Menyeimbangkan Teknologi dan Aktivitas Anak melalui Peran Keluarga

Tabanan | Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengajak keluarga di Bali untuk memperbanyak kegiatan anak di luar layar. Ajakan tersebut disampaikan dalam kegiatan sosialisasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak, yang berlangsung di Tabanan pada Jumat, 9 Oktober 2026. Pesan ini menempatkan keluarga sebagai lingkungan pertama dan paling penting dalam membentuk kebiasaan anak saat berinteraksi dengan teknologi.

Menurut Meutya, penggunaan perangkat digital perlu diimbangi dengan aktivitas fisik, permainan, kreativitas, serta hubungan sosial secara langsung. Anak tetap dapat memanfaatkan teknologi untuk belajar, berkomunikasi, dan mengembangkan minat, tetapi waktu di depan layar perlu diatur secara bijak. Tanpa keseimbangan, penggunaan gawai yang berlebihan berpotensi mengurangi kesempatan anak untuk bergerak, berbicara tatap muka, dan membangun keterampilan sosial melalui pengalaman sehari-hari.

Kegiatan di Tabanan tersebut menegaskan bahwa perlindungan anak di ruang digital tidak hanya bergantung pada aturan pemerintah atau kemampuan teknologi. Peran orang tua dan anggota keluarga sangat diperlukan untuk menetapkan batas waktu, memilih konten yang sesuai, serta mendampingi anak ketika menggunakan internet. Pendampingan juga dapat dilakukan melalui kebiasaan sederhana, seperti makan bersama tanpa gawai, membaca, berolahraga, berkesenian, atau mengajak anak mengikuti kegiatan di lingkungan sekitar.

Ajakan mengurangi ketergantungan pada layar bukan berarti menolak kemajuan teknologi. Teknologi tetap menjadi bagian penting dari pendidikan dan kehidupan modern, selama digunakan dengan tujuan yang jelas dan sesuai usia. Inti pesan sosialisasi PP Tunas adalah mendorong pola penggunaan yang lebih sehat, seimbang, dan bertanggung jawab di dalam keluarga. Dengan menciptakan lebih banyak ruang untuk interaksi langsung, keluarga dapat membantu anak memperoleh manfaat teknologi tanpa kehilangan kesempatan untuk tumbuh melalui aktivitas fisik, hubungan sosial, dan pengalaman nyata.

Pengurangan sebagian waktu anak di depan layar dapat dilakukan dengan mendorong aktivitas yang melibatkan gerak tubuh dan pertemuan langsung. Bersepeda menjadi salah satu pilihan yang dapat ditempatkan dalam rutinitas keluarga. Kegiatan ini memberi kesempatan kepada anak untuk menggunakan energinya melalui aktivitas fisik, sekaligus mengalami kebersamaan secara langsung. Dengan demikian, waktu yang biasanya dihabiskan di ruang digital dapat dialihkan secara bertahap kepada pengalaman yang berlangsung bersama orang lain.

Selain bersepeda, olahraga juga dapat didorong sebagai kegiatan pengganti. Anak memperoleh ruang untuk bergerak, menyalurkan energi, dan mengikuti kegiatan yang tidak bergantung pada perangkat digital. Dukungan keluarga penting agar aktivitas tersebut tidak dipandang sebagai kewajiban semata, melainkan sebagai bagian dari keseimbangan aktivitas sehari-hari. Ketika orang tua turut memberi dorongan dan menyediakan waktu untuk mendampingi, anak dapat melihat bahwa penggunaan teknologi bukan satu-satunya pilihan untuk mengisi waktu.

Interaksi langsung dengan teman sebaya juga perlu mendapat perhatian. Pertemuan dan kegiatan bersama teman memberikan kesempatan bagi anak untuk membangun hubungan sosial di luar ruang digital. Percakapan, kebersamaan, dan keterlibatan dalam aktivitas yang sama berlangsung secara langsung, sehingga anak memiliki pengalaman sosial yang tidak hanya diperoleh melalui layar. Bersepeda dan berolahraga dapat menjadi sarana untuk membuka ruang interaksi tersebut, selama kegiatan dilakukan bersama teman sebaya dan tetap didukung oleh keluarga.

Kehadiran komunitas pesepeda lintas generasi dapat memperlihatkan contoh nyata mengenai perubahan perilaku di tingkat keluarga. Keterlibatan anak, orang tua, dan anggota dari generasi lain dalam kegiatan bersepeda menunjukkan bahwa aktivitas fisik serta interaksi langsung dapat menjadi kebiasaan bersama. Contoh tersebut membantu memperlihatkan bahwa penyesuaian penggunaan teknologi dapat dimulai dari keluarga melalui pilihan kegiatan yang dilakukan secara konsisten. Dalam lingkungan seperti ini, anak tidak hanya diarahkan untuk mengurangi waktu di depan layar, tetapi juga diperkenalkan pada cara menggunakan waktunya melalui gerak dan hubungan sosial secara langsung.

Meutya Hafid menegaskan bahwa pembatasan akses terhadap platform digital berisiko tinggi bagi anak berusia di bawah 16 tahun tidak dimaksudkan sebagai pelarangan teknologi secara menyeluruh. Teknologi tetap memiliki manfaat besar untuk pendidikan, komunikasi, kreativitas, dan pengembangan keterampilan anak. Kebijakan tersebut lebih diarahkan untuk memastikan bahwa penggunaan layanan digital berlangsung sesuai dengan usia, tingkat kematangan, serta kemampuan anak dalam memahami konsekuensi dari setiap aktivitas daring.

Penjelasan itu dapat dipahami melalui analogi mengenai kesiapan anak mengendarai mobil di jalan raya. Seorang anak tidak serta-merta diizinkan mengemudi hanya karena kendaraan tersebut menyediakan manfaat dan kemudahan. Ia perlu menunggu hingga cukup dewasa, memiliki kesiapan mental dan emosional, serta mampu memahami aturan dan risiko di jalan. Prinsip serupa berlaku dalam pemanfaatan platform digital. Akses yang lebih luas sebaiknya diberikan ketika anak telah memiliki kecakapan untuk menjaga diri, menilai informasi, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

Sejumlah ancaman menjadi alasan pentingnya perhatian tersebut. Anak dapat menghadapi penipuan daring, perundungan siber, child grooming, serta kecanduan gim. Penipuan daring dapat mengeksploitasi ketidaktahuan anak, sedangkan perundungan siber berpotensi mengganggu kesehatan mental dan rasa percaya diri. Dalam kasus child grooming, pelaku membangun kedekatan secara bertahap untuk memanipulasi atau mengeksploitasi anak. Sementara itu, kecanduan gim dapat mengganggu waktu tidur, kegiatan belajar, kesehatan, dan hubungan sosial.

Risiko tersebut perlu diantisipasi melalui pemahaman dan pendampingan, bukan semata-mata pembatasan. Keluarga memiliki peran penting dalam menjelaskan etika digital, menetapkan batas penggunaan yang wajar, memeriksa pengaturan keamanan, dan membangun komunikasi terbuka. Dengan pendampingan yang konsisten, anak dapat belajar memanfaatkan teknologi secara aman tanpa kehilangan kesempatan untuk berkembang di lingkungan digital.

Dalam dialog bersama siswa sekolah dasar dan sekolah menengah pertama, Meutya mendengarkan berbagai pengalaman anak saat menggunakan internet. Percakapan tersebut menunjukkan bahwa ruang digital telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, baik untuk belajar, berkomunikasi, maupun bertransaksi. Sejumlah siswa menceritakan bahwa mereka pernah tertipu ketika membeli barang atau melakukan pembayaran melalui internet. Pengalaman itu memperlihatkan bahwa ancaman digital dapat menyentuh anak secara langsung, bahkan ketika mereka merasa sedang melakukan kegiatan yang sederhana.

Perlindungan anak di dunia maya tidak cukup hanya dilakukan melalui aturan batas usia. Ketentuan tersebut memang penting untuk membatasi akses terhadap layanan atau konten yang belum sesuai, tetapi anak juga perlu dibekali pemahaman praktis. Edukasi harus membantu mereka mengenali tautan mencurigakan, akun palsu, permintaan data pribadi, penawaran yang terlalu menarik, serta metode pembayaran yang tidak aman. Dengan pengetahuan tersebut, anak dapat belajar berhenti sejenak, memeriksa informasi, dan meminta bantuan orang dewasa sebelum mengambil keputusan.

Pendekatan edukatif juga membuat anak tidak semata-mata bergantung pada larangan. Mereka perlu memahami alasan di balik setiap aturan dan mengetahui langkah yang dapat dilakukan ketika menghadapi masalah. Orang tua, guru, serta penyedia layanan digital dapat membangun kebiasaan berdiskusi secara terbuka agar anak tidak takut melaporkan penipuan, perundungan, atau bentuk ancaman lainnya. Sikap terbuka memungkinkan masalah ditangani lebih cepat sekaligus memperkuat kepercayaan anak dan orang dewasa.

Meutya juga menekankan bahwa mengalihkan energi anak ke kegiatan seperti bersepeda bukan berarti orang tua tidak menyayangi mereka. Justru, ajakan untuk bergerak, bermain di luar ruang, dan berinteraksi langsung merupakan bentuk perhatian terhadap tumbuh kembang anak. Aktivitas fisik membantu menjaga kesehatan, sementara pertemanan tatap muka mengembangkan kemampuan sosial dan emosional. Karena itu, keluarga memegang peran penting dalam membangun keseimbangan pemanfaatan teknologi, aktivitas fisik, dan interaksi sosial.