JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 4 Oktober 2026, Harga emas global dan logam mulia domestik berpeluang memasuki tren bullish sepanjang Oktober 2026. Prospek tersebut didukung oleh kemampuan harga bertahan di area penopang teknikal setelah mengalami penurunan terbaru. Jika tekanan jual mereda dan minat terhadap aset lindung nilai kembali meningkat, emas dapat membangun momentum pemulihan secara bertahap. Pergerakan harga Antam juga berpotensi mengikuti arah pasar global, meskipun nilai tukar rupiah serta kondisi likuiditas domestik tetap menjadi faktor penting.
Peluang penguatan itu tidak berarti harga akan bergerak lurus tanpa hambatan. Dinamika pasar keuangan global, termasuk perubahan ekspektasi suku bunga, pergerakan dolar AS, dan arus dana investor, dapat memicu koreksi jangka pendek. Karena itu, pelaku pasar perlu membedakan penurunan sementara dan perubahan tren yang lebih mendasar. Area technical support menjadi perhatian utama karena kegagalan mempertahankan level tersebut dapat memperpanjang tekanan, sementara pertahanan yang konsisten dapat membuka ruang bagi pemulihan teknis.
Carley Garner, co-founder Decarley Trading, menilai penurunan harga terbaru dan ketahanan emas di area technical support dapat menjadi dasar bagi pemulihan. Ia tidak memperkirakan emas mencapai US$5.000 atau US$5.500, tetapi menyebut tiga atau empat ratus poin pergerakan berikutnya kemungkinan lebih mengarah ke atas. Pandangan tersebut menunjukkan adanya ruang kenaikan, namun bukan jaminan bahwa target ekstrem akan segera tercapai.
Catatan musiman turut memberikan sentimen pendukung. Berdasarkan data 15 tahun terakhir, strategi membeli emas sekitar 29 September dan menahannya hingga 25 Oktober membukukan keuntungan akumulatif dalam 12 kesempatan. Pola ini tidak menjamin hasil serupa pada Oktober 2026, tetapi dapat menjadi salah satu referensi dalam membaca kecenderungan pasar. Investor tetap perlu mempertimbangkan toleransi risiko, level masuk, serta kemungkinan koreksi sebelum mengambil keputusan.
Pergerakan harga emas masih menghadapi tekanan dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury. Ketika imbal hasil aset tersebut meningkat, daya tarik emas yang tidak menghasilkan kupon cenderung berkurang. Pada saat yang sama, penguatan dolar AS dapat membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga membatasi ruang kenaikan dalam jangka pendek. Kombinasi kedua faktor ini menjadi perhatian utama dalam membaca prospek pasar global sepanjang pekan berikutnya.
Meski berada di bawah tekanan, kontrak berjangka emas untuk pengiriman Desember disebut masih mempertahankan garis tren harian utama. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa struktur pergerakan harga belum sepenuhnya berubah menjadi negatif. Dalam skenario pelemahan, support global diproyeksikan berada di sekitar US$4.000 per troy ounce. Apabila tekanan mereda dan minat beli kembali meningkat, target taktis kenaikan berada di kisaran US$4.500 per troy ounce.
Ruang penguatan yang lebih optimal diperkirakan menghadapi batas pada rata-rata pergerakan 200 hari, yakni sekitar US$4.650 per troy ounce. Level ini penting karena kerap digunakan untuk menilai arah tren menengah hingga panjang. Reaksi harga di sekitar area tersebut dapat memberikan gambaran mengenai kekuatan pemulihan, meskipun tetap dipengaruhi oleh kebijakan moneter Amerika Serikat, pergerakan mata uang, serta perubahan imbal hasil obligasi.
Di pasar domestik, harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk atau Antam diproyeksikan bergerak dalam rentang Rp2.420.000 hingga Rp2.680.000 per gram selama sepekan berikutnya. Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menilai emas Antam masih berisiko mengalami koreksi sebelum melanjutkan tren naik. Area support pertama berada di Rp2.554.000 per gram, sedangkan support kedua terletak pada Rp2.420.000 per gram. Dari sisi atas, resistance pertama diperkirakan Rp2.594.000 per gram dan resistance kedua Rp2.680.000 per gram. Level-level tersebut merupakan acuan pemantauan pergerakan harga, bukan rekomendasi investasi.
Pergerakan harga emas Antam pada pekan 28 September–3 Oktober 2026 berlangsung fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Secara akumulatif, harga tercatat turun Rp23.000 dan menutup perdagangan Sabtu di level Rp2.574.000 per gram. Pada saat yang sama, harga buyback Antam berada di Rp2.380.000 per gram, sehingga selisih harga jual dan harga pembelian kembali tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan investor.
Pada Senin, 28 September, harga emas Antam turun Rp16.000 menjadi Rp2.597.000 per gram. Pelemahan berlanjut pada Selasa, 29 September, ketika harga kembali terkoreksi Rp17.000 ke posisi Rp2.580.000 per gram. Pada Rabu, 30 September, pasar sempat menunjukkan pemulihan. Harga naik Rp15.000 menjadi Rp2.595.000 per gram, mencerminkan adanya penguatan permintaan setelah dua hari tekanan.
Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama. Pada Kamis, 1 Oktober, harga turun Rp14.000 menjadi Rp2.581.000 per gram. Koreksi berlanjut pada Jumat, 2 Oktober, dengan penurunan Rp5.000 ke level Rp2.576.000 per gram. Pada Sabtu, 3 Oktober, harga kembali turun Rp2.000 dan ditutup pada Rp2.574.000 per gram. Pada hari yang sama, harga buyback Antam juga turun Rp6.000 menjadi Rp2.380.000 per gram.
Rangkaian pergerakan tersebut menunjukkan bahwa emas Antam menghadapi tekanan jangka pendek pada akhir September hingga awal Oktober. Meski demikian, kinerja sejak awal tahun masih berada di wilayah positif. Dibandingkan harga awal Januari 2026 yang sebesar Rp2.488.000 per gram, harga penutupan Sabtu mencatat kenaikan 5,02 persen. Artinya, koreksi mingguan belum menghapus seluruh penguatan yang telah terbentuk sepanjang tahun.
Berikut daftar harga dasar emas Antam di Jakarta berdasarkan posisi pasar pada Sabtu, 3 Oktober 2026. Data ini menyajikan nilai logam mulia menurut ukuran pecahan, sehingga dapat digunakan sebagai acuan awal untuk membandingkan kebutuhan pembelian maupun memantau perubahan harga pada periode berikutnya.
Untuk pecahan terkecil, emas Antam ukuran 0,5 gram berada di harga Rp1.337.000. Ukuran 1 gram tercatat sebesar Rp2.574.000, sedangkan ukuran 2 gram dijual pada level Rp5.088.000. Selanjutnya, harga ukuran 3 gram mencapai Rp7.607.000 dan ukuran 5 gram berada di posisi Rp12.645.000.
Pada pecahan menengah, harga emas Antam ukuran 10 gram tercatat Rp25.235.000. Ukuran 25 gram berada di level Rp62.962.000, sementara ukuran 50 gram memiliki harga Rp125.845.000. Untuk pecahan 100 gram, nilai yang tercatat adalah Rp251.612.000.
Adapun pecahan berukuran besar menunjukkan harga sebagai berikut:
Ukuran 250 gram: Rp628.765.000.Ukuran 500 gram: Rp1.257.320.000.Ukuran 1.000 gram: Rp2.514.600.000.
Perbedaan nilai antarukuran mencerminkan jumlah emas dalam setiap produk dan menjadi dasar bagi investor atau calon pembeli dalam menyesuaikan transaksi dengan kemampuan dana serta tujuan kepemilikan. Harga pada tanggal tersebut merupakan posisi acuan di Jakarta dan dapat berubah mengikuti pergerakan harga emas global, nilai tukar, kondisi pasar, serta kebijakan penetapan harga dari produsen.
Informasi ini merupakan ikhtisar pasar komoditas, proyeksi teknikal, dan perkembangan harga logam mulia. Kinerja masa lalu tidak menjamin pergerakan harga berikutnya. Oleh karena itu, data tersebut bukan rekomendasi investasi dan sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya dasar dalam mengambil keputusan transaksi.







