JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 5 Oktober 2026, TikTok bersama Agile Advertising menggelar seminar bertajuk “TikTok × Agile Advertising: It’s a Match” di Jakarta belum lama ini. Kegiatan tersebut menjadi ruang pembahasan mengenai cara pengusaha mengoptimalkan strategi penjualan melalui pemanfaatan pemasaran digital, terutama ketika persaingan untuk merebut perhatian konsumen semakin meningkat menjelang periode belanja akhir tahun.
Seminar ini menempatkan perubahan perilaku konsumen dan perkembangan ekosistem perdagangan digital sebagai konteks utama. Bagi pelaku usaha, akhir tahun biasanya menghadirkan peluang besar karena masyarakat lebih aktif mencari produk, membandingkan penawaran, serta memanfaatkan berbagai program promosi. Namun, peluang tersebut juga diikuti tantangan untuk menyusun pesan yang relevan, memilih saluran komunikasi yang tepat, dan memastikan strategi penjualan dapat menjangkau calon pembeli pada waktu yang sesuai.
Melalui kolaborasi TikTok dan Agile Advertising, pengusaha didorong untuk melihat pemasaran digital secara lebih terarah. Platform digital tidak hanya digunakan untuk memperkenalkan produk, tetapi juga untuk membangun interaksi, memahami minat audiens, dan mengarahkan perhatian menjadi pertimbangan pembelian. Pendekatan semacam ini penting karena konsumen kini dapat menemukan inspirasi, mengevaluasi produk, dan mengambil keputusan belanja dalam rangkaian aktivitas yang berlangsung cepat.
Pembahasan dalam seminar tersebut menjadi relevan bagi bisnis yang sedang menyiapkan kampanye akhir tahun. Strategi yang efektif perlu menggabungkan kreativitas konten dengan pemahaman terhadap kebutuhan pasar, sehingga komunikasi promosi tidak berhenti pada penyampaian diskon. Pengusaha juga perlu mempertimbangkan bagaimana merek tampil secara konsisten, menciptakan alasan bagi konsumen untuk berinteraksi, dan menyediakan pengalaman belanja yang mudah dari tahap penemuan hingga transaksi.
Dengan demikian, seminar “TikTok × Agile Advertising: It’s a Match” membuka pembahasan tentang pentingnya kesiapan strategi sebelum puncak belanja berlangsung. Kolaborasi tersebut memperlihatkan bahwa optimalisasi penjualan membutuhkan perpaduan pemanfaatan teknologi, pemahaman audiens, serta perencanaan komunikasi yang mampu mengikuti dinamika perilaku konsumen.
Menurut Managing Director Agile Advertising, Ryan Sidharta, tantangan utama pemasaran digital saat ini telah bergeser. Persoalannya bukan lagi semata-mata memperluas jangkauan atau mengejar reach sebesar-besarnya, melainkan memastikan bahwa audiens yang dijangkau benar-benar sesuai dengan sasaran bisnis. Di tengah persaingan perdagangan digital yang semakin padat, angka impresi, jumlah pengikut, dan volume kunjungan memang dapat menunjukkan tingginya aktivitas kampanye. Namun, indikator tersebut belum cukup untuk membuktikan bahwa strategi pemasaran mampu mendorong transaksi dan pendapatan.
Ryan menekankan bahwa banyaknya audiens atau traffic tidak otomatis menghasilkan kinerja keuangan yang lebih baik. Penjual dapat memperoleh kunjungan dalam jumlah besar, tetapi jika sebagian besar pengunjung tidak memiliki minat, kebutuhan, daya beli, atau kecenderungan untuk membeli produk yang ditawarkan, traffic tersebut hanya menjadi angka tanpa kontribusi berarti terhadap penjualan. Karena itu, efektivitas promosi perlu dilihat dari kesesuaian pesan, produk, dan karakter calon pembeli. Penargetan yang lebih tepat memungkinkan anggaran iklan digunakan untuk menjangkau konsumen yang memiliki peluang konversi lebih tinggi, bukan sekadar memperbesar jumlah orang yang melihat konten.
Situasi yang perlu menjadi perhatian adalah ketika volume pesanan meningkat, tetapi total pendapatan tetap stagnan. Kondisi ini dapat terjadi apabila penjualan lebih banyak berasal dari produk berharga rendah, promosi yang terlalu agresif menekan margin, atau pelanggan yang diperoleh tidak sesuai dengan sasaran toko. Peningkatan jumlah transaksi dengan hasil pendapatan yang tidak bergerak menunjukkan bahwa pertumbuhan operasional belum tentu sejalan dengan pertumbuhan bisnis. Bagi penjual, keadaan tersebut merupakan sinyal untuk mengevaluasi kembali strategi toko secara menyeluruh, mulai dari segmentasi audiens, pemilihan produk yang dipromosikan, penawaran harga, hingga kualitas konversi. Evaluasi berbasis data membantu penjual memahami apakah kampanye benar-benar mendatangkan pembeli yang bernilai dan mendukung tujuan pendapatan, terutama selama periode belanja akhir tahun yang kompetitif.
Ryan mengarahkan penjual untuk segera memperbaiki basket size dan struktur konversi toko ketika jumlah pesanan meningkat, tetapi pendapatan belum menunjukkan pertumbuhan yang sepadan. Situasi ini kerap terlihat positif pada permukaan karena volume transaksi bertambah. Namun, kenaikan order tidak otomatis menghasilkan keuntungan yang memadai apabila nilai rata-rata belanja setiap pembeli masih rendah atau komposisi produk yang terjual memiliki margin tipis.
Perbaikan ukuran keranjang belanja perlu dilakukan dengan mendorong pembelian beberapa produk dalam satu transaksi. Penjual dapat menyusun paket, menawarkan promosi bertingkat, merekomendasikan produk pelengkap, atau menetapkan batas minimum belanja yang relevan dengan kebutuhan pelanggan. Strategi tersebut harus tetap memperhitungkan biaya diskon, komisi platform, logistik, dan biaya akuisisi agar pertumbuhan nilai transaksi benar-benar berkontribusi terhadap margin keuntungan yang lebih sehat.
Fenomena pesanan bertambah tanpa peningkatan pendapatan juga dapat menunjukkan adanya masalah pada struktur konversi toko. Sebagian seller lebih berfokus mengejar tambahan traffic melalui iklan, kolaborasi, atau promosi, tetapi belum membenahi halaman produk, kualitas materi kreatif, kejelasan manfaat, harga, ulasan, serta kecepatan respons. Traffic yang besar tidak akan optimal apabila pengunjung tidak beralih menjadi pembeli, atau pembeli hanya melakukan transaksi bernilai rendah.
Karena itu, pemilik brand perlu mengelola pemasaran berdasarkan data analytics, bukan semata-mata berdasarkan jumlah kunjungan atau pesanan. Analisis terhadap rasio konversi, nilai pesanan rata-rata, frekuensi pembelian ulang, biaya akuisisi, dan margin per produk dapat membantu menentukan prioritas perbaikan. Pemahaman mengenai benchmark industri juga penting untuk menilai apakah kinerja toko berada pada tingkat yang wajar. Dengan membandingkan metrik secara berkala, seller dapat mengoptimalkan penawaran, anggaran promosi, dan pengalaman belanja secara lebih terukur.
Agile Advertising merupakan agensi yang berfokus pada performance dan conversion dalam pengelolaan pemasaran digital. Posisi ini menempatkan pencapaian kinerja kampanye dan konversi sebagai bagian penting dari layanan yang ditawarkan kepada berbagai brand. Dengan pendekatan tersebut, Agile Advertising hadir sebagai mitra bagi bisnis yang membutuhkan pengelolaan aktivitas digital secara terarah, terutama ketika tujuan pemasaran perlu dikaitkan dengan hasil yang dapat diukur.
Agensi ini berdiri pada 2023 dan beroperasi secara mandiri. Sejak awal kehadirannya, Agile Advertising telah menangani lebih dari 25 jenis industri. Cakupan lintas industri tersebut menunjukkan pengalaman dalam mendampingi kebutuhan pemasaran digital yang beragam, baik dari sisi karakter audiens, kategori produk, maupun sasaran bisnis. Keragaman tersebut menjadi bagian dari profil agensi dalam mendukung brand pada lingkungan digital yang terus berkembang.
Dalam aktivitasnya, Agile Advertising mengelola pemasaran digital untuk lebih dari 100 brand setiap bulan. Jumlah tersebut mencerminkan kapasitas pengelolaan yang berkelanjutan serta fokus pada kebutuhan pemasaran berbagai brand secara konsisten. Layanan yang dijalankan tetap ditempatkan dalam kerangka performance dan conversion, sehingga pengelolaan digital memiliki keterkaitan dengan target bisnis dan efektivitas komunikasi pemasaran.
Pengelolaan tersebut disebut didukung oleh metodologi kerja yang terstruktur. Metodologi Agile Advertising terdiri atas tiga tahap, yaitu attempt, analyze, dan amplify. Ketiga tahap ini menjadi bagian dari kerangka kerja yang digunakan dalam mendukung aktivitas pemasaran digital untuk klien. Penyebutan metodologi tersebut memperlihatkan bahwa proses kerja agensi disusun secara sistematis, tanpa mengesampingkan kebutuhan setiap brand dan industri yang ditangani.

