkarakter, Babinsa Berikan Pembekalan Wasbang untuk Siswa

