Batu | Kenaikan tersebut akan menjadi pembalikan tren yang signifikan bagi komoditas yang selama ini dipandang tengah mengalami penurunan permintaan jangka panjang. Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Jumat (9/10/2026) ditutup di posisi US$ 150,5 per ton atau naik 0,03%.
Data lain dalam laporan menunjukkan Kenaikan ini memutus tren buruk di mana harganya melemah dalam dua hari sebelumnya. Secara keseluruhan, harga batu bara naik 0,64% pada pekan lalu. Harga batu bara bahkan sempat menyentuh ke posisi US$ 152,95 per ton pada Selasa pekan lalu atau posisi tertinggi dalam sebulan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat volume ekspor batu bara Indonesia pada periode Januari sampai Agustus 2026 anjlok 9,33% ke 227,7 juta ton. Laporan dari Kpler menunjukkan ekspor pada Agustus 2026 hanya mencapai 36,1 juta ton atau anjlok 25,3% dibandingkan Agustus tahun sebelumnya.
Informasi lain yang berkaitan dengan peristiwa tersebut mencakup Jakarta, Harga batu bara terbang pada pekan lalu. Kenaikan ini memperpanjang tren positifnya dengan menguat selama tiga pekan beruntun. Lonjakan harga batu bara dipicu banyak faktor, mulai dari masih tingginya harga minyak, persoalan pasokan dari Indonesia hingga potensi naiknya permintaan jelang musim dingin. Salah satu penyebab utama adalah kekeringan dan pendangkalan sungai, terutama Sungai Barito di Kalimantan Tengah serta ketidakpastian kebijakan produksi batu bara Indonesia, termasuk pemangkasan target produksi nasional dan penyesuaian kuota pertambangan. Indonesia adalah eksportir terbesar batu bara thermal di dunia sehingga perkembangan di Indonesia sangat menentukan.
Jauh Lebih Murah dari LNG, Ekspor Siap Melejit di Akhir Tahun Ekspor batu bara termal global saat ini diperkirakan kembali mengalami kontraksi tahunan untuk tahun kedua berturut-turut. Namun, tren tersebut berpotensi berbalik pada akhir 2026 seiring harga batu bara yang semakin murah dibandingkan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG). Harga batu bara termal kini mencatatkan diskon terlebar terhadap LNG dalam empat tahun terakhir. Kondisi ini membuat batu bara kembali menjadi bahan bakar paling ekonomis untuk pembangkit listrik di Asia. Harga acuan batu bara termal Australia untuk ekspor saat ini sekitar 80% lebih murah dibandingkan LNG untuk pengiriman ke Asia. Harga batu bara termal Australia dari Newcastle tercatat sekitar US$143 per ton, setara US$5,40 per juta British thermal units (MMBtu), menurut data LSEG. Sebagai perbandingan, harga LNG yang dikirim ke Asia berada di kisaran US$25 per MMBtu. Dengan demikian, batu bara termal berkualitas tinggi sekitar US$20 per MMBtu lebih murah dibandingkan LNG di pasar energi utama Asia. Keunggulan harga ini semakin besar karena batu bara Indonesia umumnya setidaknya US$1 per MMBtu lebih murah dibandingkan batu bara Australia. Kondisi tersebut memberikan insentif ekonomi bagi pembangkit listrik untuk memilih batu bara ketimbang LNG menjelang musim dingin. Impor Batu Bara Asia Berpotensi Melonjak Momentum kenaikan ekspor juga didukung pola musiman permintaan energi di Asia. Kuartal IV secara tradisional menjadi periode puncak permintaan batu bara karena perusahaan utilitas mulai mengisi kembali persediaan menjelang musim dingin. China, Jepang, dan Korea Selatan merupakan tiga pasar utama konsumen batu bara di Asia Timur. Data Kpler menunjukkan ketiga negara tersebut mengimpor sekitar 122 juta ton batu bara selama Juli-September 2026, periode ketika kebutuhan listrik untuk pendinginan mencapai puncaknya. Sebaliknya, selama kuartal IV 2024 dan 2025, rata-rata impor batu bara termal ketiga negara tersebut mencapai 143 juta ton per kuartal seiring meningkatnya kebutuhan pemanas. Artinya, impor gabungan China, Jepang, dan Korea Selatan berpotensi meningkat sekitar 20 juta ton pada kuartal IV dibandingkan kuartal III 2026 apabila pola musiman sebelumnya kembali terjadi. Kombinasi harga yang kompetitif dan meningkatnya kebutuhan energi musim dingin berpotensi mendorong lonjakan pengiriman batu bara dalam beberapa bulan terakhir tahun ini. Indonesia dan Australia Berpeluang Panen Pesanan Peningkatan permintaan Asia Timur berpotensi menguntungkan eksportir utama batu bara, terutama Indonesia dan Australia. Data ekspor Indonesia menunjukkan rata-rata pengiriman batu bara selama Oktober-Desember mencapai sekitar 137 juta ton per tahun pada periode 2023-2025. Namun, pada kuartal III 2026, pengiriman batu bara Indonesia tercatat sedikit di bawah 107 juta ton. Angka tersebut menjadi yang terendah untuk periode kuartal III sejak 2021. Australia juga biasanya mencatatkan volume ekspor tertinggi pada kuartal IV. Rata-rata pengiriman negara tersebut mencapai sekitar 55 juta ton selama Oktober-Desember pada periode 2023-2025. Pada kuartal III 2026, ekspor batu bara Australia tercatat sekitar 52 juta ton. Data Kpler menunjukkan total ekspor batu bara Indonesia dan Australia pada kuartal IV selama periode 2023-2025 rata-rata mencapai 192,5 juta ton. Sementara itu, pengiriman gabungan kedua negara pada Juli-September 2026 hanya sekitar 159 juta ton. Jika pola musiman sebelumnya kembali berulang, ekspor gabungan Indonesia dan Australia berpotensi meningkat hampir 30 juta ton pada kuartal IV 2026. Bagi Indonesia dan Australia, perkembangan tersebut membuka peluang peningkatan permintaan ekspor pada akhir tahun. Namun, besarnya kenaikan tetap bergantung pada realisasi kebutuhan energi, harga bahan bakar, serta keputusan pembelian negara-negara importir utama. Pada akhirnya, tren perdagangan energi musim dingin ini menunjukkan bahwa harga masih menjadi faktor penting dalam menentukan pilihan bahan bakar, bahkan ketika transisi menuju energi yang lebih bersih terus berlangsung.

