Desalinasi Disiapkan sebagai Solusi Krisis Air Bersih Balikpapan

Desalinasi Disiapkan sebagai Solusi Krisis Air Bersih Balikpapan

BALIKPAPAN, KALIMANTAN TIMUR — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono menginstruksikan jajarannya untuk meneliti pemanfaatan teknologi desalinasi air laut di Balikpapan, Kalimantan Timur. Instruksi tersebut disampaikan sebagai bagian dari upaya mencari solusi jangka panjang atas krisis pasokan air bersih yang masih dihadapi masyarakat. Dengan posisi geografis yang berada di kawasan pesisir, Balikpapan dinilai memiliki potensi untuk mengembangkan teknologi pengolahan air laut menjadi air yang dapat dimanfaatkan bagi kebutuhan warga.

AHY meminta agar kajian mengenai pemanfaatan desalinasi dilanjutkan secara serius dan menyeluruh. Penelitian itu perlu mencakup aspek teknologi, kapasitas produksi, kebutuhan energi, biaya pembangunan serta pengelolaan fasilitas dalam jangka panjang. Kajian yang matang diperlukan agar pilihan solusi tersebut dapat disesuaikan dengan kondisi daerah dan tidak hanya menjawab kebutuhan sementara. Selain itu, hasil penelitian diharapkan menjadi dasar bagi pemerintah dalam menentukan skema pelaksanaan, pembiayaan, serta pihak yang bertanggung jawab atas operasionalnya.

Desalinasi dipertimbangkan karena teknologi ini memungkinkan air laut diolah menjadi sumber air baku melalui proses pemisahan kandungan garam dan zat terlarut lainnya. Apabila diterapkan secara tepat, fasilitas tersebut berpotensi memperkuat ketahanan air Balikpapan ketika pasokan dari sumber konvensional terbatas. Namun, pemerintah tetap perlu memperhatikan dampak lingkungan, efisiensi energi, dan keberlanjutan pengelolaan limbah hasil pengolahan.

Di tengah kajian solusi jangka panjang itu, AHY menegaskan bahwa satuan tugas tangki air tetap harus berjalan. Layanan tersebut masih dibutuhkan oleh warga yang belum memiliki akses ke instalasi pengolahan air bersih. Distribusi menggunakan tangki menjadi langkah sementara untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi selama pemerintah menyiapkan kebijakan dan infrastruktur yang lebih permanen. Dengan demikian, penelitian desalinasi berlangsung bersamaan dengan penanganan langsung bagi kelompok warga yang paling terdampak krisis pasokan air bersih.

Balikpapan menghadapi tekanan serius pada ketersediaan air baku. Kota ini mengalami defisit pasokan air bersih yang dapat mencapai 1.000 liter per detik, terutama ketika kemarau panjang terjadi bersamaan dengan fenomena El Nino. Kondisi tersebut memperbesar risiko berkurangnya cadangan air permukaan yang selama ini menjadi salah satu sumber utama pemenuhan kebutuhan masyarakat.

Penurunan volume air terlihat di Waduk Manggar dan Waduk Teritip. Kedua waduk tersebut mengalami penyusutan tajam sehingga kemampuan sistem penyediaan air untuk mempertahankan produksi turut menurun. Apabila curah hujan tidak segera meningkat, kapasitas tampungan yang semakin terbatas dapat mengganggu distribusi air, baik untuk rumah tangga maupun kegiatan ekonomi. Situasi ini menunjukkan bahwa ketergantungan pada sumber air permukaan memiliki kerentanan tinggi terhadap perubahan cuaca.

Wilayah Teritip menjadi salah satu kawasan yang paling jelas merasakan kesenjangan ketersediaan dan kebutuhan. Saat ini, pasokan yang diterima baru sekitar 1.500 liter per detik, sedangkan kebutuhan idealnya mencapai 2.500 liter per detik. Dengan demikian, masih terdapat kekurangan sekitar 1.000 liter per detik yang perlu ditutup melalui penambahan sumber pasokan dan penguatan infrastruktur pengolahan serta distribusi.

Tekanan tersebut semakin besar karena jumlah penduduk Balikpapan terus meningkat. Migrasi besar-besaran terjadi setelah kota ini ditetapkan sebagai kota mitra penopang Ibu Kota Nusantara. Pertambahan penduduk mendorong kenaikan kebutuhan air untuk permukiman, fasilitas publik, dan aktivitas usaha. Tanpa sumber alternatif yang lebih tahan terhadap perubahan musim, defisit pasokan berpotensi berlanjut. Karena itu, kondisi Waduk Manggar dan Waduk Teritip menjadi latar penting bagi pemerintah untuk menyiapkan langkah strategis, termasuk diversifikasi sumber air melalui teknologi yang tidak sepenuhnya bergantung pada curah hujan.

AHY meninjau langsung proyek sumur bor di Kelurahan Teritip, Kecamatan Balikpapan Timur, pada Kamis. Kunjungan lapangan tersebut menjadi bagian dari agenda kerja untuk melihat perkembangan infrastruktur penyediaan air secara langsung, sekaligus mengidentifikasi kebutuhan masyarakat yang masih menghadapi keterbatasan akses air bersih. Dalam peninjauan itu, AHY didampingi Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud serta sejumlah pejabat utama Kementerian Pekerjaan Umum. Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut menunjukkan bahwa pemenuhan kebutuhan air baku Balikpapan memerlukan koordinasi lintas lembaga dan percepatan pelaksanaan program.

Proyek sumur bor di Teritip dipandang sebagai salah satu langkah untuk menambah sumber air bagi warga, terutama di wilayah yang belum sepenuhnya terlayani jaringan perpipaan. Di lokasi, rombongan meninjau kondisi sarana, mendengarkan penjelasan teknis, serta berdialog dengan masyarakat mengenai kebutuhan air sehari-hari. Dialog tersebut turut mengaitkan pembangunan infrastruktur dengan upaya mempercepat penyediaan air baku yang berkelanjutan. Pemerintah perlu memastikan bahwa setiap solusi yang dipilih memiliki kapasitas memadai, dapat dikelola dalam jangka panjang, dan menjangkau kawasan yang selama ini mengalami kendala pasokan.

Dalam dialog di lapangan, warga mengusulkan pembangunan pipanisasi air baku dari sumber air Sepaku Semoi. Usulan itu diharapkan dapat memperkuat pasokan melalui sistem distribusi yang terencana, sehingga kebutuhan rumah tangga dan kegiatan masyarakat tidak hanya bergantung pada sumur bor atau sumber air setempat. Selain pipanisasi, warga juga menyampaikan penerapan sistem desalinasi sebagai alternatif untuk memenuhi kebutuhan air bersih Balikpapan. Pilihan tersebut relevan untuk dikaji mengingat ketersediaan sumber air tawar menghadapi tekanan yang semakin besar. Kedua usulan itu memerlukan kajian teknis, pembiayaan, dan pengelolaan yang matang agar mampu menjadi solusi efektif bagi krisis air bersih.

AHY menilai teknologi desalinasi kini semakin matang dan berkembang pesat di berbagai negara. Kemajuan tersebut terlihat dari peningkatan efisiensi sistem, kualitas pengolahan, serta kemampuan teknologi dalam mengurangi dampak operasional. Meski demikian, penerapan teknologi ini di Balikpapan tidak dapat dilakukan hanya dengan mengacu pada keberhasilan wilayah lain. Setiap keputusan perlu mempertimbangkan kondisi sumber air, kebutuhan masyarakat, kesiapan infrastruktur, serta kemampuan pembiayaan daerah.

Desalinasi merupakan proses untuk menghilangkan kandungan garam dan mineral berlebih dari air laut atau air payau. Melalui proses pengolahan tertentu, air tersebut dapat diubah menjadi air tawar yang memenuhi standar dan dimanfaatkan untuk konsumsi maupun berbagai kebutuhan sehari-hari. Teknologi ini berpotensi menjadi salah satu alternatif ketika ketersediaan sumber air baku semakin terbatas, terutama di wilayah yang menghadapi pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi.

Namun, rencana pembangunan instalasi desalinasi di Balikpapan sebelumnya menghadapi tantangan biaya yang cukup besar. Kebutuhan investasi diperkirakan mencapai sekitar Rp50 miliar hingga Rp60 miliar. Selain modal awal, fasilitas tersebut juga memerlukan konsumsi energi listrik yang tinggi agar proses pemisahan garam dapat berlangsung secara berkelanjutan. Beban energi ini berpengaruh langsung terhadap biaya produksi air dan pada akhirnya menentukan harga yang harus dibayar oleh pengguna.

Karena itu, pemerintah berharap kajian investasi dapat menghasilkan skema pembiayaan dan tarif yang kompetitif. Harga layanan perlu tetap terjangkau bagi pemerintah daerah maupun dunia usaha, tanpa mengabaikan kebutuhan pemeliharaan dan keberlanjutan fasilitas. Perhitungan yang cermat juga diperlukan untuk menentukan model kerja sama, sumber energi, kapasitas produksi, serta kelompok pengguna yang paling sesuai. Dengan kajian menyeluruh, desalinasi dapat diterapkan secara realistis dan tidak menimbulkan beban keuangan baru dalam jangka panjang.