JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan sesi I pada Jumat, 9 Oktober 2026, di zona hijau. Indeks naik 21,23 poin atau 0,35% ke level 6.052,51. Penguatan tersebut menandai perbaikan pergerakan indeks setelah IHSG sempat berada di bawah level psikologis 6.000 pada perdagangan pagi.
Pada awal sesi, IHSG dibuka di posisi 6.039,01. Setelah pembukaan, indeks mengalami tekanan dan bergerak turun hingga menyentuh titik terendah di level 5.995,82. Posisi tersebut membawa IHSG untuk sementara berada di bawah ambang 6.000, sebelum indeks berangsur pulih dalam perkembangan perdagangan berikutnya.
Seiring berjalannya sesi pagi, pergerakan IHSG berbalik menguat dan membawa indeks kembali ke atas level 6.000. IHSG kemudian mencapai titik tertinggi sesi di level 6.059,54. Dari rentang pergerakan tersebut, indeks mencatat selisih 63,72 poin level terendah dan tertinggi sebelum mengakhiri sesi I pada 6.052,51.
Dengan penutupan itu, IHSG berada 13,50 poin di atas level pembukaan. Kenaikan 0,35% juga menunjukkan bahwa indeks mampu mempertahankan penguatan hingga perdagangan sesi I berakhir, meskipun sebelumnya sempat menghadapi tekanan cukup dalam pada awal perdagangan. Pergerakan ini menjadi gambaran utama perdagangan pasar saham domestik pada paruh pertama sesi Jumat, sementara pelaku pasar mencermati perkembangan sentimen ekonomi dan energi global.
Perdagangan saham pada sesi I berlangsung dengan aktivitas yang cukup ramai. Hingga jeda perdagangan, volume transaksi tercatat sebanyak 177,49 juta lot saham, sedangkan nilai transaksi mencapai Rp4.084,13 miliar atau sekitar Rp4,08 triliun. Data tersebut mencerminkan adanya pergerakan dana yang tetap berlangsung di pasar, seiring investor menyesuaikan posisi terhadap perkembangan sentimen ekonomi global dan domestik. Pelaku pasar juga mencermati perubahan harga saham di berbagai sektor untuk melihat arah minat beli serta potensi penguatan lanjutan pada sesi berikutnya.
Pada Jumat tersebut, perhatian investor tidak hanya tertuju pada kinerja indeks, tetapi juga pada sejumlah indikator ekonomi dalam negeri. Salah satunya adalah data penjualan ritel Indonesia yang menjadi acuan untuk menilai keberlanjutan pemulihan belanja masyarakat. Perkembangan penjualan ritel dapat memberikan gambaran mengenai daya beli, keyakinan konsumen, dan kemampuan konsumsi domestik dalam menopang aktivitas ekonomi. Karena itu, data tersebut menjadi pertimbangan penting bagi investor ketika memperkirakan prospek emiten yang bergantung pada permintaan dalam negeri.
Selain konsumsi, investor memantau perkembangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama terkait kebutuhan pembiayaan pemerintah. Perubahan penerimaan, belanja, maupun strategi pendanaan dapat memengaruhi persepsi pasar terhadap kondisi fiskal dan ruang kebijakan ekonomi. Perhatian juga diarahkan pada investasi hilirisasi, yang berkaitan dengan prospek peningkatan kapasitas produksi serta ekspor. Kemajuan proyek di sektor tersebut dinilai penting karena dapat memengaruhi arus investasi, nilai tambah komoditas, dan kinerja perdagangan. Dengan demikian, arah konsumsi domestik, kebutuhan pembiayaan APBN, serta perkembangan produksi dan ekspor menjadi bagian dari faktor yang dipertimbangkan dalam aktivitas perdagangan saham sepanjang sesi I.
Sentimen ekonomi domestik turut menjadi perhatian pelaku pasar setelah Bank Indonesia melaporkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) September berada di level 118,1. Angka tersebut turun tipis dibandingkan 118,5 pada Agustus, tetapi masih berada jauh di atas ambang 100. Posisi ini menunjukkan konsumen secara keseluruhan tetap optimistis terhadap kondisi ekonomi dan prospeknya. Meski demikian, penurunan indeks mengindikasikan bahwa pemulihan daya beli belum berlangsung secara merata. Rumah tangga masih menghadapi tantangan berupa perubahan harga kebutuhan, pendapatan yang belum sepenuhnya menguat, serta kehati-hatian dalam meningkatkan konsumsi.
Dari Eropa, risalah rapat Bank Sentral Eropa (ECB) memperlihatkan bahwa para pembuat kebijakan masih menilai risiko inflasi cenderung meningkat. Prospek harga dipengaruhi oleh ketidakpastian geopolitik, termasuk konflik Amerika Serikat-Iran dan perang Rusia-Ukraina, yang berpotensi mengganggu pasokan energi serta komoditas global. Dalam dokumen tersebut, ECB tetap mempertahankan seluruh pilihan kebijakan dan belum memberikan kepastian mengenai langkah suku bunga berikutnya. Tingkat suku bunga deposito tercatat sebesar 2,50%, sedangkan suku bunga operasi pembiayaan utama berada di 2,65%. Risalah itu bukan merupakan keputusan suku bunga baru, melainkan catatan mengenai pertimbangan dan pandangan anggota dewan dalam rapat sebelumnya.
Perubahan ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter Eropa dapat memengaruhi berbagai kelas aset. Jika investor memperkirakan ECB akan mempertahankan suku bunga lebih tinggi dalam waktu lebih lama, euro berpotensi memperoleh dukungan, sementara imbal hasil obligasi Eropa dapat meningkat seiring penyesuaian harga. Kondisi tersebut juga dapat mendorong investor mengurangi eksposur pada aset berisiko, termasuk saham di pasar berkembang. Sebaliknya, sinyal pelonggaran yang lebih kuat berpotensi menekan euro dan imbal hasil obligasi, sekaligus meningkatkan minat terhadap aset berisiko apabila kekhawatiran inflasi dan geopolitik mereda.
Sentimen global turut dipengaruhi perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran yang kembali meningkatkan ketidakpastian geopolitik serta prospek energi. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa serangan terhadap Iran tidak akan dilakukan sebelum pemilihan paruh waktu pada 3 November 2026. Pernyataan tersebut disampaikan ketika ketegangan di Timur Tengah meningkat dan pasar mencermati risiko terhadap pasokan minyak global.
Sebelumnya, Trump sempat mempertimbangkan kemungkinan melancarkan serangan baru sebelum pemilu. Kekhawatiran terhadap eskalasi konflik kemudian mendorong harga minyak Brent naik lebih dari 4 persen hingga menembus US$104 per barel. Walaupun serangan ditunda, blokade laut terhadap Iran tetap berlaku. Trump juga menegaskan bahwa Iran tidak akan diizinkan memiliki senjata nuklir, sehingga ruang bagi penurunan ketegangan masih terbatas.
Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional Kristalina Georgieva memperingatkan bahwa harga energi dapat tetap tinggi meskipun perang di kawasan Teluk segera berakhir. Menurutnya, pemulihan produksi dan distribusi memerlukan waktu, sementara kontrak minyak Brent berjangka masih menunjukkan tekanan hingga 2027. Harga minyak yang berada di sekitar US$100 per barel mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap risiko pasokan dan kenaikan biaya transportasi.
Keterbatasan kapasitas penyulingan juga berpotensi memperbesar dampak terhadap konsumen. Ketika pasokan minyak mentah terganggu, harga bahan bakar olahan dapat meningkat lebih cepat karena fasilitas pemrosesan tidak segera mampu menggantikan kekurangan pasokan. Kondisi tersebut dapat memperkuat tekanan inflasi dan meningkatkan biaya logistik di berbagai negara.
Selain minyak, pasokan gas alam dari kawasan Teluk menghadapi risiko gangguan akibat ancaman terhadap pengiriman melalui Selat Hormuz. Jalur strategis tersebut sangat penting bagi Asia dan Eropa, sehingga hambatan pelayaran dapat meningkatkan harga gas serta mendorong persaingan memperoleh kargo energi. Perkembangan ini membuat pasar saham, valuta asing, dan komoditas tetap sensitif terhadap setiap perubahan kebijakan Washington maupun situasi keamanan regional.

