Banda Aceh | Agusni AH menunjukkan bahwa tanggung jawab di bidang kepemiluan tidak menghentikan aktivitasnya dalam dunia sastra. Sebagai Ketua KIP Aceh, ia menjalankan tugas yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemilu, sekaligus tetap merawat minat dan kemampuannya dalam menulis. Kesibukan mengurus berbagai urusan kepemiluan tidak membuat sisi sastrawi dalam dirinya terabaikan. Aktivitas tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan Agusni AH, yang dikenal tidak hanya melalui perannya dalam lembaga penyelenggara pemilu, tetapi juga melalui karya-karya tulisnya.
Salah satu wujud keberlanjutan kiprahnya di luar tugas kepemiluan ialah peluncuran buku berjudul Tikai. Buku ini menjadi penanda bahwa Agusni AH masih memberi ruang bagi proses kreatif dan pengamatan terhadap kehidupan melalui karya sastra. Kehadiran Tikai memperlihatkan upayanya mempertahankan hubungan dengan dunia kepenulisan, meskipun tanggung jawab profesionalnya menuntut perhatian besar. Karya tersebut sekaligus memperluas gambaran tentang dirinya sebagai sosok yang menjalani lebih dari satu peran.
Peluncuran Tikai tidak semata-mata dapat dilihat sebagai kegiatan penerbitan buku, tetapi juga sebagai bentuk lain dari kiprah Agusni AH. Di tengah pekerjaan yang berhubungan dengan kepemiluan, ia tetap menghasilkan karya yang berangkat dari sisi kesusastraan. Pilihan untuk terus menulis menunjukkan adanya konsistensi dalam menjaga ekspresi kreatif. Bagi Agusni AH, sastra menjadi ruang yang tetap dapat dirawat bersamaan dengan pelaksanaan tanggung jawab publik.
Dengan demikian, buku Tikai menegaskan keberadaan Agusni AH dalam dua ranah yang saling melengkapi. Perannya sebagai Ketua KIP Aceh berjalan berdampingan dengan aktivitasnya sebagai penulis. Keduanya memperlihatkan bahwa kesibukan dalam menjalankan amanah kelembagaan tidak harus menghapus perhatian terhadap sastra. Melalui buku tersebut, Agusni AH menghadirkan wujud lain dari pengabdiannya, yakni merawat gagasan dan pengalaman dalam bentuk karya tulis.
Di dalamnya, pembaca akan menemukan tema cinta yang tidak selalu berakhir dengan kebahagiaan, kehilangan yang meninggalkan ruang sunyi, serta penantian yang menguji ketabahan. Luka, kenangan, dan doa juga menjadi bagian penting dari dunia cerita Agusni AH. Tema-tema tersebut tidak disajikan sebagai gagasan yang jauh atau abstrak, melainkan melalui perasaan, percakapan, dan pengalaman tokoh-tokohnya. Karena itu, kesedihan, harapan, keraguan, dan keinginan untuk bertahan terasa dekat dengan pengalaman manusia.
Ketiga puluh satu tulisan dalam “Tikai” disajikan dalam bentuk kisah pendek. Bentuk ini memungkinkan setiap cerita bergerak secara ringkas, namun tetap meninggalkan kesan melalui konflik dan suasana yang dibangunnya. Kisah-kisah tersebut tidak semata-mata mengandalkan peristiwa besar. Hal-hal yang tampak biasa—pertemuan, perpisahan, ingatan terhadap seseorang, atau doa yang dipanjatkan dalam kesunyian—dapat menjadi pintu untuk memahami kedalaman perasaan manusia.
Di seluruh tulisan yang dihimpun, “Tikai” merupakan salah satu cerita yang dipilih menjadi judul sampul buku. Pilihan tersebut menempatkan kisah itu sebagai pengantar bagi keseluruhan suasana kumpulan, yang banyak berbicara tentang hubungan, perasaan, dan ketegangan batin. Dengan menghadirkan 31 cerita pendek yang dekat dengan kehidupan, buku ini menjadi ruang bagi Agusni AH untuk merawat sisi sastrawinya sekaligus mengajak pembaca mengenali kembali pengalaman emosional yang sering hadir dalam keseharian.
Aceh dalam kumpulan cerita ini tidak tampil sebagai latar yang pasif atau sekadar nama tempat. Wilayah tersebut hadir melalui suasana yang membentuk cara tokoh memandang hidup, mengingat masa lalu, dan menghadapi perubahan. Pesisir, laut, serta kampung menjadi ruang yang menyimpan banyak lapisan pengalaman. Debur ombak, udara asin, jalan-jalan kampung, rumah-rumah yang saling berdekatan, dan ritme kehidupan masyarakat memberi warna kuat pada setiap kisah. Kehadiran unsur-unsur itu membuat pembaca dapat merasakan Aceh sebagai ruang yang hidup, bukan sekadar panggung bagi peristiwa.
Laut, misalnya, bukan hanya bentang alam, melainkan bagian dari ingatan dan keseharian masyarakat. Ia dapat menghubungkan seseorang dengan pekerjaan, keluarga, perjalanan, atau kenangan yang sulit ditinggalkan. Di sisi lain, kampung menghadirkan kedekatan sosial, percakapan antartetangga, kebiasaan yang diwariskan, serta nilai-nilai yang terus bernegosiasi dengan zaman. Bahasa dan ungkapan yang digunakan turut memperkuat suasana lokal tanpa menjadikan cerita tertutup bagi pembaca dari luar Aceh. Kebiasaan masyarakat, hubungan kekerabatan, dan cara mereka memaknai peristiwa hadir secara alami melalui tindakan para tokoh.
Di tengah latar yang khas itu, Agusni AH menempatkan manusia dengan pengalaman yang beragam. Tokoh-tokohnya tidak dibatasi oleh satu persoalan atau satu jenis kehidupan. Mereka mencintai, menunggu, berharap, menyesal, menghadapi kehilangan, dan berusaha berdamai dengan takdir dalam situasi yang berbeda-beda. Sebagian mungkin terikat pada masa lalu, sementara yang lain berusaha membuka jalan menuju masa depan. Pergulatan tersebut menjadi lebih kuat karena berlangsung dalam lingkungan sosial yang memiliki ingatan, aturan, dan luka kolektif. Dengan demikian, Aceh berfungsi sekaligus sebagai tempat, suasana, bahasa, dan sumber ingatan yang menghidupkan cerita. Latar tersebut memperkaya dimensi emosional kumpulan cerita, sekaligus memperlihatkan bahwa pengalaman personal selalu berkelindan dengan laut, kampung, keluarga, dan kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Selain kisah utama, Agusni AH menghadirkan sejumlah cerita yang memperluas bentang pengalaman manusia dalam buku ini. “Cinta di Ujung Senja” membawa pembaca pada perasaan yang mungkin baru menemukan bentuk ketika waktu hampir habis. Cinta tersebut hadir terlambat, ketika kesempatan tidak lagi terbuka lebar dan masa lalu telah meninggalkan jejak yang sulit dihapus. Namun, keterlambatan itu justru memperlihatkan bahwa perasaan manusia sering kali tumbuh di luar perhitungan, bahkan ketika seseorang menyadari bahwa kebahagiaan tidak selalu berakhir dengan kebersamaan.
Melalui “Limah” dan “Emak”, pembaca diajak menyaksikan hubungan yang dibentuk oleh kasih sayang, pengorbanan, serta perpisahan. Kedua cerita itu menghadirkan luka yang tidak selalu disampaikan melalui kata-kata. Ada kehilangan yang menetap dalam kebiasaan sehari-hari, ada kerinduan yang terus hidup dalam ingatan, dan ada sosok-sosok yang tetap hadir meskipun secara fisik telah jauh. Di sini, keluarga dan kedekatan emosional menjadi ruang penting untuk memahami ketabahan manusia ketika berhadapan dengan perubahan.
Bagi Agusni AH, buku ini dapat menjadi ruang bercermin bagi pembacanya. Melalui ombak, senja, hujan, kopi, kesunyian, dan doa, pembaca mungkin menemukan serpihan kisahnya sendiri. Cerita yang paling menyentuh sering kali bukan semata-mata kisah tentang orang lain, melainkan kisah yang diam-diam mengingatkan seseorang pada dirinya sendiri.

