JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 4 Oktober 2026, Pecatur muda asal DKI Jakarta, Laysa Latifah, berhasil meraih gelar Woman Grandmaster (WGM) dalam Olimpiade Catur 2026 yang berlangsung di Uzbekistan. Pencapaian tersebut menjadi kabar penting bagi dunia catur Indonesia karena menandai bertambahnya atlet putri nasional yang mampu mencapai salah satu gelar bergengsi dalam olahraga ini.
Gelar WGM menempatkan Laysa sebagai salah satu pecatur putri Indonesia yang patut mendapat perhatian lebih besar. Keberhasilannya juga memperlihatkan bahwa pembinaan atlet catur di tingkat daerah memiliki peran penting dalam membangun prestasi nasional. Bagi DKI Jakarta, pencapaian itu menjadi dorongan untuk terus mengembangkan talenta muda dan menciptakan lingkungan latihan yang mendukung perkembangan atlet secara berkelanjutan.
Prestasi Laysa di Olimpiade Catur 2026 turut menjadi kebanggaan bagi Percasi DKI Jakarta. Organisasi tersebut menyiapkan bonus pembinaan sebagai bentuk apresiasi sekaligus dukungan terhadap perjalanan karier sang pecatur. Pemberian bonus pembinaan tidak hanya dimaksudkan sebagai penghargaan atas hasil yang telah diraih, tetapi juga sebagai investasi untuk menjaga kesinambungan prestasi Laysa pada masa mendatang.
Keberhasilan ini memiliki arti lebih luas bagi pembinaan catur di ibu kota. Capaian seorang atlet dapat menjadi inspirasi bagi pecatur muda lain untuk menekuni olahraga tersebut dengan lebih serius. Di saat yang sama, prestasi Laysa menunjukkan pentingnya dukungan dari organisasi, pemerintah daerah, pelatih, keluarga, dan berbagai pihak yang terlibat dalam pengembangan atlet.
Dengan diraihnya gelar WGM, Laysa Latifah kini menjadi bagian dari catatan penting perjalanan catur Indonesia. Prestasi itu diharapkan dapat memperkuat perhatian terhadap pembinaan pecatur putri, khususnya di DKI Jakarta, sekaligus mendorong lahirnya lebih banyak atlet muda yang mampu mengharumkan nama Indonesia pada ajang internasional.
Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) DKI Jakarta memberikan apresiasi khusus kepada Laysa Latifah setelah pecatur muda tersebut meraih gelar Woman Grandmaster (WGM). Bentuk penghargaan yang disiapkan ialah bonus pembinaan senilai Rp50 juta. Bantuan tersebut diharapkan dapat mendukung keberlanjutan karier Laysa, terutama dalam menjalani program latihan, mengikuti turnamen, serta meningkatkan persiapan menghadapi persaingan catur di tingkat nasional dan internasional.
Bonus pembinaan itu diserahkan langsung oleh Ketua Percasi DKI Jakarta, Hardiyanto Kenneth, dalam pembukaan Kejuaraan Daerah (Kejurda) Piala Gubernur DKI Jakarta 2026. Acara tersebut berlangsung di The Tavia Heritage Hotel, Jakarta, pada Sabtu, 3 Oktober 2026. Penyerahan penghargaan di tengah agenda resmi kejuaraan menjadi bentuk pengakuan atas pencapaian Laysa sekaligus menunjukkan perhatian organisasi terhadap pembinaan atlet berprestasi.
Laysa turut hadir dalam rangkaian kegiatan yang berlangsung hingga Minggu, 4 Oktober 2026. Kehadirannya tidak hanya dimaksudkan untuk menerima apresiasi, tetapi juga sengaja ditampilkan sebagai contoh bagi para peserta Kejurda dan pecatur muda yang mengikuti kompetisi tersebut. Pencapaian gelar WGM diharapkan dapat memberikan gambaran bahwa proses pembinaan yang konsisten, disiplin latihan, dan keberanian mengikuti pertandingan dapat membuka peluang menuju prestasi yang lebih tinggi.
Percasi DKI Jakarta menempatkan bonus tersebut sebagai dukungan pembinaan, bukan sekadar penghargaan seremonial. Dengan dukungan finansial dan pembinaan yang berkelanjutan, Laysa diharapkan mampu mempertahankan performanya serta terus mengembangkan kemampuan menghadapi lawan-lawan tangguh. Pada saat yang sama, kisah keberhasilannya dapat memotivasi peserta Kejurda untuk menekuni catur secara lebih serius. Langkah ini juga memperlihatkan upaya Percasi DKI Jakarta dalam menghubungkan prestasi atlet senior dan pembinaan generasi penerus melalui kegiatan kompetitif yang terarah.
Hardiyanto Kenneth menghadirkan Laysa Latifah dalam pembukaan kejuaraan daerah (kejurda) catur sebagai bentuk apresiasi sekaligus upaya membangun inspirasi bagi pecatur muda. Kehadiran atlet yang telah meraih gelar Woman Grandmaster (WGM) itu diharapkan dapat memotivasi para peserta untuk menetapkan target lebih tinggi, termasuk mengejar gelar Grandmaster. Menurut Kenneth, pengalaman dan pencapaian Laysa dapat menjadi contoh bahwa kerja keras, kedisiplinan, serta pembinaan yang berkelanjutan mampu mengantarkan atlet muda menuju prestasi internasional.
Kenneth menyampaikan kebahagiaannya atas keberhasilan atlet DKI Jakarta meraih gelar WGM. Sebagai bentuk penghargaan dan dukungan terhadap perkembangan karier Laysa, Percasi DKI Jakarta menyiapkan bonus pembinaan senilai Rp50 juta. Bantuan tersebut diharapkan dapat mendukung kebutuhan latihan, persiapan kompetisi, serta berbagai proses pembinaan yang diperlukan untuk mempertahankan dan meningkatkan performa atlet.
Ia berharap penghargaan itu tidak berhenti sebagai apresiasi terhadap satu pencapaian, tetapi juga mendorong atlet lain untuk meningkatkan kemampuan. Para pecatur DKI Jakarta diharapkan mampu berprestasi pada level nasional dan internasional, sekaligus memperkuat posisi Jakarta sebagai salah satu pusat pembinaan catur di Indonesia. Semangat berkompetisi dan kesediaan untuk terus belajar dinilai penting agar semakin banyak pecatur daerah yang mampu mencapai gelar bergengsi.
Sebelumnya, Kenneth pernah menyampaikan target kepada Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung saat pelantikan pengurus Percasi DKI Jakarta. Target tersebut adalah melahirkan empat pecatur bergelar Grandmaster dari Jakarta. Ia menilai satu bagian dari target itu telah tercapai melalui keberhasilan Laysa menyandang gelar WGM, sementara pecatur lain diharapkan segera menyusul dengan pencapaian yang lebih tinggi.
Kenneth, yang merupakan anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PDI Perjuangan, menegaskan pentingnya kesinambungan pembinaan untuk mewujudkan target tersebut. Dukungan organisasi, pemerintah, pelatih, dan keluarga menjadi bagian penting dalam menciptakan ekosistem yang memungkinkan pecatur muda berkembang secara konsisten.
Selain menjadi perhatian karena capaian Laysa Latifah, pembinaan catur di DKI Jakarta juga diarahkan pada penguatan kompetisi daerah. Salah satu agenda penting yang disiapkan adalah Kejuaraan Daerah (Kejurda) Piala Gubernur DKI Jakarta 2026. Turnamen ini diikuti 420 pecatur dari berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga dewasa.
Jumlah peserta tersebut menunjukkan luasnya minat terhadap olahraga catur sekaligus memberikan ruang bagi atlet dengan latar belakang dan jenjang pengalaman yang beragam. Kejurda tidak hanya berfungsi sebagai arena unjuk kemampuan. Ajang ini juga menjadi kesempatan bagi para pecatur untuk menguji konsistensi permainan, memperoleh pengalaman bertanding, serta memperlihatkan perkembangan kemampuan di tingkat daerah.
Kompetisi tersebut turut menyediakan total hadiah senilai Rp100 juta. Kehadiran hadiah menjadi salah satu unsur yang dapat menambah daya tarik turnamen, tetapi nilai utama Kejurda tetap terletak pada perannya dalam mendukung pembinaan atlet secara berkelanjutan. Melalui kompetisi yang melibatkan banyak kelompok usia, proses pengembangan pecatur dapat berlangsung dalam suasana pertandingan yang lebih kompetitif.
Di sisi lain, Kejurda Piala Gubernur DKI Jakarta 2026 diposisikan sebagai bagian dari persiapan dan seleksi atlet yang akan mewakili DKI Jakarta pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Catur ke-51 tahun 2026. Kejurnas tersebut dijadwalkan berlangsung di Banten pada 23–29 Oktober 2026.
Dengan demikian, turnamen daerah ini memiliki arti strategis bagi kesinambungan prestasi catur ibu kota. Para peserta tidak hanya berkompetisi untuk meraih hasil terbaik di tingkat daerah, tetapi juga berupaya membuka peluang untuk tampil membawa nama DKI Jakarta pada panggung nasional. Perpaduan partisipasi luas, hadiah, dan fungsi persiapan Kejurnas menjadikan Kejurda sebagai salah satu agenda penting dalam kalender pembinaan catur DKI Jakarta pada 2026.







