JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menilai kebijakan pemerintah yang menetapkan harga pembelian gabah kering panen (GKP) sebesar Rp6.500 per kilogram memberikan pengaruh yang meluas di perdesaan. Menurut dia, kebijakan tersebut tidak hanya berkaitan dengan sektor pertanian, tetapi juga menimbulkan dampak berantai terhadap aktivitas ekonomi masyarakat desa.
Rizal menjelaskan, penetapan harga itu memberikan kepastian kepada petani pada tingkat bawah. Kepastian harga menjadi titik penting karena petani memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai nilai gabah yang mereka hasilkan. Dengan adanya kepastian tersebut, kegiatan ekonomi yang berkaitan dengan hasil panen dapat kembali bergerak di lingkungan perdesaan.
Perubahan itu terlihat dari meningkatnya aktivitas setelah petani memperoleh kepastian harga. Transaksi gabah berlangsung dengan acuan yang telah ditetapkan, sehingga hubungan ekonomi petani dan pelaku usaha di sekitarnya ikut mengalami perubahan. Bagi Bulog, kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebijakan harga pembelian pemerintah mempunyai keterkaitan dengan dinamika ekonomi yang lebih luas daripada sekadar proses pembelian hasil pertanian.
Rizal menekankan bahwa pengaruh kebijakan GKP Rp6.500 per kilogram dapat dirasakan melalui rangkaian kegiatan ekonomi di desa. Saat petani mendapatkan kepastian di tingkat bawah, aktivitas yang mengikuti proses panen dan penyerapan gabah turut memperoleh ruang untuk bergerak. Karena itu, ia melihat kebijakan tersebut sebagai salah satu faktor yang mendorong perubahan aktivitas ekonomi perdesaan, dengan pertanian tetap menjadi bagian utama dari rangkaian tersebut.
Pernyataan itu menempatkan harga GKP sebagai kebijakan yang berdampak pada lebih dari satu bidang. Harga pembelian tidak hanya menjadi dasar bagi transaksi gabah, tetapi juga memengaruhi pola kegiatan ekonomi setelah hasil panen berada di tangan petani. Perubahan aktivitas tersebut menjadi perhatian Bulog dalam melihat hubungan kebijakan pangan, petani, dan perekonomian perdesaan.
Salah satu dampak yang paling terlihat dari kebijakan harga Gabah Kering Panen (GKP) sebesar Rp6.500 per kilogram adalah kembali bergeraknya penggilingan padi skala kecil. Sebelumnya, sebagian unit usaha tersebut mengalami penurunan aktivitas karena terbatasnya pasokan gabah, tekanan biaya operasional, serta persaingan dengan penggilingan berkapasitas lebih besar. Ketika kegiatan penggilingan kembali berlangsung, rantai ekonomi di tingkat desa turut memperoleh dorongan, mulai dari penyerapan gabah petani hingga kebutuhan tenaga kerja dan jasa angkutan.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyampaikan bahwa Bulog kini memberdayakan lebih dari 15 ribu penggilingan padi kecil di berbagai daerah sebagai mitra kerja. Kemitraan ini memberikan ruang bagi penggilingan lokal untuk terlibat dalam penyerapan dan pengolahan gabah, sekaligus memperluas jangkauan Bulog dalam menjalankan tugasnya. Dengan melibatkan pelaku usaha setempat, proses pengadaan diharapkan dapat berlangsung lebih dekat dengan sentra produksi.
Rizal menjelaskan, perhatian tersebut menunjukkan adanya pergeseran dibandingkan masa sebelumnya. Jika sebelumnya kerja sama dan perhatian lebih banyak diarahkan kepada penggilingan besar, kini penggilingan kecil menjadi bagian penting dalam strategi pemberdayaan. Langkah itu ditujukan untuk membantu menggerakkan ekonomi masyarakat yang lemah, terutama di wilayah pedesaan yang bergantung pada kegiatan pertanian dan usaha pengolahan hasil panen.
Keterangan tersebut disampaikan Rizal saat ditemui di Hotel Kempinski, Jakarta Pusat, Kamis (8/10). Pernyataan itu menegaskan bahwa keberadaan penggilingan kecil tidak hanya dipandang sebagai fasilitas pengolahan gabah, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi lokal. Dengan dukungan kemitraan dan kepastian penyerapan, penggilingan yang sebelumnya mengurangi aktivitas memiliki peluang untuk beroperasi kembali secara lebih berkelanjutan.
Kebijakan harga gabah kering panen (GKP) minimal Rp6.500 per kilogram dinilai memberi pengaruh langsung terhadap petani dan perekonomian perdesaan. Bulog memastikan gabah petani terserap dengan harga paling sedikit sesuai ketentuan tersebut, sehingga tidak ada transaksi pembelian di bawah batas yang telah ditetapkan. Kepastian ini mengurangi kekhawatiran petani ketika memasuki masa panen, terutama saat pasokan meningkat dan posisi tawar biasanya melemah.
Bagi petani, jaminan harga membuat hasil panen memiliki nilai yang lebih terukur. Mereka dapat menyusun rencana pengeluaran, membayar biaya produksi, serta memenuhi kebutuhan rumah tangga dengan perhitungan yang lebih baik. Rasa gembira muncul karena kerja selama satu musim memperoleh penghargaan yang dianggap lebih layak. Penyerapan oleh Bulog juga membantu menjaga agar gabah tidak menumpuk terlalu lama atau dijual secara terburu-buru kepada pembeli dengan harga rendah.
Dampaknya turut dirasakan oleh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di desa. Perputaran pendapatan petani berpotensi meningkatkan permintaan terhadap berbagai layanan dan produk lokal, mulai dari perdagangan kebutuhan sehari-hari hingga jasa transportasi serta penyediaan sarana produksi. Ketika penerimaan petani lebih stabil, kegiatan ekonomi di sekitar sentra pertanian dapat bergerak lebih aktif dan membuka peluang usaha tambahan bagi masyarakat.
Penggilingan padi kecil juga disebut memperoleh ruang untuk tumbuh. Pemberdayaan terhadap lebih dari 15 ribu penggilingan memperkuat keterlibatan pelaku usaha lokal dalam rantai pasok beras, sekaligus mendekatkan proses pengolahan dengan wilayah produksi. Dengan bahan baku yang terserap dan harga yang lebih pasti, penggilingan dapat menjaga operasional, mempertahankan tenaga kerja, serta meningkatkan kapasitas secara bertahap. Kebijakan tersebut pada akhirnya menghubungkan perlindungan pendapatan petani dengan penguatan UMKM perdesaan.
Perum Bulog menyiapkan penguatan ekosistem ekonomi perdesaan melalui kerja sama dengan Koperasi Desa Merah Putih atau Kopdes Merah Putih. Rencana ini diarahkan untuk memperluas peran desa dalam distribusi kebutuhan pangan sekaligus membangun jalur ekonomi yang lebih dekat dengan masyarakat. Melalui kemitraan tersebut, Bulog ingin memastikan produk pangan yang dikelolanya dapat disalurkan secara lebih efektif melalui lembaga ekonomi yang berada di tingkat desa.
Selain produk pangan Bulog, sinergi dengan Kopdes Merah Putih juga akan dimanfaatkan untuk menyalurkan pupuk bersubsidi. Kerja sama ini diharapkan dapat memperkuat akses petani terhadap sarana produksi serta mendukung kelancaran kegiatan ekonomi di wilayah perdesaan. Dengan adanya koperasi sebagai bagian dari jaringan distribusi, penyaluran kebutuhan pokok dan dukungan bagi sektor pertanian diharapkan berlangsung lebih terkoordinasi.
Ahmad Rizal Ramdhani berharap ekosistem ekonomi yang dibangun dari desa dapat mengubah arah pertumbuhan ekonomi nasional. Menurutnya, desa tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga dapat berperan sebagai titik awal perputaran barang, pendapatan, dan kegiatan usaha. Rantai pasok yang bertumpu pada potensi desa diharapkan mampu menciptakan hubungan ekonomi yang lebih kuat petani, koperasi, penggilingan padi, dan pasar.
Ia berharap perputaran ekonomi ke depan bergerak dari desa menuju kota, bukan sebaliknya, dari kota menuju desa. Harapan tersebut menempatkan Kopdes Merah Putih sebagai salah satu instrumen penting untuk memperkuat ekonomi lokal, terutama melalui penyaluran produk pangan Bulog dan pupuk bersubsidi. Dengan sinergi itu, aktivitas ekonomi di desa diharapkan semakin hidup dan mampu memberikan dampak yang lebih luas bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

