MAKASSAR, SULAWESI SELATAN — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 4 Oktober 2026, Pemantauan BMKG Wilayah IV Makassar menunjukkan kualitas udara di Kota Makassar, Kabupaten Maros, dan wilayah sekitarnya berada pada kategori kurang sehat hingga sedang. Penilaian tersebut mengacu pada konsentrasi partikulat halus atau PM2,5 yang terukur di udara. Partikel berukuran sangat kecil ini dapat masuk ke saluran pernapasan, terutama ketika konsentrasinya meningkat dan kondisi atmosfer tidak mendukung penyebaran polutan.
Prakirawan BMKG Makassar, Asriani Idrus, mengatakan pada Minggu (4/10) bahwa kondisi kualitas udara tersebut diduga berkaitan dengan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan. Asap itu diperkirakan terbawa oleh pergerakan angin menuju wilayah Sulawesi Selatan. Pengaruhnya dapat terlihat dari peningkatan partikulat di sejumlah daerah, meskipun tingkat pencemaran dapat berubah mengikuti arah angin, kecepatan angin, serta kondisi atmosfer.
Menurut pemantauan BMKG, kualitas udara cenderung memburuk sejak malam hingga tengah malam dan berlanjut pada pagi atau dini hari. Pada periode tersebut, partikel polutan lebih mudah terakumulasi di dekat permukaan karena kondisi udara relatif stabil. Akibatnya, konsentrasi PM2,5 dapat meningkat dan membuat kategori kualitas udara berubah menjadi kurang sehat hingga sedang.
Kondisi tersebut sempat terpantau hingga sekitar pukul 11. Setelah itu, kualitas udara biasanya mulai membaik pada sekitar pukul 12 dan terus berangsur lebih baik hingga siang atau sore. Perubahan ini berkaitan dengan meningkatnya pergerakan dan pencampuran udara pada siang hari, sehingga asap serta partikulat lebih mudah tersebar. Meski demikian, masyarakat tetap perlu memperhatikan informasi kualitas udara, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, serta orang dengan gangguan pernapasan.
BMKG mengaitkan peningkatan konsentrasi PM2,5 di Makassar dan sejumlah wilayah Sulawesi Selatan dengan pergerakan massa udara yang membawa partikel asap dari daerah lain. Dasar analisis tersebut adalah pola arah angin yang terpantau dalam beberapa waktu terakhir. Ketika angin bergerak dari barat hingga barat laut, asap dari kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan berpotensi terdorong melintasi perairan menuju Sulawesi Selatan.
Arah angin menjadi petunjuk penting karena partikel berukuran sangat kecil seperti PM2,5 dapat terbawa dalam jarak jauh, terutama ketika kondisi atmosfer mendukung penyebarannya. Berdasarkan pemantauan BMKG, angin di wilayah tersebut umumnya bertiup dari sektor barat. Pola ini memperkuat dugaan bahwa asap karhutla dari Kalimantan bergerak menuju wilayah Sulawesi Selatan dan kemudian memengaruhi kualitas udara di Makassar. Meski demikian, hubungan tersebut tetap didasarkan pada analisis cuaca dan pola sebaran, sehingga pemantauan berkelanjutan diperlukan.
Selain dari Kalimantan, sumber asap juga dapat berasal dari kawasan timur Indonesia. Apabila angin dominan bertiup dari arah timur, partikel karhutla dari Papua dan Maluku berpotensi terbawa menuju Sulawesi Selatan. Perubahan arah angin dapat menyebabkan sumber dan jalur penyebaran asap berbeda dari waktu ke waktu. Karena itu, informasi mengenai kondisi angin menjadi bagian penting dalam membaca perubahan konsentrasi PM2,5, selain data satelit dan pengukuran kualitas udara di permukaan.
BMKG belum menilai kendaraan bermotor sebagai faktor dominan dalam peningkatan partikel yang terpantau. Kondisi asap kendaraan disebut masih berada dalam pola normal, sedangkan kenaikan PM2,5 dinilai lebih berkaitan dengan masuknya asap kebakaran hutan dan lahan. Kesimpulan ini tidak berarti emisi transportasi dapat diabaikan, tetapi menunjukkan bahwa sumber utama pada periode tersebut diduga berasal dari luar Sulawesi Selatan. Masyarakat tetap perlu mengikuti pembaruan kualitas udara dan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika konsentrasi partikel meningkat.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) masih melakukan pemantauan lanjutan terhadap titik panas atau hotspot yang terdeteksi di sejumlah wilayah Kalimantan. Pemantauan tersebut diperlukan karena aktivitas kebakaran hutan dan lahan di wilayah itu belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Berdasarkan keterangan Asriani, jumlah hotspot yang terpantau masih cukup banyak, sehingga potensi munculnya asap dari Kalimantan tetap perlu diperhatikan.
Kondisi hotspot yang masih kuat menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi pergerakan asap ke wilayah lain. Asap hasil kebakaran dapat terbawa oleh arah dan kecepatan angin, termasuk menuju Sulawesi Selatan. Dengan demikian, kemungkinan adanya kiriman asap menuju Sulawesi Selatan dalam beberapa hari ke depan masih terbuka. Pemantauan terhadap perkembangan titik panas dan kondisi atmosfer terus menjadi dasar untuk melihat perubahan situasi tersebut.
Asriani menjelaskan bahwa belum meredanya hotspot di Kalimantan membuat peluang terbawanya asap menuju Sulawesi Selatan masih ada. Pernyataan ini menunjukkan bahwa potensi gangguan terhadap kualitas udara belum sepenuhnya berakhir. Apabila titik panas tetap bertahan dalam jumlah yang cukup banyak, asap dari sumber kebakaran dapat kembali bergerak mengikuti pola angin dan berpengaruh terhadap kondisi udara di wilayah tujuan.
Oleh karena itu, memburuknya kualitas udara di Sulawesi Selatan masih berpotensi berlanjut seiring pemantauan terhadap hotspot Kalimantan. Situasi tersebut tidak hanya berkaitan dengan kondisi titik panas saat ini, tetapi juga dengan kemungkinan asap terbawa angin pada periode berikutnya. BMKG masih mencermati perkembangan hotspot serta arah pergerakan angin untuk memahami kemungkinan kiriman asap selanjutnya. Selama titik panas di Kalimantan belum menunjukkan penurunan yang berarti, potensi asap menuju Sulawesi Selatan tetap menjadi perhatian.
Cuaca panas yang dirasakan masyarakat Makassar dan sejumlah wilayah di Sulawesi Selatan perlu dibedakan dari persoalan kualitas udara. Suhu tinggi tidak secara otomatis menunjukkan adanya penurunan kualitas udara akibat asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan kondisi panas yang terjadi masih tergolong normal karena Sulawesi Selatan sedang berada dalam periode musim kemarau.
Pada periode tersebut, suhu udara di berbagai wilayah Sulawesi Selatan berada pada kisaran 30–35 derajat Celsius. Kondisi langit yang lebih cerah dan berkurangnya tutupan awan selama musim kemarau membuat radiasi matahari lebih banyak mencapai permukaan bumi. Situasi ini dapat menyebabkan masyarakat merasakan panas yang cukup menyengat, terutama pada siang hingga sore hari.
Namun, suhu yang dirasakan tubuh dapat lebih tinggi daripada angka suhu udara yang tercatat oleh alat pengamatan. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh indeks panas atau heat index, yaitu ukuran yang memperhitungkan gabungan suhu udara dan kelembapan. Dalam penjelasannya, tingkat panas yang dirasakan juga dapat dipengaruhi oleh arah angin serta radiasi matahari yang diterima tubuh.
Karena itu, angka suhu 30–35 derajat Celsius belum sepenuhnya menggambarkan sensasi panas yang dialami masyarakat di luar ruangan. Kelembapan yang tinggi dapat menghambat penguapan keringat, sementara angin yang lemah dan paparan langsung sinar matahari dapat meningkatkan beban panas pada tubuh. Faktor-faktor tersebut membuat sensasi panas berbeda satu lokasi dan lokasi lainnya, meskipun suhu udaranya berada dalam rentang yang sama.
Asriani menjelaskan bahwa rasa panas yang muncul merupakan respons tubuh terhadap tekanan panas dari lingkungan. Respons tersebut berkaitan dengan upaya tubuh mempertahankan suhu internal ketika menerima paparan panas dari udara, sinar matahari, dan kondisi sekitar.






