PDAM Toya Wening Siapkan Sumur Bor Hadapi Risiko Susutnya Pasokan Air

PDAM Toya Wening Siapkan Sumur Bor Hadapi Risiko Susutnya Pasokan Air

KABUPATEN SURAKARTA, JAWA TENGAH — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, PDAM Toya Wening menyiapkan langkah antisipasi untuk menghadapi risiko menyusutnya pasokan air baku selama musim kemarau panjang. Salah satu langkah yang disiapkan ialah reaktivasi sumur-sumur dalam atau sumur bor. Upaya tersebut dilakukan sebagai respons terhadap pemantauan kondisi sumber air yang menunjukkan adanya penurunan muka air Waduk Gajah Mungkur. Dengan mengaktifkan kembali sumur bor, PDAM Toya Wening berupaya menjaga ketersediaan pasokan air ketika sumber utama mengalami penyusutan.

Berdasarkan hasil pemantauan, tinggi muka air Waduk Gajah Mungkur turun sekitar 7 sentimeter setiap hari. Pada Rabu (7/10), ketinggian muka air waduk tercatat berada di level 129 meter. Penurunan yang berlangsung secara berkelanjutan itu menjadi perhatian karena berpengaruh terhadap kinerja sistem penyediaan air minum regional. Kondisi tersebut mendorong PDAM Toya Wening menyiapkan sumber pasokan alternatif agar kebutuhan operasional tetap dapat diantisipasi selama pasokan air baku mengalami penurunan.

Manajer Air Limbah PDAM Toya Wening, Bayu Tunggul, menyebut penurunan muka air Waduk Gajah Mungkur berpengaruh terhadap kinerja SPAM Regional Wosusokas. Karena itu, rencana reaktivasi sumur-sumur dalam atau sumur bor menjadi bagian dari langkah mitigasi yang disiapkan perusahaan. Langkah tersebut dikaitkan dengan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebut hujan baru berpotensi turun pada Januari. Sampai potensi hujan tersebut tiba, PDAM Toya Wening menyiapkan sumur bor sebagai upaya menghadapi kemungkinan berkurangnya pasokan air baku akibat penurunan muka waduk.

PDAM Toya Wening menyiapkan langkah operasional untuk mengaktifkan kembali sejumlah sumur bor di wilayah Surakarta bagian utara. Sumur-sumur tersebut sebelumnya ditutup, tetapi akan dimobilisasi mulai Oktober sebagai sumber penyangga apabila pasokan utama mengalami gangguan. Persiapan ini dilakukan untuk menjaga kesinambungan layanan air bersih kepada warga, terutama ketika kondisi sumber air mengalami tekanan akibat menyusutnya muka air waduk.

Pasokan utama kawasan tersebut berasal dari SPAM Regional Wosusokas yang dikelola PT Tirta Utama Jawa Tengah. Instalasi pengolahan itu memiliki kapasitas produksi sekitar 750 liter per detik dan berperan penting dalam memenuhi kebutuhan air masyarakat. Namun, kapasitas tersebut tetap bergantung pada ketersediaan air baku. Penurunan muka air waduk berpotensi memengaruhi proses pengolahan maupun kelancaran distribusi, sehingga diperlukan rencana cadangan yang dapat segera dijalankan.

Wilayah yang mengandalkan layanan SPAM Regional Wosusokas mencakup sejumlah kawasan di Surakarta bagian utara, lain Kelurahan Jebres, Mojosongo, Kadipiro, Joglo, hingga Banjarsari. Apabila terjadi gangguan pada Instalasi Pengolahan Wosusokas, sumur bor yang diaktifkan kembali diharapkan membantu mempertahankan tekanan dan kontinuitas distribusi, khususnya pada wilayah yang terdampak.

Pengoperasian sumur bor tersebut diposisikan sebagai strategi mitigasi dan bukan pengganti permanen sumber air utama. PDAM perlu menyesuaikan penggunaannya dengan kondisi teknis, kualitas air, serta kebutuhan distribusi di lapangan. Dengan demikian, keberadaan sumur bor menjadi lapisan perlindungan tambahan untuk menghadapi risiko penurunan pasokan, sementara SPAM Regional Wosusokas tetap menjadi tumpuan utama pelayanan air bersih bagi warga.

Pasokan air minum yang bersumber dari Mata Air Cokro Tulung dan tiga Instalasi Pengolahan Air (IPA) yang memanfaatkan Sungai Bengawan Solo masih berada dalam kondisi relatif aman dan stabil. Ketersediaan air baku pada sumber-sumber tersebut belum menunjukkan gangguan yang berarti, sehingga kegiatan pengolahan dan distribusi kepada pelanggan dapat berlangsung secara normal. Kondisi ini menjadi salah satu penyangga penting bagi pelayanan air minum di tengah meningkatnya perhatian terhadap perubahan pasokan pada sejumlah sumber lainnya.

Stabilnya aliran Bengawan Solo turut didukung oleh penggelontoran air baku dari Waduk Gajah Mungkur. Air sebesar 2 meter kubik per detik tetap dibuka secara konsisten untuk menjaga keberlangsungan aliran sungai. Pengaturan tersebut membantu mempertahankan debit air di sepanjang wilayah yang menjadi lokasi pengambilan bahan baku bagi instalasi pengolahan. Dengan debit yang lebih terjaga, proses produksi air minum pada tiga IPA tersebut dapat dilakukan secara lebih terukur dan berkesinambungan.

Mata Air Cokro Tulung juga masih memberikan pasokan yang relatif stabil. Karakteristik sumber mata air memungkinkan ketersediaannya tetap mendukung kebutuhan operasional, meskipun pengelola tetap perlu melakukan pemantauan secara berkala. Pemantauan mencakup debit, kualitas air, serta kondisi jaringan pengambilan dan pengolahan agar potensi perubahan dapat diketahui sejak dini.

Kondisi ini perlu dibedakan dari risiko operasional Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Wosusokas yang dipengaruhi oleh penurunan muka air waduk. Risiko pada SPAM tersebut tidak berarti seluruh jaringan pasokan PDAM Toya Wening mengalami persoalan serupa. Setiap sumber air memiliki karakteristik, mekanisme pengelolaan, dan tingkat kerentanan yang berbeda. Oleh karena itu, sumber dari Cokro Tulung dan Bengawan Solo tetap dapat dikategorikan stabil, sementara langkah antisipasi seperti penyiapan sumur bor diarahkan untuk menghadapi kemungkinan susutnya pasokan pada wilayah atau sistem yang lebih rentan.

Di tengah persiapan PDAM Toya Wening menghadapi kemungkinan berkurangnya pasokan air, penerima manfaat program Master Meter dipastikan tetap memperoleh layanan air bersih. Bayu Tunggul menjelaskan bahwa pasokan untuk program tersebut tidak terdampak oleh dinamika distribusi dari Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Wosusokas. Kepastian ini diberikan karena jaringan Master Meter menggunakan sumber air dan jaringan pengaliran yang berbeda dari sistem SPAM Wosusokas.

Master Meter merupakan program kerja sama Coca-Cola Foundation Indonesia bersama PDAM Toya Wening. Program ini menyediakan bantuan pengaliran jaringan air minum berbasis pompanisasi bagi 50 keluarga prasejahtera di Margorejo, Kelurahan Gilingan, Kota Surakarta. Melalui skema tersebut, keluarga penerima manfaat mendapatkan akses jaringan air minum yang disalurkan dengan dukungan pompa, sehingga pelayanan program tetap berjalan sesuai peruntukannya.

Perbedaan jaringan sumber air menjadi faktor penting dalam memastikan keberlangsungan pasokan bagi para penerima manfaat Master Meter. Dengan demikian, perubahan kondisi pasokan pada SPAM Wosusokas tidak secara langsung memengaruhi pengaliran air ke wilayah program. Bayu menegaskan bahwa PDAM Toya Wening akan terus memantau kondisi lapangan serta menjaga keandalan distribusi air minum bagi seluruh masyarakat. Komitmen tersebut tetap dijalankan di tengah kondisi cuaca yang belum pasti, dengan perhatian pada kesinambungan pelayanan dan kebutuhan pelanggan di berbagai wilayah Kota Surakarta.