KENDARI, SULAWESI TENGGARA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 4 Oktober 2026, Lima personel Detasemen Gegana Satuan Brigade Mobil Kepolisian Daerah Sulawesi Tenggara terpilih untuk bergabung dalam peleton khusus misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Republik Afrika Tengah. Penugasan tersebut menjadi bagian dari kontribusi Polri dalam menjaga stabilitas dan mendukung upaya perdamaian internasional di wilayah yang masih menghadapi tantangan keamanan. Kelima personel itu dinilai memiliki kemampuan, kesiapan, serta pengalaman yang sesuai dengan kebutuhan operasi.
Adapun personel yang terpilih berasal dari sejumlah wilayah di Sulawesi Tenggara. Mereka adalah Bripka Ahmad Akbar dari Kabupaten Konawe, Briptu Reski Awal dari Kabupaten Kolaka Timur, Bripda Ahdiyat Muru dari Kabupaten Konawe Selatan, Briptu Suhuf Habib dari Kabupaten Bombana, serta Bharaka Fajar Andrias dari Kabupaten Muna. Kelimanya akan ditempatkan dalam satu peleton khusus yang menjalankan tugas sesuai mandat misi PBB di Republik Afrika Tengah.
Komandan Detasemen Gegana Satbrimob Polda Sultra, Kompol Asri Dyini, mengatakan bahwa keberhasilan tersebut merupakan hasil dari proses panjang dan kompetitif. Kelima anggota telah melewati rangkaian seleksi secara bertahap, mulai dari tingkat Polda Sulawesi Tenggara hingga seleksi di Markas Besar Polri. Tahapan itu mencakup penilaian kemampuan, kesehatan, kesamaptaan jasmani, psikologi, serta aspek lain yang menjadi persyaratan penugasan luar negeri. Menurutnya, kelulusan kelima personel menunjukkan bahwa anggota Gegana Sultra mampu memenuhi standar yang ditetapkan untuk misi perdamaian. Mereka kini bersiap menjalani pembekalan dan persiapan lanjutan sebelum diberangkatkan ke Afrika Tengah. Penugasan ini juga diharapkan membawa nama baik institusi, daerah, dan Indonesia dalam menjalankan tanggung jawab kemanusiaan serta menjaga perdamaian dunia.
Para personel Gegana Sulawesi Tenggara harus melalui rangkaian seleksi secara bertahap sebelum dinyatakan terpilih untuk menjalankan misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa di Afrika Tengah. Proses tersebut diawali dengan pendaftaran, kemudian dilanjutkan verifikasi administrasi terhadap peserta. Tahap awal ini menjadi bagian penting untuk memastikan seluruh data dan dokumen yang disampaikan dapat diperiksa dalam mekanisme seleksi yang telah ditetapkan.
Setelah melewati pendaftaran dan verifikasi administrasi, peserta mengikuti tes kemampuan bahasa Inggris. Pengujian ini menjadi salah satu tahapan yang harus dilalui dalam rangkaian seleksi. Kemampuan bahasa Inggris peserta dinilai melalui proses yang berlangsung di Polda Sultra, bersama dengan ujian psikologi berbasis computer assisted test (CAT).
Ujian psikologi berbasis CAT memberikan bentuk pelaksanaan seleksi yang menggunakan perangkat komputer. Dengan demikian, para peserta tidak hanya menjalani pemeriksaan administrasi dan tes kemampuan bahasa, tetapi juga mengikuti evaluasi psikologi dalam tahap berikutnya. Kedua pengujian tersebut berlangsung di Polda Sultra sebelum peserta melanjutkan proses ke tahapan seleksi akhir.
Tahap akhir diselenggarakan di Jakarta. Pada tahapan ini, para peserta bergabung dalam proses seleksi bersama perwakilan dari berbagai kepolisian daerah dan satuan kerja lain di Indonesia. Keterlibatan peserta dari berbagai polda serta satuan kerja menunjukkan bahwa seleksi tersebut berlangsung dalam lingkup yang lebih luas, bukan hanya di tingkat daerah.
Rangkaian dari pendaftaran, verifikasi administrasi, tes kemampuan bahasa Inggris, ujian psikologi berbasis CAT, hingga seleksi akhir di Jakarta memperlihatkan bahwa proses penentuan personel dilakukan melalui beberapa tahap. Alur tersebut juga menunjukkan suasana seleksi yang kompetitif, karena peserta dari Polda Sultra mengikuti tahapan yang sama bersama perwakilan dari berbagai daerah dan satuan kerja di Indonesia.
Sebanyak lima personel Gegana Kepolisian Daerah Sulawesi Tenggara telah menyelesaikan latihan praoperasi sebagai salah satu tahapan persiapan sebelum menjalankan misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa di Afrika Tengah. Latihan tersebut menjadi bagian dari proses yang harus dilalui para personel sebelum diberangkatkan untuk melaksanakan tugas di wilayah misi. Penyelesaian tahapan ini disampaikan sebagai dasar bahwa kelima personel telah mengikuti rangkaian persiapan yang ditetapkan.
Asri menjelaskan bahwa latihan praoperasi berlangsung secara ketat. Dalam tahapan tersebut, para peserta tidak hanya mengikuti pembekalan dan latihan, tetapi juga bersaing dengan perwakilan dari kepolisian daerah lain. Persaingan itu menjadi bagian dari proses seleksi dan persiapan yang harus dijalani oleh setiap peserta sebelum dinyatakan dapat mengikuti penugasan. Kelima personel Gegana Sultra mengikuti seluruh proses tersebut bersama peserta dari berbagai polda.
Berdasarkan keterangan Asri, lima personel Gegana Sultra dinyatakan mampu melewati latihan praoperasi. Dengan selesainya tahapan tersebut, mereka disebut telah siap untuk berangkat menjalankan misi perdamaian PBB di Afrika Tengah. Pernyataan itu menunjukkan bahwa kesiapan keberangkatan kelima personel didasarkan pada hasil latihan praoperasi yang telah mereka ikuti dan selesaikan. Tahap persiapan ini menjadi salah satu proses penting sebelum pelaksanaan tugas di lokasi misi.
Lima personel Satuan Brimob Polda Sulawesi Tenggara akan menjalankan penugasan selama satu tahun di Republik Afrika Tengah. Penugasan tersebut merupakan bagian dari keterlibatan Indonesia dalam misi pemeliharaan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Selama berada di wilayah misi, kelima personel akan bergabung dalam peleton khusus Special Weapons and Tactics (SWAT) di bawah kontingen Formed Police Unit (FPU) untuk misi United Nations Multidimensional Integrated Stabilization Mission in the Central African Republic (MINUSCA).
Penempatan di Republik Afrika Tengah menuntut kesiapan fisik, mental, dan profesional yang tinggi. Para personel tidak hanya membawa tanggung jawab sebagai anggota Polri, tetapi juga menjalankan mandat internasional untuk mendukung keamanan dan stabilitas masyarakat di wilayah konflik. Mereka akan bekerja bersama personel dari berbagai negara, mengikuti prosedur operasi PBB, serta menjaga disiplin dan koordinasi dalam setiap pelaksanaan tugas.
Unit SWAT PBB merupakan tim taktis khusus yang disiapkan untuk menangani situasi berisiko tinggi dalam misi pemeliharaan perdamaian internasional. Tugasnya dapat mencakup respons terhadap ancaman bersenjata, pengamanan personel dan fasilitas penting, penanganan gangguan keamanan, serta dukungan terhadap operasi perlindungan masyarakat. Karena itu, kemampuan teknis, penguasaan taktik, ketepatan pengambilan keputusan, dan kepatuhan terhadap aturan pelibatan menjadi aspek penting dalam penugasan tersebut.
Kelima personel telah memperoleh izin dari Dansat Brimob Polda Sultra dan kini menjalani persiapan akhir sebelum diberangkatkan. Mereka dijadwalkan berangkat menuju wilayah misi pada 10 Oktober 2026. Asri menyampaikan bahwa keberangkatan itu menjadi kebanggaan bagi Satbrimob Polda Sultra, karena para personel membawa nama daerah sekaligus nama Indonesia dalam misi perdamaian PBB. Penugasan ini diharapkan memperkuat kontribusi Indonesia dalam menjaga perdamaian dunia serta menjadi pengalaman berharga bagi para personel yang terlibat.







