JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, Masyarakat Indonesia masih cenderung memilih paket internet berdasarkan harga termurah. Pertimbangan tersebut sering kali lebih dominan dibandingkan kapasitas bandwidth atau kecepatan yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan pengguna. Kondisi ini menunjukkan bahwa keputusan berlangganan internet belum sepenuhnya didasarkan pada pemahaman mengenai kualitas layanan dan kapasitas koneksi yang diperlukan untuk mendukung aktivitas digital sehari-hari.
Senior Manager Marketing Biznet, Adrianto Sulistyo, menyampaikan bahwa rendahnya kesadaran masyarakat terhadap kebutuhan bandwidth menjadi salah satu kendala dalam memperluas digitalisasi secara merata. “Masyarakat masih memilih internet berdasarkan harga, bukan berdasarkan kebutuhan bandwidth,” ujar Adrianto dalam acara media gathering Biznet 26th anniversary di Jakarta pada Rabu (7/10).
Menurut pernyataan tersebut, pemilihan layanan internet yang hanya berorientasi pada harga dapat membuat pengguna tidak memperoleh kapasitas koneksi yang sesuai dengan kebutuhannya. Kebutuhan setiap pelanggan dapat berbeda, bergantung pada aktivitas yang dilakukan melalui internet. Namun, kesadaran untuk menilai kebutuhan bandwidth itu masih rendah sehingga harga tetap menjadi acuan utama dalam menentukan pilihan paket.
Biznet sendiri telah menyediakan pilihan kecepatan internet untuk beragam kebutuhan. Ketersediaan beberapa pilihan tersebut dimaksudkan agar masyarakat dapat memilih layanan berdasarkan kapasitas yang diperlukan. Meski demikian, pertimbangan harga masih lebih dominan dalam keputusan pengguna. Situasi ini menjadi bagian dari tantangan yang disampaikan Biznet dalam upaya memperluas digitalisasi secara merata di Indonesia, terutama ketika pemahaman mengenai kebutuhan bandwidth belum menjadi faktor utama dalam memilih layanan internet.
Perkembangan teknologi digital turut mengubah cara masyarakat memandang kebutuhan koneksi internet di rumah. Biznet melihat bahwa permintaan terhadap kecepatan yang lebih tinggi akan terus meningkat seiring bertambahnya penggunaan perangkat digital dan layanan berbasis internet. Internet tidak lagi hanya digunakan untuk menjelajah situs atau mengakses media sosial, tetapi juga menjadi infrastruktur yang menghubungkan berbagai perangkat dalam aktivitas sehari-hari.
Adrianto menjelaskan bahwa semakin banyak pengembang membangun rumah baru dengan mempertimbangkan penerapan konsep smart home. Pada hunian semacam ini, perangkat elektronik, sistem keamanan, dan peralatan rumah tangga dapat terhubung melalui jaringan internet. Karena itu, kapasitas koneksi yang kecil berisiko tidak lagi memadai, terutama ketika banyak perangkat digunakan secara bersamaan. Kebutuhan tersebut bukan semata-mata berkaitan dengan kecepatan unduh, melainkan juga kestabilan koneksi dan kemampuan jaringan dalam menangani lalu lintas data secara konsisten.
Salah satu contoh penerapan yang semakin umum adalah kamera pengawas atau smart CCTV yang terhubung ke internet. Melalui perangkat ini, penghuni dapat memantau kondisi rumah dari jarak jauh menggunakan telepon pintar atau komputer. Tayangan video yang dikirim secara langsung membutuhkan koneksi stabil agar gambar dapat ditampilkan dengan baik, tanpa jeda panjang atau gangguan yang mengurangi kualitas pemantauan.
Smart CCTV juga dapat mendukung komunikasi anggota keluarga yang berada di rumah dan mereka yang sedang bekerja di luar. Dengan fitur audio dua arah, seseorang dapat berbicara dengan anak, orang tua, atau anggota keluarga lain melalui perangkat yang terpasang di rumah. Fungsi tersebut membuat koneksi internet berperan lebih luas, bukan hanya sebagai sarana pemantauan, tetapi juga sebagai media komunikasi jarak jauh.
Selain CCTV, rumah pintar dapat mencakup sensor, lampu, pengatur suhu, perangkat hiburan, serta peralatan rumah tangga yang saling berkomunikasi. Semakin banyak perangkat yang terhubung, semakin besar pula kebutuhan terhadap bandwidth yang memadai. Kapasitas jaringan yang sesuai memungkinkan integrasi teknologi berjalan optimal, sekaligus menjaga pengalaman penggunaan tetap lancar ketika berbagai layanan diakses secara bersamaan.
Perubahan kebutuhan konektivitas di rumah turut mendorong hadirnya teknologi mesh Wi-Fi. Dalam paparan Biznet, teknologi ini diperkenalkan sebagai cara untuk memperluas jangkauan internet di dalam area penggunaan, terutama pada rumah atau ruang dengan lebih dari satu lantai dan beberapa area aktivitas. Kebutuhan tersebut semakin relevan karena internet kini tidak hanya digunakan dari satu ruangan. Pengguna dapat bekerja, belajar, berkomunikasi, atau menikmati hiburan dari lokasi yang berbeda di dalam rumah.
Mesh Wi-Fi memiliki pendekatan yang berbeda dari Wi-Fi extender yang sebelumnya banyak dibicarakan. Dengan extender, pengguna dapat menghadapi kebutuhan untuk terhubung ke jaringan atau SSID yang berbeda ketika berpindah area. Sementara itu, mesh Wi-Fi memungkinkan perangkat tetap berada dalam jaringan yang sama saat pengguna bergerak dari satu lantai ke lantai lain atau menuju area berbeda. Dengan demikian, perpindahan lokasi tidak mengharuskan pengguna memilih dan berganti jaringan secara manual.
Adrianto menjelaskan bahwa perpindahan koneksi melalui teknologi tersebut berlangsung secara seamless. Artinya, koneksi dapat mengikuti perpindahan pengguna ant area tanpa proses pergantian SSID atau penggunaan jaringan terpisah. Penjelasan ini menempatkan mesh Wi-Fi bukan sekadar sebagai perangkat tambahan, melainkan sebagai bagian dari upaya menghadirkan pengalaman internet yang lebih praktis di berbagai sudut rumah.
Pendekatan tersebut sejalan dengan kondisi rumah modern yang menampung semakin banyak perangkat. Laptop, ponsel, televisi, perangkat kerja, serta perangkat lain dapat digunakan dari area yang berlainan dan membutuhkan akses jaringan yang stabil. Mesh Wi-Fi menjawab kebutuhan akan konektivitas yang menjangkau ruang penggunaan secara lebih menyeluruh, tanpa menambah kerumitan bagi pengguna. Dalam konteks perubahan pola memilih layanan internet, perhatian pun tidak lagi berhenti pada harga atau kecepatan yang ditawarkan, tetapi juga pada kemudahan koneksi saat digunakan di seluruh area rumah.
Memasuki usia 26 tahun, Biznet terus memperkuat perannya dalam menjawab meningkatnya kebutuhan infrastruktur digital di Indonesia. Perubahan pola penggunaan internet, baik untuk bekerja, belajar, menjalankan usaha, maupun mengakses layanan berbasis teknologi, menuntut jaringan yang stabil serta kapasitas yang semakin besar. Karena itu, pengembangan infrastruktur tidak hanya diarahkan pada perluasan jangkauan, tetapi juga pada kesiapan menghadapi teknologi baru yang membutuhkan daya komputasi dan konektivitas tinggi.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah pengoperasian AI-ready data center. Fasilitas ini dipersiapkan untuk mendukung kebutuhan pengolahan data dan aplikasi berbasis kecerdasan buatan, sekaligus menjadi fondasi bagi kesiapan memasuki era digital yang semakin terintegrasi dengan AI. Dengan dukungan infrastruktur tersebut, pelanggan diharapkan dapat memanfaatkan teknologi secara lebih optimal untuk meningkatkan produktivitas, mempercepat proses kerja, dan mengembangkan layanan digital yang relevan dengan kebutuhan bisnis maupun personal.
Penguatan konektivitas antarpulau juga dilakukan melalui Biznet Nusantara Cable System (BNCS), jaringan kabel fiber optic bawah laut yang telah beroperasi sejak 2024. Infrastruktur ini membantu membangun jalur konektivitas yang lebih kuat dan mendukung pertukaran data antarwilayah secara lebih andal. Biznet juga menyiapkan pembangunan BNCS-2 yang akan menghubungkan Surabaya, Banjarmasin, Sumenep, dan Buleleng. Jalur tersebut diharapkan dapat meningkatkan ketahanan jaringan serta memperluas kapasitas koneksi di sejumlah wilayah strategis.
Saat ini, jaringan Biznet telah menjangkau lebih dari 200 kota dan kabupaten di Jawa, Bali, Sumatra, Bangka, Batam, Kalimantan, Sulawesi, serta Flores. Cakupan tersebut didukung oleh lebih dari 3 juta homepass dan lebih dari 300 kantor cabang. Perluasan jaringan terus diarahkan untuk menghadirkan bandwidth yang semakin besar dengan harga yang lebih terjangkau, sehingga semakin banyak masyarakat, pelaku usaha, dan institusi dapat memperoleh akses internet yang sesuai dengan kebutuhan aktivitas digital mereka.

