Khutbah Jumat Menyoroti Peran Pemimpin Berakhlak dalam Kemajuan Bangsa

Khutbah Jumat Menyoroti Peran Pemimpin Berakhlak dalam Kemajuan Bangsa

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, Khutbah Jumat kali ini menyoroti hubungan erat kualitas kepemimpinan dan arah kemajuan bangsa. Pemimpin tidak hanya bertugas mengelola pemerintahan, menyusun kebijakan, atau memastikan pelayanan publik berjalan, tetapi juga memikul tanggung jawab moral untuk membentuk kehidupan masyarakat yang adil, sejahtera, dan berakhlak. Melalui keputusan serta keteladanannya, seorang pemimpin dapat menentukan apakah pembangunan menghasilkan kemajuan yang merata atau justru memperlebar kesenjangan.

Dalam khutbah tersebut, disampaikan bahwa kemajuan peradaban tidak cukup diukur dari pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, dan penguasaan teknologi. Kemajuan harus berjalan bersama dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat serta kemuliaan akhlak bangsa. Pemimpin yang memiliki integritas akan menempatkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi dan kelompok. Ia juga diharapkan mampu menggunakan kekuasaan secara amanah, menegakkan keadilan, serta memberi contoh dalam kejujuran, kedisiplinan, dan kepedulian sosial.

Pesan itu menjadi semakin penting dalam negara demokrasi, karena pemilihan pemimpin dan pertanggungjawaban atas kinerjanya berlangsung secara berkala, yakni setiap lima tahun. Proses tersebut bukan sekadar mekanisme pergantian kekuasaan, melainkan kesempatan bagi masyarakat untuk menilai rekam jejak, karakter, dan komitmen calon pemimpin. Masyarakat memiliki peran dalam menentukan arah bangsa melalui pilihan yang rasional, bertanggung jawab, dan tidak mudah dipengaruhi oleh kepentingan sesaat.

Kondisi suatu masyarakat kerap dapat dibaca melalui sosok yang memimpinnya. Ketika pemimpin menjunjung akhlak, hukum, dan keadilan, nilai-nilai tersebut berpeluang tumbuh dalam kehidupan publik. Sebaliknya, kepemimpinan yang mengabaikan etika dapat mendorong munculnya ketidakpercayaan, konflik, dan kerusakan tatanan sosial. Karena itu, pembangunan bangsa dan kemuliaan akhlak pemimpin merupakan dua hal yang saling berkaitan. Bangsa yang ingin maju memerlukan pemimpin berilmu, berintegritas, serta konsisten menerjemahkan nilai moral ke dalam kebijakan dan pelayanan bagi seluruh rakyat.

Akhlak mulia tidak lahir dengan sendirinya. Ia berawal dari keimanan yang benar kepada Allah SWT, yaitu keyakinan yang menempatkan Allah sebagai tujuan pengabdian sekaligus sumber pedoman dalam menjalani kehidupan. Keimanan tersebut membentuk kesadaran bahwa setiap perkataan, keputusan, dan tindakan akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Karena itu, akhlak bukan sekadar perilaku yang tampak baik di hadapan manusia, melainkan cerminan dari hubungan yang benar seorang hamba dan Tuhannya.

Dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa, keimanan yang melahirkan akhlak mulia memiliki kedudukan yang sangat penting. Cita-cita membangun masyarakat yang beradab dan bangsa yang maju tidak cukup hanya bertumpu pada gagasan, kemampuan, atau kemajuan lahiriah. Semua itu memerlukan manusia yang menjunjung nilai kebaikan, terutama pemimpin yang memiliki karakter terpuji. Pemimpin dengan akhlak yang baik akan memahami bahwa kedudukan bukanlah kemuliaan yang berdiri sendiri, melainkan amanah yang harus dijalankan sesuai tuntunan Allah SWT.

Seorang pemimpin berakhlak menjadikan keimanan sebagai dasar dalam memandang tanggung jawabnya. Ia tidak memisahkan keberhasilan pembangunan dari nilai adab dan moral, sebab kemajuan tanpa akhlak dapat kehilangan arah. Ketika kepemimpinan dibangun di atas keimanan, masyarakat memiliki harapan terhadap hadirnya kehidupan yang lebih tertib, bermartabat, dan menjunjung kebaikan bersama. Oleh sebab itu, kualitas akhlak pemimpin menjadi bagian penting dalam perjalanan bangsa menuju peradaban yang tinggi.

Khutbah Jumat mengajak umat untuk memahami pentingnya memiliki dan memilih pemimpin yang menjunjung adab serta berakhlak mulia. Pilihan terhadap pemimpin hendaknya tidak dilepaskan dari pertimbangan keimanan dan perilaku yang mencerminkan nilai kebaikan. Umat perlu menyadari bahwa pemimpin bukan hanya sosok yang mengarahkan kehidupan bersama, tetapi juga figur yang memberikan teladan. Dengan memilih pemimpin yang berakhlak, masyarakat turut menjaga agar cita-cita kemajuan bangsa tetap berjalan dalam landasan keimanan kepada Allah SWT.

Abu Bakar Ash-Shiddiq merupakan salah satu rujukan penting dalam sejarah Islam ketika membahas akhlak seorang pemimpin. Setelah dipercaya memimpin kaum Muslimin, ia menyampaikan pidato awal yang menunjukkan kedalaman iman, kejernihan sikap, dan tanggung jawab moral. Dalam pidato tersebut, Abu Bakar menyatakan bahwa dirinya telah diangkat sebagai pemimpin, tetapi bukanlah orang terbaik di masyarakat yang memilihnya. Pernyataan ini bukan bentuk keraguan terhadap amanah, melainkan pengakuan bahwa kepemimpinan tidak menjadikan seseorang paling unggul dalam segala hal.

Sikap itu juga menegaskan bahwa seorang pemimpin tidak semestinya menempatkan diri sebagai satu-satunya pihak yang selalu benar. Ia tetap membutuhkan nasihat, kritik, kerja sama, dan pengawasan dari masyarakat. Dengan demikian, jabatan dipahami sebagai amanah untuk melayani, bukan sarana membangun keistimewaan pribadi. Kerendahan hati seperti ini dapat mencegah kesombongan, penyalahgunaan kekuasaan, dan keputusan yang lahir dari perasaan paling mengetahui.

Pidato Abu Bakar dapat diperkenalkan sebagai gambaran tujuh akhlak penting seorang pemimpin, yaitu tawadhu, kejujuran, tanggung jawab, keadilan, keterbukaan terhadap nasihat, keberanian menegakkan kebenaran, serta kepedulian terhadap rakyat. Ketujuh nilai tersebut saling berkaitan dan membentuk kepemimpinan yang berorientasi pada kemaslahatan. Seorang pemimpin yang rendah hati akan lebih mudah mendengar suara masyarakat, mengakui kekeliruan, dan memperbaiki kebijakan berdasarkan pertimbangan yang objektif.

Tawadhu menjadi pintu awal bagi akhlak-akhlak lainnya. Dalam konteks kepemimpinan, tawadhu bukan berarti lemah atau kehilangan kewibawaan, tetapi menyadari bahwa kekuasaan berasal dari amanah dan pada akhirnya akan dipertanggungjawabkan. Teladan Abu Bakar mengajarkan bahwa pemimpin yang baik tidak sibuk menonjolkan keunggulan dirinya. Ia justru berusaha menjalankan tugas dengan adil, menerima kebenaran dari siapa pun, dan mengutamakan kepentingan bangsa serta masyarakat di atas kepentingan pribadi.

Tawadhu merupakan sikap rendah hati yang menempatkan seseorang secara proporsional di hadapan Allah SWT dan sesama manusia. Dalam kepemimpinan, tawadhu bukan tanda kelemahan, apalagi ketidakmampuan mengambil keputusan. Sebaliknya, sikap ini menunjukkan kesadaran bahwa kekuasaan, pengetahuan, dan amanah yang dimiliki seorang pemimpin memiliki batas. Keteladanan tersebut tampak dalam diri Abu Bakar ash-Shiddiq. Meskipun dipercaya memimpin umat setelah Rasulullah SAW, beliau tidak memandang dirinya sebagai sosok yang terbebas dari kekurangan. Kerendahan hati menjadi akhlak pertama yang menonjol dalam kepemimpinannya.

Pemimpin yang tawadhu memahami bahwa kemajuan bersama tidak lahir dari gagasan seorang diri. Ia membutuhkan nasihat, masukan, saran, dan kritik dari orang-orang yang memiliki pengetahuan serta pengalaman. Kesediaan mendengar membantu pemimpin melihat persoalan dari berbagai sudut pandang, mengenali kekeliruan, dan menyusun kebijakan yang lebih adil. Karena itu, forum musyawarah harus dipandang sebagai sarana memperkuat kepemimpinan, bukan sebagai ancaman terhadap kewibawaan. Kesombongan justru dapat menutup telinga dan menghalangi proses menerima pandangan orang lain. Ketika pemimpin merasa selalu benar, keputusan yang dihasilkan berisiko jauh dari kebutuhan masyarakat.

Kisah Fir’aun menjadi pelajaran penting tentang bahaya kesombongan kekuasaan. Di mata rakyatnya, ia merupakan raja yang sangat berkuasa dan memiliki pengaruh besar. Namun, kekuasaan tersebut tidak membuatnya rendah hati atau bersedia menerima kebenaran. Melalui dakwah Nabi Musa dan Nabi Harun, ia diingatkan agar kembali kepada jalan Allah, tetapi kesombongan membuatnya menolak nasihat itu. Pada akhirnya, kebesaran yang dibanggakannya tidak mampu menyelamatkan dirinya dari kehancuran. Kisah ini mengingatkan bahwa kedudukan tinggi tanpa akhlak dapat berubah menjadi jalan menuju kejatuhan.

Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa tawadhu tidak mengurangi kemuliaan seseorang. Sebaliknya, kerendahan hati menjadi jalan peningkatan derajat, sebagaimana makna sabda beliau yang diriwayatkan HR. Dailam. Pemimpin yang mau mendengar dan menerima kritik akan lebih dipercaya karena menunjukkan bahwa amanah lebih penting daripada ego pribadi.