Vicky Prasetyo Menyiapkan Langkah Menuju Dunia Dakwah pada 2030

Vicky Prasetyo Menyiapkan Langkah Menuju Dunia Dakwah pada 2030

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, Vicky Prasetyo mulai memikirkan perubahan arah hidup untuk beberapa tahun mendatang. Setelah menjalani perjalanan panjang sebagai presenter dan selebritas, ia kini mempertimbangkan pilihan yang berbeda dari rutinitasnya selama ini. Dunia hiburan yang telah membesarkan namanya tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan karier, tetapi Vicky melihat adanya kemungkinan untuk menekuni bidang lain yang dinilai lebih sesuai dengan keinginan pribadinya.

Salah satu rencana yang mulai ia pertimbangkan adalah meninggalkan dunia hiburan secara bertahap dan mengarahkan perhatian pada dakwah. Keinginan tersebut tidak muncul sebagai pernyataan sesaat atau sekadar wacana yang disampaikan tanpa pertimbangan. Vicky disebut mulai memikirkan langkah itu dengan lebih serius, termasuk membayangkan kehidupan dan peran yang ingin dijalaninya pada masa mendatang.

Selama berkarier, Vicky dikenal sebagai sosok yang aktif tampil di layar kaca dan terlibat dalam berbagai kegiatan hiburan. Namanya juga pernah hadir dalam dunia politik, sehingga pengalaman yang dimilikinya tidak hanya terbatas pada industri televisi dan panggung hiburan. Perjalanan tersebut membuatnya memiliki ruang untuk bertemu dengan banyak kalangan serta memahami beragam persoalan sosial yang berkembang di masyarakat.

Keinginan untuk menekuni dakwah menjadi arah baru yang dapat mengubah citra dan kegiatan Vicky pada tahun-tahun berikutnya. Ia tampaknya ingin menggunakan pengalaman, kemampuan berkomunikasi, dan jangkauan publik yang dimilikinya untuk menyampaikan pesan keagamaan. Namun, rencana menuju dunia dakwah tetap merupakan proses pribadi yang membutuhkan persiapan, pemahaman, serta komitmen yang matang.

Target tahun 2030 menjadi gambaran waktu yang ingin dipersiapkan Vicky untuk mengambil langkah tersebut. Rentang waktu itu memberinya kesempatan untuk menata kehidupan, memperdalam pengetahuan, dan memastikan keputusan yang diambil benar-benar berasal dari kesadaran pribadi. Dengan demikian, rencana tersebut menunjukkan adanya refleksi serius mengenai perjalanan hidupnya, bukan sekadar perubahan sementara dalam karier.

Perjalanan Vicky Prasetyo menuju dunia dakwah tidak terlepas dari dorongan sang ibu, Emma Fauziah. Ia mengingatkan bahwa ilmu agama yang pernah dipelajari Vicky selama bertahun-tahun di pesantren memiliki nilai yang perlu terus digunakan. Bagi Emma, pengalaman tersebut bukan sekadar bagian dari masa lalu, melainkan bekal yang dapat diarahkan untuk memberi manfaat melalui peran sebagai pendakwah.

Pesan itu disampaikan Emma dengan harapan agar proses pendidikan Vicky di pesantren tidak berhenti begitu saja. Ia ingin pengetahuan agama yang telah diperoleh dapat dilanjutkan dalam bentuk kegiatan yang lebih luas, termasuk menyampaikan dakwah kepada masyarakat. Dorongan tersebut menjadi salah satu alasan Vicky mulai mempertimbangkan langkah menuju dunia dakwah pada 2030.

Ketika menceritakan nasihat ibunya, Vicky menirukan pesan Emma mengenai pengorbanan yang telah diberikan untuk membawanya dan menyekolahkannya di pesantren. “Ibu saya bilang, sudah berkorban membawa dan menyekolahkan saya di pesantren, jadi ilmu agama yang saya pelajari jangan berhenti begitu saja. Ibu ingin saya menjadi pendakwah,” ujar Vicky, sebagaimana ia menirukan pesan sang ibu.

Harapan Emma tersebut menempatkan pengalaman Vicky di pesantren sebagai dasar penting bagi rencana berikutnya. Ia didorong untuk tidak hanya mengingat pendidikan agama yang pernah dijalani, tetapi juga memanfaatkannya secara nyata. Bagi Vicky, pesan sang ibu menjadi pengingat bahwa pengetahuan yang diperoleh membawa tanggung jawab untuk diteruskan. Rencana berdakwah pun dipandang sebagai cara untuk menjaga kesinambungan ilmu tersebut sekaligus memenuhi harapan Emma Fauziah.

Selain keluarga, lingkungan pertemanan Vicky Prasetyo juga sering memberikan masukan mengenai kemungkinan dirinya terjun ke dunia dakwah. Orang-orang di sekitarnya melihat bahwa pengalaman hidup, cara berkomunikasi, serta keberaniannya tampil di hadapan banyak orang dapat menjadi bekal untuk menjalankan peran tersebut. Masukan itu tidak selalu disampaikan dalam suasana resmi. Dalam berbagai percakapan, teman-temannya kerap mengaitkan kemampuan Vicky berbicara dengan peluang untuk menyampaikan pesan keagamaan kepada masyarakat.

Menurut penilaian orang-orang di sekitarnya, kemampuan Vicky ketika berbicara di depan publik, termasuk saat berorasi, dinilai cukup kuat untuk mendukung langkah tersebut. Vicky menyampaikan bahwa orang lain menilai dirinya memiliki kemampuan orasi yang baik dan mampu membangun perhatian pendengar. Bagi Vicky, penilaian itu menjadi dorongan sekaligus tanggung jawab, karena berbicara di depan banyak orang tidak hanya membutuhkan keberanian, tetapi juga isi pesan yang dapat dipertanggungjawabkan. Pengalaman berhadapan dengan beragam karakter publik turut membuatnya terbiasa menyampaikan gagasan secara langsung.

Kebiasaan memberi penguatan dan nasihat juga sudah dilakukan Vicky dalam lingkaran pertemanannya. Ia sering berusaha menyemangati teman yang sedang menghadapi masalah, mengingatkan mereka agar tetap memiliki tujuan, serta memberikan pandangan berdasarkan pengalaman yang pernah dilalui. Nasihat tersebut disampaikan dengan gaya yang dekat dan tidak menggurui, sehingga lebih mudah diterima oleh orang-orang di sekitarnya. Dalam pembicaraan mengenai kebiasaan itu, Vicky melontarkan candaan bahwa ia tetap menyampaikan nasihat meskipun dirinya disebut sebagai orang yang kehilangan arah. Pernyataan tersebut menunjukkan sisi humor dalam caranya merespons penilaian orang lain, tanpa menghilangkan keseriusannya untuk terus memberi penguatan. Masukan dari keluarga dan lingkungan pun menjadi bagian dari pertimbangan Vicky dalam mempersiapkan kemungkinan menuju dunia dakwah pada 2030.

Vicky Prasetyo telah menetapkan target untuk mulai serius menekuni dunia dakwah pada 2030. Target tersebut menjadi rencana yang ingin ia persiapkan secara bertahap, bukan peran yang langsung diambil dalam waktu dekat. Ia menyadari bahwa menjadi pendakwah memiliki tanggung jawab yang besar, terutama karena sosok yang menyampaikan pesan keagamaan juga akan menjadi perhatian masyarakat.

Menurut Vicky, dakwah tidak cukup hanya mengandalkan pengetahuan agama. Seorang pendakwah perlu mampu memberikan contoh melalui perilaku dan akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari. Pesan yang disampaikan, menurut pandangannya, perlu selaras dengan sikap yang ditunjukkan agar ajakan tersebut dapat diterima secara lebih utuh. Karena itu, kesiapan untuk berdakwah tidak hanya berkaitan dengan kemampuan berbicara atau memahami materi keagamaan.

Vicky menyebut dakwah sebagai ajakan, imbauan, dan syiar. Pemahaman tersebut membuatnya melihat peran pendakwah sebagai pihak yang mengajak masyarakat kepada hal-hal yang baik, bukan sekadar menyampaikan informasi agama. Ia juga menilai bahwa orang yang menjalankan peran itu perlu menunjukkan kesungguhan melalui sikap dan tindakan, sehingga pesan yang disampaikan memiliki contoh nyata dalam kehidupan.

Di sisi lain, Vicky mengakui bahwa akhlaknya masih belum rapi. Pengakuan tersebut membuatnya merasa belum siap untuk mengambil peran sebagai pendakwah dalam waktu dekat. Ia menyadari masih ada hal-hal dalam dirinya yang perlu dibenahi sebelum benar-benar tampil menyampaikan dakwah kepada masyarakat.

Rasa kurang percaya diri juga masih menjadi pertimbangan Vicky. Ia merasa belum memiliki akhlak yang cukup baik untuk menjalankan tanggung jawab tersebut. Oleh sebab itu, target 2030 dipandang sebagai waktu yang ingin ia tuju setelah mempersiapkan diri, sementara saat ini ia masih mempertimbangkan kesiapan perilaku dan akhlaknya sebelum mengambil peran dalam dunia dakwah.